Tags

,

Cuplikan imaji yang akan selalu melekat selama aku disini, bersamamu.

Dari bimbangnya tujuan antara Goa Pindul dan Air Terjun Sri Gethuk, yang akhirnya melewati perjalanan runyam karena akses jalan yang masih buruk menuju air terjun melewati daerah Wonosari.

Hijaunya sungai di Air Terjun Sri Gethuk, juga mengingatkanku pada keindahan alam di Green Canyon. Perjalanan ke puncak air terjun, hingga penjelajahan di air terjun yang pada akhirnya kita menemukan air terjun kecil yang tersembunyi dan sangat indah. Sayang hanya terekam dalam memori, tidak diabadikan karena sang kamera tidak anti air. :(

Pertemuan singkat dengan kawan lamamu. Putusnya sendal jepitku. Serta irinya aku pada mereka yang meloncat, berteriak dan berenang bebas mengarungi sungai hijau di Air Terjun Sri Gethuk.

Perjalanan panjang menuju Pantai Indrayanti. Menunggu senja untuk membangun tenda. Sibuknya dan sulitnya kita menyalakan api unggun, membakar ikan-ikan kakap sambil bercengkrama dengan malam. Gurauan klasik dan cabikan masa lalu menghiasi perbincangan malam itu. Tawa mesra yang kita bagi kala itu teredam deru ombak yang disaksikan bintang-bintang dan bulan yang kerap bersembunyi di balik awan.

Pagi yang indah saat wajahmu yang pertama kali kulihat saat aku membuka mata. Disambut pula oleh senyum dan sapaan lembutmu disertai bulan yang terlambat menghilang. Pemandangan pantai di pagi hari yang kita bagi, tangkapan wajah nakalmu tersimpan di kameraku, banyak. Walau terasa hanya sedikit. :)

Segelas es teh manis saat kita terbakar sengat matahari sebelum merapihkan tenda untuk bergegas pulang. Perjalanan yang penuh perjuangan karena lelah menahan rasa kantuk yang membuatmu melaju lebih kencang dari biasanya. Sampai kamu harus menahan dan mengejutkanku saat aku mulai terlelap dan kehilangan keseimbangan.

Teringat pula kopi yang diseduh di angkringan entah dimana hanya untuk menyegarkan mata dan menghilangkan kantuk. Sesampainya di Yogyakarta, di kotamu, aku kembali ke rumah pakdemu dan kamu kembali ke rumahmu. Sempat aku terdiam beberapa menit di depan rumah pakdemu, saat kamu beranjak pulang dan menghilang di belokan jalan. Entah apa yang kupikirkan kala itu.

Barang-barangku yang berserakan segera kurapikan dan kukemas rapi ke dalam ransel enam puluh literku. Aku siap, kembali pulang, meninggalkan kotamu. Walau ada sedikit rasa enggan dan keinginan untuk menetap disini. Tapi aku tidak bisa.

Sebentar lagi aku pergi, meninggalkan kota ini dan semua kenangan nya, juga kamu..

Temanku yang bilang akan menjemput terlambat, ketiduran katanya. Sampai aku berangkat meninggalkan rumah pakdem pun masih belum ada kabar darimu, pesan singkatku masih terabaikan.

Aku hanya sempat membeli beberapa kotak bakpia dan makan di angkringan dekat stasiun sampai menunggu waktu keberangkatanku tiba. Kamu masih tidak ada..

:'(

Sampai akhirnya, kamu terbangun. Aku tau kamu lelah, maaf. Kamu kelelahan karena selalu menemaniku kesana kemari selama disini, membuat kisah-kisah dan gambaran-gambaran indah untukku selama di kotamu. Aku mengerti, maaf. Tapi aku hanya ingin sedikit lagi berbagi, melihat ekspresi wajahmu dan bertukar kata tanpa canggung. Aku masih ingin bersamamu, maaf. Aku tau aku egois, memaksa tubuh lelahmu untuk tetap menemaniku sampai detik aku pulang, seperti saat kamu menyambutku di detik pertama aku menginjakan kaki di Jogja. Maaf..

Tapi..
Terima kasih.
:)

-AghniaFasza-

Advertisements