Tags

Suhu Bandung malam ini cukup tinggi, bahkan suhu tubuhku bertambah tinggi ketika aku menghadapi layar kotak bergambar kamu di Jogja, sambil melayangkan tubuhku diatas matras panas untuk terapi Nenekku. Tapi badanku kering, sama sekali tidak berkeringat. Hanya mataku saja yang penuh keringat, tanpa bisa disejukkan walau pendingin kamar telah mencapai derajat ke enam belas, suhu terdingin yang ia bisa ciptakan.

Aku tak pernah tau, bahwa aku berjalan dengan kehampaan. Aku pikir aku telah berjalan bersama segenggam kepercayaanmu.

Berkali-kali aku terhenyak, memutar ulang kenangan, apakah aku terlalu erat menggenggamnya? Sehingga semuanya terbuang layaknya pasir yang mengalir kencang jika terlalu digenggam. Namun aku tidak menemukan, di lembaran kenangan yang mana aku menggenggam terlalu kencang.

Mungkinkah aku sebenarnya tidak sama sekali menggenggamnya? Sehingga butir-butir kepercayaanmu itu terbang terbawa angin, dan menari bebas bersama debu-debu yang melebur di udara. Entahlah, aku tak mengerti, aku ingin mencoba mengerti, namun kacamataku terlalu buram tertutup embun, sehingga aku tidak bisa melihat jelas apa  yang sebenarnya terjadi.

Aku rabun. Hanya bisa meraba.

Meraba kita yang ternyata sama sekali tidak memiliki fondasi utama dari sebuah hubungan. Oh, bukan tidak, mungkin belum. Tapi yang pasti saat ini, kita rapuh, mudah hancur, karena kita pincang. Hanya ada aku yang menopang di utara, tanpa kamu menopang di selatan.

Mungkin aku sanggup menopangnya seorang diri, tapi untuk apa? Haha.

Ya.. Untuk apa? :)

Hanya untuk satu rasa yang kuyakini? Hanya untuk satu angan yang hanya berpedoman asa tanpa upaya?

Mungkin ini cuma mimpi.

Esok pagi pasti kudapatkan kembali kamu menyapa pagiku dengan mesra.

Pasti. (?)

Advertisements