Tags

Siapa yang ga kenal Jogja? Daerah Istimewa yang letaknya di selatan Jawa Tengah ini memiliki berbagai macam keindahan yang mengagumkan. Dari wisata alamnya, budaya, sejarah, sampai berbagai macam universitas pun berdiri disini, sehingga Jogja mendapat julukan sebagai Kota Pelajar. Sedihnya, ternyata saya hanya baru menelusuri sepersekian persen keindahan dari Newyorkarto ini. Tapi justru hal itu bikin saya ingin kembali lagi dan lagi ke Yogyakarta, kota dengan julukan Never Ending Asia yang sampai dibuatkan lagunya oleh musisi Kla Project, bahkan lagu Jogja Istimewa yang dibawakan Jogja Hiphop Foundation sampai terkenal di belahan bumi bagian barat sana. Wuidih..

Tugu Jogja

Jadi, beginilah kisah istimewa saya di Daerah Istimewa Yogyakarta..

Pertama kali saya ke Jogja? 1997.

Wisuda om saya, adik ayah saya yang paling bungsu di Universitas Gadjah Mada. Saya yang waktu itu masih unyu unyu belum tau apa-apa tentang kota asing itu, Cuma ikut orang tua aja. Jadi, objek wisata yang kami kunjungi waktu itu hanyalah Candi Borobudur, itupun cukup bikin ibu saya kapok menuju puncak Borobudur. Hahaha.

Jogja 1997. Masih bocah dan belum terkontaminasi racun dunia. :p

2004. Saat saya menduduki bangku kelas 2 SMP, saya kembali mengunjungi Kota Pelajar ini. Bersama teman-teman sekolah saya dalam rangka study tour sekolah. Kali ini saya kembali mengunjungi Candi Borobudur. Yang membedakan kunjungan saya ke Borobudur kali ini dengan saat 1997 saya kemari adalah.. Tangan saya kini bisa saling menggapai tangan teman saya di stupa Candi Borobudur. Yeay! :D Objek wisata lainnya yang saya kunjungi kali ini adalah Pantai Parang Tritis. Rasanya saat itu girang sekali mengunjungi pantai ini bersama teman-teman, karena pada saat itu pantai yang pernah saya kunjungi hanyalah Pangandaran dan Anyer. Masih ABG yang lagi senang-senangnya dengan kehidupan sosial, jadi belum berkelana mencari jati diri kesana kemari. :p

Saya kembali lagi ke Yogyakarta pada tahun 2007. Libur semester saat menduduki bangku kelas 2 SMA. Kali ini sedikit berbeda, saya sudah mulai kecanduaan dengan adrenalin saat berpetualang dan bercengkrama dengan alam. Perjalanan kali ini bukan bersama teman-teman manja dengan fasilitas mewah dan nyaman seperti saat study tour 3 tahun yang lalu. Perjalanan kali ini, saya telah lebih banyak mempelajari tentang manajemen perjalanan, tentang alam dan lingkungan, tentang keindahan Indonesia, perjalanan kali ini bersama saya yang telah tumbuh dan berkembang. Saya telah berubah menjadi seorang anak muda yang melakukan perjalanan bukan hanya mencari kesenangan hidup semata, tapi untuk belajar lebih banyak lagi tentang kehidupan di luar sana. Untuk merasakan rasanya jauh dari rumah, sehingga saya tau rasanya merindukan dan ingin segera kembali ke rumah.

Kali ini tujuan saya dan teman-teman saya adalah menelusuri Gua Cerme yang tersohor sebagai saksi sejarah pada zaman walisongo dulu. Saya dan Tim Gua Cerme (ceilah) melakukan perjalanan dengan motor dari Bandung, jadinya yaa lumayan deh badan jadi macho. :p

Gua Cerme terletak di Dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul ini, atau 20 km di selatan Jogja, merupakan gua peninggalan sejarah. Gua Cerme memiliki panjang 1,5 km yang tembus hingga sendang di wilayah Panggang, Desa Ploso, Giritirto, Kabupaten Gunungkidul. Untuk mencapai Gua Cerme, terdapat tangga setinggi 759 m. Kata cerme sendiri berasal dari kata ceramah yang biasa dilakukan oleh walisongo dan digunakan untuk menyebarkan agama Islam. Daya Goa Cerme adalah keindahan stalagtit dan stalagmit serta adanya sungai bawah tanah dan banyaknya kelelawar berkeliaran di dalam gua. Lantai goa digenangi oleh air tanah dengan rata rata kedalaman air sekitar 1 hingga 1,5 meter, sehingga jika kita berjalan disini harus berhati-hati. Goa ini terdiri dari banyak ruangan, seperti panggung pertemuan, kahyangan, grojogan sewu, air penguripan, gamelan, lumbung padi, gedung sekakap, kraton, goa lawa dan watu gantung.

2010. Ketika saya telah menyandang status mahasiswa, mahasiswa tingkat 2 yang sedang melewati masa libur panjang perkuliahan. Saya kembali lagi ke daerah istimewa ini, Yogyakarta. Kali ini saya dan dua orang teman saya berniat mengunjungi teman SMP kami yang sedang hamil muda di Jogja. Men! Sampai saya nulis sekarang pun masih belum tau kapan nikah, eh dia 2 tahun yang lalu udah hamil aja. Ahaha.

sebelum berangkat, mejeng dulu depan kereta. :p

Dalam kesempatan kali ini saya megunjungi Candi Prambanan, Cokelat Monggo, Alun-alun Kidul, dan lain-lain, tapi yang paling spektakuler itu Pantai Wediombo! Uyeeeeee~ Pantai Wediombo ini bisa dicapai dengan menempuh perjalanan selama 2 jam dari kota Jogja. Saat saya dan teman-teman mengunjungi pantai ini, tidak ada satu orang pun yang berada di pantai, CUMA KITA! Bener-bener private beach deh. :D

Keunikan Wediombo dibanding pantai-pantai lain adalah saat kita menuruni anak tangga untuk menuju pantai, dapat terlihat cakrawala Samudera Hindia yang biru membentang dengan hamparan pasir putih yang menciptakan harmoni selaras. kalau biasanya main di pantai itu panas-panasan, kalau di Wediombo ini adem banget, karena pepohonan rimbun terdapat di seluruh tepian pantai. Pantai Wediombo ini juga terkenal bagi para pecinta kegiatan memancing, karena kita bisa mendapatkan ikan cucut, ikan tenggiri, ikan kakap batu yang besar dengan memancing di puncak karang dengan tantangan mancing bareng ombak ganas di puncak karang. :D

2012. Tahun ini, berkali-kali saya mengunjungi kota ini. Bahkan bulan depan saya berencana mengunjunginya lagi dan lagi. Ke Jogja melulu, ga bosen apa? Bosen kalau yang dikunjunginya itu itu aja, tapi setiap kunjungan destinasinya berbeda-beda, itupun belum semua wilayah terjelajahi. Ngapain aja sih? :)

Januari 2012. Terpilih menjadi salah satu Liason Officer dari Bandung untuk Nation Building 2011 di Semarang merupakan hal yang sangat menggembirakan. Bagaimana tidak? Banyak yang ingin mendapatkan tanggung jawab tersebut, karena dapat bertemu lagi dengat keramahan Kota Semarang serta merasakan kembali euphoria Silaturahmi Nasional Beswan Djarum yang merindukan. :’) Terlebih tahun ini, ada bonus bagi para LO. Yak! Pembubaran LO Nation Building di Jogja! Woohoo! Jalan-jalan lagi. :D Kami semua menginap di LPP Garden, dekat Ambarukmo Plaza. Tujuan utama kami adalah rafting, mengarungi jeram-jeram Sungai Elo di Magelang. Selain itu, tentu kami sangat gembira karena dapat berkumpul lagi dan bercanda riang bersama keluarga Beswan Djarum Indonesia angkatan 26, walaupun hanya sebagian.

Rafting di Sungai Elo, Magelang bareng @BeswanDjarum :D

Kali ini walaupun tidak begitu menjelajahi Jogja, namun terbayar dengan petualangan para LO Bandung di seputaran UGM setibanya kami di Jogja. Kami berkelana dari stasiun hingga kampus UGM hanya untuk mencari SGPC alias Sego Pecel yang terkenal itu loh. Andy dengan keukeuh-nya inget SGPC itu di dekat kampus FEB, namun sepanjang kami menerjang teriknya matahari di sepnjang jalan UGM tetep ga ketemu sama SGPC. Akhirnya, saya pun menghubungi teman saya yang kuliah di UGM, ternyata kita memang salah jalan dan malah berputar-puta tak tentu arah, pantes aja ga ketemu-ketemu. :|

LO Bandung di UGM :D

Maret 2012. This is an visit by accident. :p Kenapa kecelakaan? Saya waktu itu berniat berpetualang ke Kepulauan Karimun Jawa di utara Kota Jepara. Namun, karena ter’deportasi’ dari Jepara, akhirnya saya dan tim perjalanan terdampar di Jogja Istimewa ini. :p Selengkapnya tentang ‘kecelakaan’ ini bisa dibaca disini. :)

Juni 2012. Jogja kali ini judulnya Camping Trip! :D Dari malam pertama hingga terakhir di Yogyakarta saya habiskan dengan berkemah. Tujuan awal saya adalah menjadi peserta Java Summer Camp, sebuah kemping yang diadakan oleh Disbudpar Sleman dalam misi kebudayaan. Namun, saya yang memiliki misi untuk menapaki setiap jengkal tanah di Indonesia ini, pastinya tidak membuang kesempatan untuk melipir ke tempat lain di seputaran Jogja dong. Jadi, walaupun terhitung hanya seminggu saya di Jogja, tapi kali ini saya menjelajahi sudut-sudut keindahan baru di Jogja yang belum pernah saya ketahui sebelumnya.

Perjalanan kali ini sungguh mendebarkan dan memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Selain karena melakukan perjalanan sendirian, di perjalananan ini merupakan kali pertama saya ber-CouchSurfing ria. Agak dagdigdug juga ngebayangin, gimana yaa orang yang ngasih tempat tinggal buat saya? Baik ngga yaa? Well, itu ngasih pengalaman baru tersendiri. :D Btw, apa tuh CouchSurfing? Klik aja link nya kakak. :D Disitu ada penjelasan dasar dari saya mengenai CouchSurfing. :)

Sesampainya di Jogja saya langsung menuju rumah teman CouchSurfing saya yang memberikan saya tempat tinggal selama di Jogja. Walau awalnya diliputi rasa gak enak karena udah ngeganggu subuh-subuh, tapi karena cape juga di perjalanan akhirnya terlelap juga, hihi.

Hari pertama di Jogja saya diajak untuk trekking dan berkemah di Gunung Api Purba, Nglanggeran, Gunung Kidul. Saya sebenernya aneh dengan namanya, karena sama sekali belum pernah mendengar keberadaan gunung ini di Jogja. Tapi dasar saya yang terlalu easy going, alias diajak main gampang pergi,  jadi deh tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan. Gunung Api Purba ini terletak di kawasan Nglanggeran, sekitar satu jam dari Kota Jogja dengan menggunakan sepeda motor. Gunung ini pun sudah termasuk kawasan ekowisata di Nglanggeran dan sudah terorganisir juga oleh masyarakat sekitar untuk pengelolaannya.

Perjalanan menuju Nglanggeran

Perjalanan menuju puncak Gunung Api Purba dimulai pada pukul 4 sore, saya dan dua orang teman lainnya mengagumi keunikan gunung ini. Track gunung ini cukup curam dan kebanyakan diapit oleh bebatuan besar, bahkan disini ada satu track yang mirip banget sama setting-nya 127 hours! Jalan sempit yang diapit tebing tinggi, bahkan di ujung jalan sempit itu ada satu batu besar yang nyangkut diatsanya, jadi kita harus agak ngolong buat ngelewatin batu itu, jadi makin parno dan makin kebayang sama 127 hours banget! Sayangnya karena ngos-ngosan dan kalau diberhentiin dulu malah makin kerasa cape, ga ada yang mau berhenti buat foto disitu deh, padahal keren banget, haha.

Istirahat dulu di setengah perjalanan menuju puncak Gunung Api Purba :D

Sesampainya di puncak kabut tebal pun turun dan ga pergi-pergi sampai pagi. :( Niat melewati malam penuh bintang pun ga kesampean. Saat kami berburu sunrise pun begitu, cahaya matahari sudah mencuat dibalik awan, tapi kabut tebalnya tetep gamau pergi. :( Jadi deh cuma bengong di puncak sambil berharap di depan mata itu ada matahari terbit, bukan kabut tebal putih yang menutupi pandangan, saking tebalnya jarak pandang pun hanya sekitar 5 meter!

Tapi.. seketika angin kencang pun berhembus. Dan wuuuuuuuusssssss.. Kabut pun tersapu oleh angin dan.. Cengo. Takjub. Nganga. Melotot. Subhanallah, keren banget! Saat kabut putih tersapu langsung muncul sebuah puncak gunung yang sejajar dengan kita, gunung batu yang hijau, bener-bener bukti kalau jaman dulu ini tuh gunung api, subur! Setelah semua kabut pergi, ternyata yang dihadapan kita itu lembahan yang misahin Gunung Api Purba dan gunung diseberangnya, katanya sih itu masih bagian dari Gunung Api Purba juga. Ajaibnya, diantara curamnya bebatuan hijau yang subur itu, kita melihat banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah terlihat bungkuk sedang menaiki gunung tersebut sambil memanggul tempat untuk menaruh rumput. Jadi malu sendiri, yang muda gini aja ngos-ngosan, eh mereka tangguh banget. Haha.

Puncak Gunung Api Purba, Nglanggeran

Setelah ber-sunrise ria, kita pun langsung turun gunung dengan jalur yang berbeda, tentunya dengan waktu tempuh yang lebih cepat daripada pas nanjak. :p Sesampainya di Jogja, kami langsung beristirahat dan malamnya kami menikmati malam di Bukit Bintang Jogja. Namun, karena saya orang Bandung yang banyak memiliki tempat-tempat tinggi yang asik buat nongkrong sambil nikmatin bintang-bintang dan citylight, jadi Bukit Bintang terasa biasa saja, tapi tetep keren sih walau kurang udara sejuk dikit. :p

Keesokannya saya langsung mengikuti kegiatan Java Summer Camp, lengkapnya tentang Java Summer Camp Klik di Java Summer Camp aja yaa. :) Lewat Java Summer Camp pun saya menemukan banyak teman baru dan tentu wawasan baru tentang kebudayaan Indonesia. Tentunya juga, lewat Java Summer Camp saya jadi mengunjungi banyak tempat baru di Yogyakarta, seperti Desa Wisata Pentingsari, Desa Umbulharjo di Kaliadem kaki Gunung Merapi, Museum Gunung Merapi, Candi di tengah kampus UII, dan lainnya.

Rama Shinta Camping Ground, Candi Prambanan – Java Summer Camp 2012

Sepulang dari Java Summer Camp yang berlangsung selama 3 hari, teman CouchSurfing saya mengajak kemping (lagi) di Pantai Indrayanti yang lagi happening itu. Sebelum menuju Pantai Indrayanti, saya diculik dulu ke Air Terjun Sri Gethuk. Karena baru pernah denger namanya, tanpa basa-basi saya langsung mengiyakan, hahaha. Akses jalan menuju Sri Gethuk masih jelek, padahal sudah lumayan banyak yang mengunjungi air terjun itu.

Untuk mencapai air terjun Sri Gethuk, kita harus menyeberangi sungai yang berwarna hijau seperti di Green Canyon, Cijulang, Pangandaran, menggunakan rakit motor selama kurang lebih 5 menit. Sesampainya di Sri Gethuk, naluri manjat saya pun muncul karena melihat bebatuan dibalik aliran air terjun. Saya pun memanjat hingga dalam, tentunya bukan dibalik air terjun yang besarnya, itu sih deres banget! Hahaha. Ada spot yang bagus saat menelusuri Air Terjun Sri Gethuk, sayang tidak terdokumentasikan karena kamera tidak anti air, hiks. jadi kalau mau tau keindahannya, coba jelajahi sendiri yaa.. :D

Perjalanan menuju Air Terjun Sri Gethuk dengan rakit motor

Setelah selesai menikmati Air Terjun Sri Gethuk, kami langsung meluncur ke Pantai Indrayanti. Cerita selengkapnya tentang Pantai Indrayanti klik di Pantai Indrayanti aja yaa.. ;)

pagi di Indrayanti dari dalam tenda

Selanjutnya? Oktober 2012.

Saya bersama Hitchhiker Indonesia berencana mengikuti Borobudur Hitchhike Race pada bulan Oktober mendatang. Yak! Berlomba siapa cepat mencapai Borobudur dengan HitchHiking! Woohoo! Pasti menyenangkan. :D Apaan sih hichhike itu? Cek aja di hitchhike yaa! :D

Jadi.. Tunggu cerita selanjutnya tentang penjelajahan saya di Daerah Istimewa Yogyakarta ini, ga cuma di Jogja, tapi tunggu cerita saya selanjutnya di seluruh penjuru Indonesia. Selemat berkelana menjelajahi dan melestarikan alam kita, pejalan Indonesia! :D

Advertisements