Aku mau hilang.
Hilang dari keramaian.
Ya ini aku, ini memang diriku.
Tapi aku ingin kembali mengulangi sebuah kenangan.
Kenangan pergi menghilang dengan sesorang yang hanya baru sedetik aku kenal. Kemudian mengarungi waktu dan bertemu dengan orang-orang asing lainnya.
Kami hanya sekumpulan orang asing yang hanya memiliki satu kesamaan yang kentara, mencintai alam. Sehingga senyum dan canda pun secara alami dapat menyebar merasuki jiwa-jiwa yang hilang.
Saat aku melewati kenangan-kenangan itu, aku tenang, aku sangat berdamai dengan hidupku di kala itu.
Walau sering kali aku diam karena tidak mungkin aku memperlakukan orang-orang asing ini sama dengan teman-temanku di keramaian.
Aku lebih memilih banyak diam dan membuat diriku yang tidak peka ini lebih peka dengan lingkungan sekitar.
Aku lebih memilih banyak diam karena aku ingin menikmati moment ini dengan syahdu setiap detik nya.
Setiap kenangannya.
Setiap gambaran yang terrefleksi menuju kornea ku.
Menikmati karya-karya Tuhan yang memukau penuh kesempurnaan.
Terkadang terlintas, “yang mana aku yang sebenarnya?”
Tapi kala aku menghilang, aku tak peduli.
Tak peduli apa tuduhan orang terhadapku, aku hanya melakukan semua yang kusuka. Tanpa beban, bahwa sesungguhnya banyak amanah yang terlalaikan.
Aku memang naif, aku memang egois.
Tapi tidakkah aku bisa menjadi manusia yang seperti itu untuk beberapa waktu?
Aku yang egois itu mungkin hanya bisa ditemukan dalam satu dasawarsa, bukan setiap hari kan?
Ataukah aku harus berusaha menjadi orang yang suci sepanjang waktu?
Aku hanya manusia, hey kalian yang juga manusia.
Tuduh aku sesukamu!
Karena aku hanya sedang hilang!

-AghniaFasza-

Advertisements