Tags

, , ,

Bagi saya, merasakan asingnya dunia luar; merasakan ketidaknyamanan hidup di jalanan dan jauh dari rumah; mengarungi samudera, menerjang badai, menjelajahi hutan rimba; dan menapaki setapak demi setapak rintangan, demi mengaktifkan hormon adrenalin agar mengalir deras keseluruh tubuh; melakukan perjalanan adalah candu.

Kecanduan akan melakukan perjalanan ini membuat saya selalu mencari celah untuk menghilang dari hiruk pikuk perkotaan serta rutinitas yang menjemukan, lalu tersesat di pelosok Indonesia dan terdampar pada rasa kagum dan rasa syukur telah terlahir di tanah surga, Indonesia.

Ditengah kesibukan aktifitas dan juga skripsi yang menjemukan, saya tergoda pada bujuk rayu seorang teman saya. Saya pun tanpa ragu segera melesat ke Kota Hujan, jaraknya hanya sekitar 2 jam dari Bandung. Dengan perbekalan minim dan serba mendadak, malam itu saya berangkat seorang diri menuju Bogor dengan menggunakan jasa travel. Jam 12 tepat saya tiba di Kota Hujan dan berhenti di daerah Jambu 2.

Tengah malam, gelap, teman saya yang berjanji menjemput entah dimana, karena saat saya menghubungi ponselnya, yang terdengar hanyalah nada sibuk. Sepi. Banyak tukang ojeg lalu lalang dihadapan saya menawarkan jasanya, dengan pede-nya saya pun menolak dengan nada santai padahal agak waswas juga. :p Akhirnya teman saya pun muncul dan kami langsung meluncur ke kosannya di bilangan Darmaga, kawasan kampus IPB. Sesampainya di kosan, saya pun langsung merebahkan tidur dan terlelap.

Ketika pagi tiba, teman saya mengajak sarapan di warung nasi dekat kosannya. Mata saya berbinar ketika membayar 3 lauk yang saya beli, totalnya hanya empat-ribu-lima-ratus-rupiah saja! Huah! Tentu girang dong, namanya juga traveler kere, makin murah biaya selama perjalanan makin bangga! :D

Siang hari barulah kami beranjak menuju Puncak. Teman saya mengajak ke Taman Matahari terlebih dahulu, saya yang tidak melakukan survey sama sekali mengiyakan saja ajakan dia, karena tujuan saya ke Bogor yang utama adalah trekking di Curug Cilember. Namun, teman saya merekomendasikan Taman Matahari terlebih dahulu, sekalian mumpung di Bogor katanya.

Sesampainya di Taman Matahari..

Krik krik. Saya bingung. Teman saya bingung. Dan kita pun bingung. Sejauh mata memandang di Taman Matahari ini hanyalah lautan manusia yang kebanyakan ibu-ibu dan bocah-bocah yang saling berteriak dan berloncatan kesana kemari. RICUH! :|

“Ini sih tempat wisata keluarga, katanya wisata alam?” seru saya pada teman saya.

Angan-angan saya yang membayangkan wisata alam pun runtuh seketika, teman saya pun bingung, karena terakhir dia mengunjungi Taman Matahari itu 6 tahun yang lalu. Hahaha. Tapi karena nasi sudah menjadi bubur, terlanjur udah disini juga, akhirnya kami berusaha menikmati saja “berwisata keluarga” di Taman Matahari ini.

well, not bad. walau harapan berbagi waktu dengan alam runtuh karena ‘nyasar’ ke tempat wisata keluarga, setidaknya masih bisa main sama harimau ganas ini. RAWWWWRRRRR~

niatnya ingin memacu adrenalin, eh malah memicu gelak tawa. X) tapi gapapa, lumayan ketemu air terjun, sungai, plus buayanya.. :p

Setelah berkeliling-keliling Taman Matahari dan berfoto-foto dengan ‘hewan liar’ yang unyu-unyu, karena sudah mati gaya dan gak tau lagi harus ngapain, kami pun langsung tancap gas menuju Curug Cilember! Yeah! :D

Sesampainya di Curug Cilember kami disuguhi vegetasi hutan yang masih rapat, masih alami, wuih surga! :D Curug Cilember ini memiliki & air terjun di ketinggian yang berbeda, jadi untuk mencapai curug-curug lainnya kita harus meluangkan sedikit tenaga dulu. Ada dua pilihan jalur ketika kami ingin memulai trekking, jalur biasa dan jungle trekking. Tentu saya dan teman saya yang sama-sama penikmat alam bebas memilih jungle trekking, selain karena jalur biasa pun lumayan penuh dengan wisatawan lain karena sedang musim liburan, yaa tapi ga seramai Taman Matahari sih. Hihi. Kami langkahkan setapak demi setapak untuk menuju setiap air terjun yang ada di Curug Cilember.

nanjak terus~ up up up! :D

Makin atas makin curam jalan setapak yang harus kami lalui, makin rapat dengan pepohonan yang rimbun dan sejuk, serta makin sepi dari keramaian karena kebanyakan wisatawan lain hanya mencapai Curug 5 saja, makin alami deh makin atas. :D Peluh pun bercucuran, dan dengan nafas tersengal-sengal akhirnya kami sampai di Curug 2, yihaaaa! Sambil beristirahat, kami menikmati kesejukan Curug 2 dan menghilangkan dahaga dengan meminum air dari Curug 2 tersebut. Hmm, segar.. Masih jernih karena posisinya dekat dengan sumber mata air dan masih murni.

Curug 2 Cilember

rasanya turun gunung nahan berat badan itu.. kata orang sunda sih, bikin tuur leklok bro! :p

Ketika kami ingin meneruskan perjalanan ke Curug 1, hari sudah mulai gelap. Kami pun memutuskan untuk menghentikan perjalanan dan kembali ke bawah, karena kami hanya berdua, tidak ada orang lain lagi selain kami disitu dan hutan pun semakin rapat dan semakin gelap dalam perjalanan menuju Curug 1.

Dalam perjalanan turun, kami berpapasan dengan banyak orang-orang timur tengah. Sampai-sampai para ibu-ibunya yang menggunakan jilbab dan cadar pun banyak yang trekking untuk menikmati keindahan Curug Cilember ini, walaupun dengan bersusah payah karena mereka menggunakan flat shoes yang licin kalau dipake nanjak. Kami pun heran, banyak sekali orang timur tengah di Cilember sore itu. Mungkin gara-gara di TimTeng gersang kali yaaa.. :p

Setelah sampai dibawah, kami langsung meluncur ke Puncak Pass untuk nyunset, alias berburu matahari terbenam. Karena kami sudah kelaparan, sebelum ke Puncak Pass kami memutuskan untuk makan dahulu di sekitaran Puncak Pass. Namun, ternyata matahari turun lebih cepat, jadi kami menikmati makanan sambil menikmati senja dengan pemandangan langit bertaburan manusia-manusia yang sedang ber-paralayang ataupun paragliding disitu. Indah. :’)

Senja di Puncak :) Di sudut Indonesia mana pun, senja selalu indah dan menenangkan untuk dinikmati. :’)

Setelah lembayung habis berganti terang bulan, kami beranjak ke Puncak Pass, tapi cuma lewat doang, karena Puncak Pass waktu itu penuh. Walau ga jadi ke Puncak Pass, tapi semua terbayar dengan keindahan sunset sambil makan tadi. :D

Setelah itu, kami meluncur ke Mesjid At-Tawa’aun untuk menjalankan Shalat Magrib. Mesjid ini merupakan mesjid agung di Puncak yang memiliki arsitektur yang indah, mesjid ini menjadi salah satu tujuan wisata juga di puncak. Namun sayangnya, banyak disalahgunakan oleh banyak anak muda ibukota yang pacaran di pelataran mesjid. Daripada pacaran di mesjid mending pacaran di Curug Cilember aja tuh, dibalik hutan lebat ga ada yang liat. *loh* :p

Setelah itu, kami menuju Bogor dan nongkrong di kawasan gaulnya Bogor, Mancur. Tenyata eh ternyata, disebut Mancur karena di jalan situ ada air mancur di seberang jalan, ahahaha. Tapi katanya, kawasan ini kalau malam minggu penuh banget sama anak muda yang nongkrong sambil ngopi-ngopi. Malam itu kita nongkrong di warung susu jahe yang paling beken, sambil menikmati gorengan dengan saus kacang pedas yang nikmat. SLURP! Jam 12 malam, layaknya Cinderella, akhirnya kami pulang ke kosan dan langsung beristirahat karena kelelahan telah mengarungi seperbagian Bogor seharian. :D

Keesokan harinya, saya diajak keliling Bogor dulu sebelum pulang oleh teman saya. Setelah puas berkeliling, saya diantar ke Terminal Bis Baranangsiang dan bersiap meninggalkan Bogor. Tepat jam 12 siang bis MGI Bogor-Bandung pun melaju dari terminal, meninggalkan Kota Hujan ini. HIKS! Masih banyak tempat yang belum dikunjungi di Bogor udah harus pulang, tapi yaa lumayan, lumayan menyegarkan pikiran dan menyuntikan semangat-semangat baru buat ngejalanin rutinitas selanjutnya. Walau hanya 36 jam, tapi cukup menyenangkan dan. Tunggu yaa Bogor, saya pasti kembali lagi. Denger-denger Curug Bunder ga kalah alaminya sama Curug Cilember. Dududududu~ :D

Advertisements