Tags

“Hari ini mau kemana? Bebas kemana aja? Kita kemping yuk? Di Gunung Api Purba Nglanggeran, udah lama pengen kesana tapi belum sempet-sempet aja.”

Tanpa pikir panjang aku mengiyakan ajakanmu. Walau sempat terlintas di benakku, “kita kemping berdua aja?”
Tapi hati kecilku sedari dulu selalu meyakinkan, kamu orang baik, kamu pasti bisa menjagaku dengan baik.

Jam 3 tepat kamu berjanji untuk menjemputku di rumah saudaramu. Tapi, langit biru dan mentari cerah siang itu tiba-tiba diselaputi oleh awan hitam yang tanpa diduga menurunkan ribuan titik-titik air hujan. Deras.

“Hujan. Tapi tetap semangat ya. :)”

Tentu saja aku tetap semangat. Sejak kapan aku tidak pernah semangat untuk berpetualang? Untuk mendatangi tempat-tempat baru dan menantang diri untuk bersusah payah menggapai tempat tujuan. Semangatku tidak pernah dan tidak akan surut.

Jam tiga lewat. Kamu bilang sebentar lagi menuju tempatku. Tak lama kamu datang. Ada rasa lain dihatiku kala itu. Bukan, bukan rasa tentang kamu. Hanya saja, tiba-tiba hati ini diselubungi rasa canggung dan waspada. Tapi lagi-lagi hati kecilku meyakini, kamu orang baik. Kita sama-sama hidup di jalan, sikapmu tidak akan mengecewakan. Kuharap.

Diperjalanan kita bertemu satu orang temanmu, dan segera menuju daerang Gunung Kidul, Nglanggeran. Cuaca saat itu, mendung. Tapi kami bertiga tetap penuh harap, langit cerah akan menemani kami terus selama perjalanan menuju puncak.

Langkah pertama kami di Gunung Api Purba dimulai di jam 5 sore ini. Masih bertenaga dan penuh keceriaan. Sampai keceriaan itu terenggut oleh keras dan terjalnya perjalanan menuju puncak. Hahahaha. Efek usia katanya. :p

Tibalah kami di puncak sekitar jam 6 lewat, bersama 9 orang pendaki lain yang kami temui dalam perjalanan. Masih belum puncak, masih sedikit lagi. Tapi kami memutuskan untuk mendirikan tenda di tanah lapang yang dikelilingi pepohonan itu dan berencana menuju puncak esok pagi, saat matahari terbit di ufuk timur.

Berdua kita duduk di batu tepian bukit, memandangi cahaya-cahaya lampu kota sambil membicarakan hal yang tak tentu. Sampai akhirnya kabut menutupi semuanya. Menutupi pandangan kita pada cahaya kota, langit malam, serta bulan. Semuanya gelap, kita pun menjadi buta, entah apa yang ada dibalik kabut tebal itu. Sama seperti hati kita yang berkabut. Kita sama-sama tidak tahu, apa yang ada dibaliknya. Hanya terus saling menebar senyum dan merajut kata, hingga naluri merasa terikat, padahal nurani masih terus bebas, berkeliaran mencari hal yang nyata, mencari kebenaran.

Pagi masih lama. Banyak waktu tersisa. Manusia-manusia pencari ketenangan mulai terlelap satu persatu. Hingga yang tersisa hanya aku, kamu, dan dia. Bertiga kita menatap lekat hampanya malam, menunggu pagi. Menunggu mentari mencuatkan sinar hangatnya. Menghabiskan waktu dengan melontar berjuta kata-kata tanpa lelah.

-AghniaFasza-

Advertisements