Terkadang, jadi manusia yang dianugerahi akal pikiran paling sempurna dibandingkan makhluk hidup lainnya itu cukup sulit. Sulit dalam memilih jalan yang akan diambil. Apalagi jika disertai sinkronisasi hati dalam penentuan keputusannya.

Aku terkejut. Ya, lagi-lagi aku tertipu gumpalan awan indah yang selalu aku lihat saat terbang tinggi bersamamu. Aku selalu terlupa, bahwa aku tidak akan selalu terbang bersama kamu. Bisa saja kamu melepaskan cengkeramanmu dan membiarkan aku terjatuh kembali ke tanah. Aku terlupa, bahwa yang pasti di dunia ini hanyalah ketidakpastian.

Walaupun diantara ribuan doa agar hatimu tidak pernah berbalik dariku, dibalik jutaan harap bahwa matamu akan selalu tertuju padaku, ada satu kemungkinan yang tidak pasti bahwa semua itu akan kembali berputar seratus-delapan-puluh-derajat terbalik.

Perubahan itu pasti ada. Mungkin awalnya aku tidak bisa menerimanya. Tapi sedikit demi sedikit kamu mengajarkanku beradaptasi dengan perubahan. Mengajarkan berkurangnya secara drastis intensitas waktumu terhadapku.

Ya, kamu membuatku terlanjur terbiasa.

Terbiasa menghadapi letih sendiri. Terbiasa menggantungkan harapan tanpa asa. Terbiasa hidup tak teratur sendiri. Terbiasa melewati sakit sendiri. Terbiasa menyimpan keluh kesah sendiri.

Aku tetap menginginkan yang terbaik untuk kamu dan aku. Tapi aku enggan berharap, walaupun harapan adalah lentera yabg membimbing kita. Tapi jika resah akan menjauh jika aku tak memiliki asa, kenapa tidak? Toh kali ini tidak pernah lagi ada kau yang mengiringi harapku. Atau sekedar bertamu pada mimpi indahku.

Kita sama-sama marah. Marah pada satu jiwa. Aku. Pada aku. Yang telah kehilangan daya untuk bermimpi. Dan kembali memegang realita, bahwa bisa saja tidak selamanya kita melangkah bersama.

Kamu pun terlalu lelah. Lelah menahan amarah. Lelah menikmati diamku. Tapi jika amarahmh tidak meledak, apa kamu akan terus menikmati kehidupanmu dan membiarkanku terus menanti waktumu sambil berangan-angan sendiri tentang kita.

Mungkin ini hanya menyangkut hal-hal klise. Tapi ini terlalu nyata untuk hanya menjadi sebuah fatamorgana.

Kalau kamu bisa memilih. Pilih aku yang begini atau pilih aku yang baik-baik saja mengabaikan kesalku yang menumpuk akan waktumu?

Kalau aku bisa memilih, aku ingin terus berlari tanpa ragu. Bersamamu dengan keyakinan akan ketidakpastian yang pasti.

Tapi semua terlambat kan?

Aku tunggu kamu sampai kamu siap.

Walaupun siapmu nanti mungkin saja bukan untukku.

Terbanglah. Sekarang, kamu pasti bisa terbang lebih tinggi lagi.

Advertisements