Tags

,

Setelah dari siang melewati waktu di Paris Van Java ini, akhirnya waktu pulang pun tiba ketika waktu telah menunjukkan pukul 22.00 malam. Dimulai dengan menonton film horror The Conjuring, berbuka puasa bersama, dan diakhiri dengan bermain ice skating dengan murah meriah disertai kejadian janggal saat bermain ice skating.

Kemisteriusan parkiran ini dirasakan ketika saya mulai memasuki gedung parkir PVJ. Saya melangkah masuk dan mengabaikan teman-teman saya yangberanjak turun dan naik menuju tempat parkir masing-masing, karena saya yakin motor saya terparkir cantik di lantai yang sama dengan mall.

Tapi.. Nihil.

Yang saya temukan malah tembok gedung yang ditutupi oleh terpal. Aneh bukan? Dan area parkir menjadi lebih sempit! Serta tidak ada tempat penitipan helm-nya. Tempat apa ini? Saya pun mulai tegang. Lalu suara seseorang memecahkan ketegangan saya, saya tercengang. Ternyata itu salah satu teman saya yang memberitahukan bahwa area parkir yang dimaksud masih satu lantai dibawah.

Fiuh.. Lega. Saya pikir saya benar-benar kehilangan ingatan tentang tempat saya menaruh motor saya dengan rapih akibat menonton The Conjuring.

Namun, ketegangan ini belum berakhir. Ketika saya menuju tempat parkir motor saya yang berada di sudut dan dibalik pilar. Saya terperangah! Dan lemas melihat kondisi motor saya! Apa yang harus saya lakukan? Ini super aneh! Super ngga logis! Kenapa motor saya jadi mepet banget dan susah dikeluarin?! ARGH! Saya kan ngga jago angkat-angkat geser-geser motor di parkiran gitu.. :’O

Tapi otak cemerlang saya langsung menginstruksikan syaraf motorik saya, untuk bergerak menuju salah satu teman saya dan meminta tolong untuk membantu saya mengeluarkan motor saya dari parkiran. Alhamdulillah~

Lalu dengan gagahnya saya menunggangi motor hijau saya yang setia ini meliuk-liuk di gedungparkiran motor yang penuh sesak itu. Sambil menuju pos keluarsaya teringat, kalau saya belum menyiapkan karcis parkir. “Ah.. Nanti aja kalau udah deket pos keluar sambil ngantri bayar.” Saya berkata dalam hati.

Parkir PVJ ini memiliki fasilitas pengecekan STNK sebelum memasuki pos keluar. Saya dengan santai mengeluarkan STNK saya. Sambil mengantri diperiksa saya merogoh saku kanan jaket saya, karena saya menaruh karcis parkir disitu namun yang ada disitu hanyalah sebongkah handphone jadul saya dan kunci rumah. Saya pun langsung merogoh saku kirinya, hanya kumpulan uang receh dan selembar uang 10.000 dan 20.000. Mungkin di saku celana,lalu saya rogoh saku celana saya. Nihil..

Saya mulai panik kembali. Bagaimana bisa, bagaimana bisa karcis parkir itu tidak ada? Siapa yang menggerakan karcis itu keluar dari saku kanan jaket saya? SIAPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?!

Jantung saya mulai berdebar, saya melihat sekeliling. Keringat dingin pun mulai mengucur di punggung saya. NGERI! Gedung parkir ini sungguh mengerikan!

Setelah melewati pengecekan STNK, saya melipir sebentar menurunkan standar motor saya sebelum memasuki pos keluar. Saya merogoh-rogoh lagi saku-saku yang bisa dirogoh, hingga merogoh kantong-kantong kecil yang ada di tas saya. Nihil. Ah, kamu dimana karcis parkir? :'(

Saya pun turun dari motor, membuka bagasi motor saya siapa tau saya taruh karcis itu terjatuh ke bagasi karena jaket saya taruh dibagasi. Juga nihil! Ini sungguh misterius! Kemana perginya karcis parkir itu?!

Teman saya pun mulai mendekati saya, dan bertanya kenapa saya ngga keluar-keluar. Dia pun ingin membantu mencari, namun saya sudah menyerah, menyerah pada misteri ini. Sudahlah, paling hanya terkena denda 10.000 rupiah saja.

Saya pun mulai menarik gas ke belakang. Motor melaju perlahan hingga tiba di pos keluar.

“Mana karcisnya?” Tanya petugas.

“Hilang, A..” Dengan wajah memelas.

“Wah, paling kena denda. Sini STNK-nya. Parkir dari jam berapa?” Kata si petugas dengan suara rendah sehingga terkesan ramah.

“Yaudah gapapa, A.. Tadi dari jam setengah dua.” Jawabku sambil menyodorkan STNK.

Aku pun terdiam menunggu petugas menulis suatu catatan, sambil memberikan kode pada teman saya bahwa semuanya baik-baik saja.

“Dendanya 50.000 yaa..” Ucap petugas.

APA?! Bahkan disaat saya akan beranjak keluar dari gedung parkir ini misterinya masih menghantui saya? Bagaimana bisa denda terhadap karcis parkir yang berbentuk secarik kertas kecil dengan tinta lusuh yang hilang itu harus dipertanggungjawabkan dengan harga lima puluh ribu rupiah? Men! Bisa nonton sekali lagi di Blitz pas weekend itu sih! Selain itu, duit saya ngga nyampe segituuuuuuuuuuu.. Huaaaaaaa~

“Yahh, A.. Duitnya kurang. Tinggal 30 ribu lagi nih..”Jawabku sambil merogoh saku kiri jaketku.

“Ohh.. Kalau giu harus isi surat keberatan.” Sahutnya dengan nada tetap rendah nan ramah.

Aku pun mengisi surat keberatan membayar denda searapenuh itu dengan menuliskan ‘uangnya kurang’ di kolom alasan.

“Kan biaya parkirnya 8.000, jadi mau bayar biaya administrasinya 20.000 aja yaa..” Sahutnya lagi.

Aku pun memberikan surat keberatan itu sambil memberikan uang 30.000 terakhirku sambil berkata, “Kan ini ada 30.000, jadi 8.000 buat parkir, nah sisanya 22.000 buat biaya adimistrasi aja, Aa..”

“Ohh, mau gitu aja? Yaudah, lain kali hati-hati yaa..” Ujarnya sambil menaikkan palang otomatis ke arah atas.

“Nuhun pisan yaa, A..” Ucapku sambil perlahan melajukan motor meninggalkan gedung parkir mall yang sangat misterius tersebut.

Ahh.. Untunglah sang petugas yang menangani kasusku tadi itu baik dan ngga emosi menghadapi segala problematika yang menerpaku.

Mungkin aku kurang beramal,sehingga sang karcisparkir itu beranjak menghilang dari genggamanku. Mungkin aku hanya sangat teledor sehingga aku bisa kehilangan karcis tersebut. Mungkin aku hanya sangat tergesa-gesa saat sampai diPVJ tadi, sehingga tidak memperhatikan apa sudah menaruh karcis dengan benar atau tidak.

Kemungkinan-kemungkinan itu melayang di pikiranku sepanjang perjalanan pulang menjauhi misteri-misteri yang menyelubungi Gedung Pakir Paris Van Java itu.

Karena di setiap kejadian tidak baik, akan selalu ada banyak hal baik yang bisa dipetik dan dijadikan pelajaran.

Advertisements