Tags

,

Indah..

Kamu selalu mendambakannya sedari dulu.

Sedari kamu beranjak dewasa dan tumbuh menjadi gadis jelita mengikuti masa pubertas sesuai proses biologis yang normal.

Mungkin telah lama hatimu selalu menyimpan sesak, dikala pesonamu tertutupi oleh ragamu yang tidak didambakan banyak orang.

Kamu selalu tersenyum sayu dibalik wajah halusmu yang kemayu, saat semua mata berpaling untuk menikmati keindahan yang ingin mereka lihat, bukanlah Indah yang sebenarnya,

Berbagai cara kamu lakukan, untuk menjadi Indah yang didamba banyak wanita dan dipuja ribuan lelaki.

Detik demi detik. Hari berganti tahun. Dan kini kamu tetap Indah..

Indah yang sedari dulu tulus dan lugu. Namun kamu semakin Indah, dengan banyak berkurangnya cembungan abstrak di tubuhmu dan tergantikan menjadi cekungan astral yang selalu diimajinasikan liar oleh para lelaki nakal.

Indah, kamu semakin Indah. Semakin dipuja dan didambakan.

Kini lebah-lebah banyak yang hinggap dan ingin menghisap madumu, sampai membuat hatimu kalut.

Jauh berbeda dengan Indah yang dulu, yang mendapat palingan muka sinis yang hanya menilai indahmu hanya sebelah mata.

Indah, hilangkan gamangmu. Setidaknya kamu sekarang Indah. Ya, Indah.

Walaupun kamu anggap indahmu ini terlambat, tapi tidak ada kata terlambat untuk waktu yang tepat.

Bersyukurlah, Indah!

Janganlah kamu melihat kupu-kupu yang lebih indah darimu.

Tapi lihatlah aku, aku tidak pernah indah.

Aku memang bukanlah ulat, tapi aku juga bukanlah kupu-kupu.

Mungkin sedari dulu aku selalu bergaul dengan lebah-lebah penghisap madu, tapi mereka hanya menganggapku lebah, untuk mengulurkan tangan pun mereka enggan.

Aku tidak pernah menjadi Indah..

Tidak pernah ada yang menganggapku Indah, mereka tidak melihatku sebagai kupu-kupu. Aku ttidak pernah dipuja.

Aku tidak pernah menjadi Indah..

Indah, dulu kamu yang selalu berharap menginginkan hidupku.

Kini roda kehidupan berputar, aku yang menginginkan kehidupanmu sekarang, Indah!

Karena aku bukan Indah dan tidak akan pernah menjadi Indah!

Advertisements