“Turun dimana, Des?” Tanya Pak Jondri.
“Disini aja, Pak.” Jawabku ketika mobil telah berbelok keluar dari pintu tol.

Mobil pun berhenti di tepi jalan, setelah berpamitan dengan Pak Jondri, Endang, dan Ridwan, aku pun membuka pintu mobil. Kakiku belum menapaki aspal, namun mataku telah disuguhi pemandangan mengejutkan. Sebuah mobil Terrios berjalan mundur dan menabrak pengendara motor yang sedang melaju, bagaimana bisa si pengendara tidak melihat ada motor melintas di belakang mobilnya lewat kaca spionnya? Sedetik kemudian pertanyaan itu terjawab, seorang wanita dengan daster putih
dan rambut yang dicepol berlari kearah mobil, kemudian masuk melalui pintu supir dengan tergesa dan mengembalikan mobilnya kembali ke parkiran Alfamart yang miring. Kami berempat di mobil hanya geleng-geleng kepala melihat kejadian itu, lalu aku berpamitan kembali dan turun dari mobil.

Petang itu hujan turun cukup lebat. Aku berlari kecil menuju pelataran Alfamart untuk berteduh. Sambil menunggu datangnya angkot, terdengar teriakan wanita tadi, “Tadi udah saya rem tangan, Pak! Saya inget banget! Saya yang tarik sendiri rem tangannya keatas!” Wanita yang aku asumsikan berumur sekitar 30 tahun itu berkata sambil terengah. Dia tampak syok. Dan ternyata ada yang jauh lebih syok lagi dari wanita itu, terlihat wanita yang tampak seperti ibu dari wanita tersebut terisak dan histeris di kursi samping supir di dalam mobil. Wow. Ternyata mobil yang meluncur tanpa pengemudi tadi memiliki penumpang, tidak hanya ibu dari wanita itu, tampak dua anak kecil dan satu remaja di kursi belakang. Pengendara motor yang tadi ditabrak pun hanya geleng-geleng sambil tersenyum bingung melihat wanita-wanita yang syok dihadapannya. Aku hanya bisa memasang muka datar. Ingin membantu? Aku malah akan dianggap ikut campur urusan orang.

Akhirnya aku pilih berjalan agak kedepan karena angkot tak kunjung muncul. Ternyata hujan masih cukup lebat, baju dan daypack yang menempel di punggungku cukup basah ketika aku akhirnya menemukan angkot. Ternyata aku salah naik angkot, angkot yang kunaiki berputar berbalik arah, aku pun turun dan kembali ditemani hujan. Lalu aku menyebrang jalan dengan tergesa dan kembali kesulitan mencari angkot. Akhirnya aku memutuskan untuk terus berjalan di bawah rintik hujan dan sambaran petir yang bergemuruh.

Aku rasa aku mulai menikmati hujan. Langkahku yang tadi cepat, kini melambat. Aku berjalan sambil menengadahkan tangan, agar telapak tanganku bisa merasakan hujan jatuh. Pikiranku melayang, berpikir tentang masa depan yang dibalut masa lalu. Hatiku mulai gamang. Ternyata benar kata sebuah artikel yang pernah aku jadikan bahan untuk berkicau di social media perusahaan tempatku bekerja, bahwa hujan dapat menghipnotis orang-orang, hujan bisa membawamu pada kenangan, hujan bisa menghantarkan seseorang pada rasa rindu.

Ahh.. Sudah lama aku tidak menikmati hujan seperti ini. Biarlah aku berjalan ditemani jutaan rintik hujan yang menghujam. Aku menikmati setiap langkahku yang diiringi lamunan tentang kita. Lamunan bahagia juga lamunan sendu.

Aku suka hujan malam ini..

Derai tangisan langit malam ini menemani langkahku kembali pulang. Setelah sepekan lalu aku tak pulang dan tidak merasakan hawa sejuk Kota Kembang ini. Menyegarkan kembali pikiranku yang penat akan rutinitas memuakkan di ibukota.

Aku suka hujan malam ini..

Terlebih kamu setia menemaniku. Walau kamu hanya ada dalam pikiran, tidak nyata seperti hujan. Tapi..

Aku sangat suka hujan malam ini..

Terima kasih alam semesta. :)

Advertisements