Teringat kembali memori tahun kemarin. Saat aku memberanikan diri bertemu dan bepergian dengan orang yang hanya baru aku kenal melalui dunia maya.

Kamu.

Penampilanmu memang kurang meyakinkan, namun pikiranku tetap terbuka untuk tetap berteman dengan kamu.

Sampai pada akhirnya dikala fajar mulai menyinari bumi, mencuatkan cahayanya dibalik kabut tebal, menghangatkan kita yang semalamab terjaga di puncak gunung api purba nglanggeran.

Kamu menegurku yang termangu, memintaku menghilangkan pegal di kakimu. Kamu tarik tanganku, namun tidak kamu lepaskan. Kamu genggam erat sambil tersenyum manis. Senyum yang terbaikmu yang selalu melekat di pikiranku. Senyum yang membuat tabuhan hebat di dadaku, senyum yang juga mengembangkan bibirku.

Saat perjalanan pulang pun berbeda dengan saat kita pergi. Kamu menarik tanganku, melingkarkannya di pinggangmu, dan meletakkan telapak tanganku di perutmu. Aku mengiyakan maumu, walau hatiku masih penuh dengan keraguan. Keraguan akankah kubukakan hati yang telah lama hampa ini untukmu? Karena ini terlalu cepat.

Aku membiarkan hatiku mengikuti alur yang kau buat. Namun tetap memperingatinya untuk tidak jatuh terlalu dalam. Namun apa dayaku? Aku jatuh cinta pada kamu. Tidak hanya sekedarnya, tapi sangat mencintai kamu.

Aku jatuh cinta pada kamu yang setia, yang selalu berkorban untuk mendapatkan waktu bersamaku. Selalu mengalah saat egoku tidak dapat direndahkan. Selalu berjuang untuk dapat membuatku bahagia.

Aku jatuh cinta pada kamu, yang berjuang keras untuk bisa jadi yang terbaik untukku. Aku pun kagum, aku tidak tahu bahwa kamu akan berhenti minum alkohol dan merokok sebegitu cepatnya. Padahal saat itu aku tidak ingin menuntutmu terlalu banyak, aku membiarkan kamu tetap menghisap asap walau aku pun membantu kamu mengurangi konsumsinya. Aku tersenyum saat kamu benar-benar lepas dari rokok. Terlebih ketika tahu bahwa akulah alasan yang memotivasimu untuk berhenti.

Aku juga bahagia saat kamu belajar untuk menjadi imam yang baik untukku. Aku jatuh cinta pada kamu yang pekerja keras, walau dengan pengaturan waktu yang masih serabutan.

Aku jatuh cinta pada lelaki itu. Lelaki yang selalu menenangkanku disaat aku marah. Menghapus air mataki saat aku menangis. Bahkan menangis bersamaku saat aku merasakan sedih yang teramat pedih.

Aku jatuh cinta pada lelaki itu. Yang membuatku tertawa lepas. Yang bisa merekahkan bibir manyunku saat aku kesal. Yang selalu menghibur dan memberiku semangat kala aku gusar. Lelaki yang selalu berada di sampingku kala suka dan duka.

Aku jatuh cinta pada kamu. Kamu yang dengan sabar merawatku saat aku sakit. Yang setia menemaniku apapun kondisiku. Yang sedia setiap saat hanya untuk mendengarkan cerita-ceritaku, bahlan hingga cerita yang tidak penting.

Aku jatuh cinta pada kamu. Kamu yang terbangun dan akulah yang pertama kamu ingat, kamu yang selalu mengingatku sebelum aku tidur.

Aku ingat, dulu kamu tidak suka akan sifatku. Yang tertidur tanpa pamit padami, padahal kamu hanya ingin aku ucapkan selamat tidur. Namun aku bebal. Hingga kamu pun terbiasa, dan akhirnya kamu pun tidak pernah lagi mengucapkan selamat malam. Sekarang kamu tertidur tanpa menyapaku untuk mengajakku ke dalam mimpimu.

Aku jatuh cinta pada kamu.

Tapi kamu yang sekarang bukan lelaki seperti itu.

Kini kamu dingin. Kehangatanmu membeku entah karena apa. Kejujuran dan keterbukaanmu mulai menutup dan selalu tersamarkan dengan berbagai alasanmu.

Bahkan aku harus tau dari orang lain, kalau kamu membonceng dan mengantar wanita lain kesana kemari. Kamu kembali menyematkan sebatang rokok di jemari tangan kirimu. Aku sebenarnya tidak masalah jika kamu bilang padaku. Tapi ini membuatku bertanya, siapa kamu?

Aku tidak tahu kamu berubah menjadi apa. Aku tidak tahu mana kamu yang sebenarnya. Lelaki yang aku cintai kah atau lelaki yang sekarang ini sedang aku hadapi.

Setengah dari diriku telah mengikhlaskan kepergianmu. Namun separuh jiwaku masih tidak rela kehilanganmu.

Sayang.. Aku tidak tau apa yang terjadi padamu. Yang jelas ada sesuatu yang tidak baik yang sedang kamu alami dan tidak kamu ceritakan padaku.

Sayang.. aku resah. Dengan perubahanmu. Dengan hubungan kita.

Setahun sudah jarak ini daoat kita atasi. Tapi kini jaraklah yang menjadi penghambat bagi kita. Bahkan komunikasi pun tidak lagi tercipta dengan baik diantara kita.

Sayang.. aku rindu. Aku rindu kamu yang dulu. Aku rindu menjadi diriku sendiri saat bersamamu. Aku rindu kita berjalan berdampingan seiya sekata.

Sayang..

Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan. Resah ini terlalu menyelubungiku. Menciptakan beraneka ragam imajinasi dan rasa yang bercampur aduk dengan kenyaataan. Aku tidak bisa lagi merasakan kamu.

Kamu tidak sama lagi. Aku tidak lagi mengenalmu. Aku tidak tau apa yang merubahmu, tapi suatu saat aku pasti akan tau.

Ingin rasanya aku beranjak, namun mimpi-mimpi kita selalu berhasil meredamnya dan menguatkanku untuk tetap bertahan.

Tuhan.. Kembalikan dia..

Ya Tuhan, yang maha membolakbalikan hati manusia. Mungkin Engkau sedang membalikan hatinya untuk berpaling padaku. Aku tidak tau mengapa, namun aku yakin Engkau memiliki rencana indah untukku. Untuk kami.

Ya Allah..
Jika memang dia tersurat untukku, jadikanlah dia lelaki terbaik untuk mendampingiku. Jadikanlah dia lelaki yang shaleh, agar mampu membimbing aku dan anak-anaknya selalu dijalanmu. Jadikanlah dia lelaki yang tangguh namun tetap lembut. Jadikanlah dia lelaki yang pekerja keras dan pantang menyerah demi kebahagiaan keluarganya. Jadikanlah dia lelaki yang membuatku semakin dekat denganmu Ya Allah..

Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Jika dia memang tidak ditakdirkan untukku, aku mohon berikan petunjukMu. Tuntun aku menuju jalan terbaikmu.

Amin Ya Rabbalalamin.

Advertisements