Tags

, , ,

Hari minggu kemarin, saya berkesempatan untuk kembali bertemu dengan laut. Saya pergi untuk misi penanaman terumbu karang di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Saya sangat bersemangat ketika berangkat, karena saya sangat menyukai laut tentunya walaupun dalam mengemban misi tapi masih bisa melipir buat menikmati cantiknya keindahan alam bawah lautnya dong.. :D

Prasasti angka 8 yang menjadi substrat penanaman terumbu karang. (Doc: Greeners Magazine)

Siang itu, kegiatan penanaman berlangsung lancar, walaupun ombak saat itu bergelombang cukup kuat, tapi tetap tidak menyurutkan semangat saya dan teman-teman yang lain untuk menanam terumbu karang di Pulau Pramuka. Setelah menanam karang, saya dan teman-teman yang lain berenang berkeliling spot penanaman terumbu karang tersebut.

Indah? Tidak, menyedihkan.

Ya, kondisi terumbu karang disitu sangatlah menyedihkan. Karang-karangnya sudah 90% mati, sehingga banyak koloni Bulu Babi yang menetap disitu. Bulu Babi selain meresahkan untuk manusia karena berbahaya jika durinya menancap di kulit, juga meresahkan untuk terumbu karang. Karena Bulu Babi bisa menyerap nutrisi di terumbu karang sehingga bisa menyebabkan kematian untuk terumbu karang.

Sea Urchin (Bulu Babi) – (Doc: @dztdz)

Pulau Pramuka bukanlah satu-satunya pulau yang mengalami kerusakan terumbu karang yang parah. Alam mungkin menjadi salah faktor rusakya terumbu karang, namun manusia yang menurut saya sangat berperan penting sebagai penyebab kerusakan alam. Saat ini banyak sekali wisatawan yang tidak sadar lingkungan, ingin menikmati keindahan alam namun tidak menjaganya agar tetap lestari. Terumbu karang sering diinjak-injak wisatawan saat snorkeling, padahal terumbu karang sangatlah rapuh jika terinjak dan mereka membutuhkan waktu yang sangat lama untuk kembali tumbuh berkembang. Sampah yang dibuang sembarangan pun mencemari laut dan merusak biota di dalamnya, tidak hanya terumbu karang yang rusak tetapi ikan-ikan pun banyak yang teracuni karena mengkonsumsi sampah plastik yang banyak bertebaran di lautan.

Hamparan terumbu karang yang mati. (Doc: nopensetiawan.blogspot.com)

Sedih. Alam yang indah ini hancur dan sedikit orang yang peduli. Memang bisa direhabilitasi, tapi coba hitung butuh waktu berapa lama. Setahun? Dua Tahun? Lebih dari itu! Sedangkan dalam masa rehabiliasinya pun banyak manusia yang belum memiliki kesadaran akan pelestarian. Tidak hanya di Pulau Pramuka ini, tapi juga di banyak tempat indah yang terlalu banyak dieksploitasi tanpa tanggung jawab untuk tetap menjaganya selalu lestari.

Well, kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaga dan membuat alam ini tetap utuh? Alam pun mungkin akan lelah untuk memberikan udara bersih, makanan sehat, dan tempat tinggal yang nyaman kepada kita yang terlalu tamak dan acuh kepadanya. Yuk mari tingkatkan kesadaran lingkungan kita, setidaknya dimulai dari tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga lingkungan sekitar kita tetap bersih. :)

Advertisements