Tags

, ,

Solarizing Borobudur merupakan salah satu dari sekian banyak event campaign yang diprakarsai oleh Greenpeace Indonesia. Acara yang berlangsung dari tanggal 13 hingga 28 Oktober 2012 tersebut memang sudah saya rencakan untuk berkontribusi didalamnya sebagai volunteer. Namun karena beberapa kesibukan, saya baru bisa berangkat pada tanggal 17.

16 Oktober 2012

Sore hari, tiket kereta untuk besok pagi pun sudah kubeli. Kebiasaan burukku yang selalu packing selambat-lambatnya satu jam sebelum keberangkatan, membuatku hanya berguling-guling di karpet kamar sepulangnya dari Stasiun Kereta Api Bandung. Walaupun mungkin terlihat sebagai kebiasaan buruk, tapi packing mepet-mepet itu membuatku tidak pernah ketinggalan barang-barang yang ingin aku bawa, walaupun memang bakal lebih rempong cyiiinnn karena mepet-mepet. :p

Sang Tiket :’)

Sambil bersantai aku mengumpulkan sedikit demi sedikit barang-barang yang ingin kubawa di karpet kamar. Tiba-tiba handphone-ku bergetar, tanda sms masuk.

“Des, bisa mandu hitching ga tanggal 21?”

Hmm.. Karena setauku Hitching Race yang menjadi salah satu rangkaian Solarizing Borobudur itu dimulai pada tanggal 14, jadi aku mengira untuk memandu dari Borobudur hingga Jakarta. Jadi kuiyakan permintaan Bule, yang juga salah satu volunteer Greenpeace Indonesia. Namun, setelah lama kelamaan berbincang singkat lewat pesan singkat yang membatasi komunikasi dua arah kami tersebut, akhirnya terungkaplah.. Hitching Race yang semula direncanakan mulai pada tanggal 14 mundur hingga tanggal 21. Loh? Jadi? Aku kan udah punya tiket ke Jogja besok pagi. :|

“Lo gausah mandu deh, jadi peserta aja ya ya ya? Itu tiket lo buat ke Jogja refund aja.” Sahut Bule diujung telepon.

What?! Hemhamhem..

Okay baiklah. Aku memang ingin sekali menjadi peserta Hitching Race, mendapat pengalaman baru dengan cara baru dalam traveling. Tapi tapi tapi..

Kenapa harus tanggal 21? :|

Yang jadi pertimbanganku saat itu bukan hanya tiket kereta yang sudah ditangan, tapi juga ulang tahun kamu. Kamu yang hanya bisa kutemui saat kita sama-sama menemukan waktu senggang. Walaupun kotamu berjarak satu hingga dua jam dari Borobudur, tapi aku telah menyusun rencana yang cukup matang untuk kejutan ulang tahunmu di tanggal 21 Oktober. Ya, 21 Oktober. Waktu yang sama dengan Hitching Race akan dimulai. AAAAAAAAAKKKKKK~ GALAU!

Setelah beberapa jam berpikir dan terhasut oleh rayuan Si Bule Kancut, juga atas saranmu yang bijak. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk membatalkan keberangkatanku ke Jogja besok pagi, dan memilih untuk menjadi peserta Hitching Race yang dimulai pada tanggal 21 Oktober.

Sayang.. Maaf.. :( :( :(

17 Oktober 2012

Setelah semalam suntuk melewati malam dengan kegamangan, pagi-pagi aku bergegas menuju Stasiun Kereta Api Bandung untuk me-refund tiketku pagi ini. Di belakang tiket kereta tertera, “Pembatalan maksimal 30 menit sebelum keberangkatan, dengan pengembalian 75% dari harga tiket kereta.” Ahh.. Aku berangkat dari rumah jam 6.30 pun masih aman pikirku.

07.10

Aku tiba di Stasiun Kereta Api Bandung. Setelah memarkirkan motor, aku bergegas menuju loket. Lalu kuutarakan maksudku kepada petugas loket pada saat itu. Lalu sang petugas dengan nyolotnya berkata,

“Wah, ngga bisa, Mba. Refund itu harusnya satu jam sebelum keberangkatan! Ini udah 45 menit sebelum keberangkatan.”

Aku pun ngga mau kalah ngotot, “Tapi Pak, ini dibelakang tiket maksimal 30 menit. Masih bisa dong harusnya! Kalau emang ga pengen di refund, saya re-schedule aja deh!”

Dan si bapak pun makin nyolot dengan nada tinggi, kumis baplang dan mata melotot, “Ya tapi Mba ini keretanya udah siap berangkat. Tuh liat di peron keretanya udah standby. Di reschedule juga ya ngga bisa!”

Aku pun berargumen, “Yaiyalah keretanya standby, orang ini keberangkatan pagi, ya pasti keretanya nginep di stasiun dong, jadi standby!”

Tanpa jeda sedikitpun si bapak kembali menimpali argumenku, “Pokonya tidak bisa!”

PFFFFFFFFFFTTTTTTTTTTT~

Bandung pagi ini, terasa sejuk. Angin dingin yang menerpa wajah kesalku memberikan oksigen segar yang masuk dan menembus paru-paruku sehingga kembali menyejukkan hati dan pikiranku. “Ahh.. Ga usah deh ngebiarin bapak ini ngerusak mood aku pagi-pagi!” Celetukku dalam hati.

Akhirnya dengan menarik nafas panjang, aku pun tersenyum sembari berkata, “Yaudah Pak, Makasih.” Lalu aku pun langsung berlalu dari loket itu dan kembali pulang dengan tiket yang tak terpakai.

Yasudahlah, mungkin ada rezeki lain yang lebih besar lagi menanti di depan. :)

-to be continue-

Advertisements