Tags

, ,

Jakarta. Ibu kota negara Indonesia yang sangat indah ini memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi, baik ekonomi juga penduduk, peningkatan kedua hal ini berbanding lurus. Dengan tingkat perekonomian yang tinggi ini membuat tingkat konsumsi masyarakatnya pun meningkat, walaupun tetap saja golongan masyarakat yang berada di kelas D dan E mayoritas tetap berada di tingkat kemampuan yang stagnan.

Tapi yang ingin saya bahas disini bukanlah mengenai kemampuan ekonomi masyarakat Jakarta, bukan juga mengenai kesejahteraannya. Bicara mengenai infrastruktur? Lalu menyerempet kepada kinerja pemerintah? Tidak juga. Bicara tentang perilaku? Keadaan? Mungkin juga.

Saya hanya ingin membahas mengenai lalu lintas Kota Jakarta. Mungkin juga jika ditelusuri lebih lanjut, penyebab kemacetan Jakarta ini memang memiliki benarng merah yang kuat dengan hal-hal yang bukan ingin saya bahas tersebut. Yah, angaplah saja ini hanya curhat belaka. Toh saya bukan analis, bukan juga kritikus, saya cuma satu dari jutaan masyarakat Indonesia yang doyan komentar.

Jakarta's Bad Traffic (Doc: Kompasiana)

Jakarta’s Bad Traffic (Dok: Kompasiana)

Jakarta memang terkenal dengan lalu lintasnya yang sangat buruk, tapi hal tersebut tidak mematahkan semangat saya ketika pertama kali mencari peruntungan di ibukota ini. Ketika pertama kali menjadi kaum urbanisator di Jakarta, saya cukup menikmati kepadatan lalu lintas Jakarta. Saya cukup menikmati adegan sikut-sikutan saat rebutan masuk TransJakarta, dempet-dempetan hingga sesak di dalamnya, dan harus tetap bertahan berdesakan karena jalur busway pun sering dipakai pengendara kendaraan pribadi yang tidak taat peraturan.

Setelah beberapa lama menjadi warga Jakarta, saya sadar mengapa saya menikmati kondisi menjemukan seperti itu. Secara psikologis saya hanya senang dengan rutinitas baru saya tersebut, sehingga saya dapat menikmatinya. Secara logika saya tidak peduli dengan situasi tersebut, karena yang ada di benak saya hanyalah sampai tujuan tepat waktu tanpa memikirkan apa yang saya alami selama di perjalanan.

Namun, kenikmatan tersebut hanya berlangsung sesaat..

Saya mulai jengah ketika pulang kerja melihat halte busway yang penuh sesak, tanpa ada tanda-tanda bahwa bis TransJakarta akan tiba menampung para penumpang yang tak sabaran itu. Makin malas lagi ketika melihat lalu lintas yang sangat padat, dengan suara klakson bersautan diiringi pemandangan para pengendara yang tidak sabaran.

Siapa yang salah? Tidak menemukan subjek yang dapat disalahkan, saya pun lantas menyalahkan objek. Ya, salah lokasi kantor saya yang terletak di Kuningan, bilangan yang sudah tersohor akan kemacetannya yang luar biasa ganas.

Selama hidup di Jakarta saya tinggal di Mampang. Jarak Kuningan – Mampang hanyalah sekitar 2 kilometer, jalan tersebut pun hanyalah jalan lurus, jadi dengan perandaian ngebut di jalur tersebut, 5 menit pun bisa sampai. Tapi nyatanya? Saya pernah 2 jam terjebak di jalur tersebut. Hhh, dengan 2 jam saya juga bisa mencapai km 125 jalur Cipularang. Tapi 2 jam ini hanya bisa saya habiskan di jalur Kuningan – Mampang.

Jika malas menggunakan kendaraan umum, saya lebih memilih untuk berjalan kaki sepulang kerja. Lebih efisien dan juga menyehatkan bagi fisik dan mental saya, ketimbang harus menjadi beringas berebutan di halte busway maupun Kopaja. Dengan berjalan kaki saya hanya membutuhkan waktu 30 menit mencapai kosan saya dari arah Kuningan.

Tapi, menjadi pejalan kaki di Jakarta pun tidak semudah yang dibayangkan. Saya tetap saja harus bersaing dengan para pengendara kendaraan bermotor. Trotoar dimana seharusnya menjadi sarana bagi pejalan kaki dipakai motor-motor untuk mengakali kemacetan, tidak jarang malah para pejalan kaki yang mendapat ocehan keras dari para pengendara motor tersebut karena menghalangi jalan. Mungkin mereka tidak sadar, trotoar itu teritorialnya pejalan kaki dan teritorial motor mereka itu adalah jalan raya yang beraspal. Mungkin juga motor yang mereka kendarai sudah lupa akan kodratnya. Entahlah.

Belum lagi trotoar yang habis dipakai oleh para pedagang kaki lima, sehingga para pejalan kaki harus berjalan di tepian jalan raya sambil ketakutan akan ada mobil yang menyerempet. Ada juga jalan yang tidak memberikan trotoar, banyak hal yang membuat pejalan harus tetap berjalan dengan penuh waspada dan jauh dari rasa nyaman. Belum lagi timbal dari asap knalpot yang menyesakkan paru-paru, ditambah minimnya pepohonan yang memproduksi oksigen menambah kesulitan para pejalan kaki. Padahal sesungguhnya, berjalan kaki itu lebih menyenangkan dan lebih bisa dinikmati daripada berkendara.

Ya begitulah kiranya keluh kesah saya mengenai hal yang paling saya tidak suka mengenai Jakarta. Tapi dibalik kekurangan Jakarta yang krusial itu, Jakarta tetap memiliki keindahan dan kelebihannya tersendiri. Apa kelebihannya? Tunggu tulisan saya berikutnya ya!

:)

Advertisements