Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah. Saya senang dengan mendekatnya Bulan Ramadhan ini, terlebih di penghujung bulan merupakan ajang silaturahmi dengan keluarga besar. Silaturahmi akan memperpanjang rezeki, yang artinya THR pun di depan mata. #eh :p

Tapi, agaknya Bulan Ramadhan ini cukup meresahkan bagi saya dan manusia-manusia perusuh kolam renang UPI setiap hari minggu ini. Habitat kami yang sekarang telah didominasi dengan air, membuat kita layaknya amphibi yang ketergantungan akan air. Sehingga kami sadar, tidak memungkinkan kami berubah menjadi manusia air selama Bulan Ramadhan. Alasannya tidak lain dan tidak bukan yaa karena makruh tjoiii.. :|

Dengan latar belakang tersebut, kami mengusung perjalanan open water freedive terakhir sebelum puasa. Awalnya sih yang mencanangkan trip ini itu Kang Rendi, seorang spearfisher yang kalau nemu ikan langsung dikeceng terus-terusan dan ditembak tepat sasaran, namun sayangnya keahlian tembak-menembaknya ini kurang jitu teraplikasikan terhadap kaum hawa. Jadinya yaa gitu deh, Kang Rendi si spearos kesepian, ada yang minat? :p

Kembali kepada wacana open water freedive terakhir sebelum bulan puasa, Kang Rendi ini dengan antusias mengumpulkan massa yang rencananya akan beliau bawa berkemah di Pulau Kayu Angin Bira di Kepulauan Seribu. Tapi karena satu dan lain hal, perjalanan kami ini harus tertunda selama seminggu. Setelah seminggu berlalu, akhir pekan yang dinanti untuk melakukan perjalanan ke salah satu pulau eksotis di Kepulauan Seribu ini pun tiba. Kami pun saling berkomunikasi membicarakan rencana perjalanan kami. Tapi, ternyata trip ke Pulau Kayu Angin Bira yang diusung Kang Rendi ini hanyalah tinggal wacana, beliau ini malah ada agenda ke UK sodara-sodara! Bukan. Bukan United Kingdom. Tapi Ujung Kulon untuk suatu pekerjaan. Pft~

Tak kenal kata putus asa, seorang Fakhril tetap berusaha mengumpulkan serpihan-serpihan manusia air yang tersisa. Dengan mantap saya pun mengiyakan ajakan Fakhril untuk tetap berangkat ke lokasi tujuan. Ternyata yang tersisa hanya tinggal berempat, saya, Fakhril, Bang Sayf, dan si mentel Hasby. Berempat cukuplah, sepasang-sepasang buddy-buddyan, yang penting ke laut dulu sebelum sebulan puasa ketemu air!

Akhirnya saya dan Fakhril pun mulai melakukan riset bagaimana mencapai Pulau Kayu Angin Bira yang letaknya masih samar-samar di benak kami tersebut. Selidik punya selidik, ternyata untuk mencapai Pulau Kayu Angin Bira kami harus menyewa kapal lagi dari Pulau Harapan, yang mana jika hanya dibagi dengan 4 orang akan membengkakkan biaya perjalanan. Kami yang terbiasa melakukan perjalanan yang ramah dompet, hanya bisa mendesah. Pft~

Menyerah? Tidak. Kami terus berusaha memikirkan alternatif lain. Setelah berdiskusi sambil melakukan riset kecil-kecilan, akhirnya diputuskanlah bahwa Pulau Pari terpilih sebagai spot open water freedive kami. Dengan pertimbangan, di Pulau Pari kami tidak perlu menyewa kapal, hanya perlu sedikit berenang dari tepian pantai langsung bisa say hello deh sama karang-karang cantik. :D

H-2 perjalanan kami, Fakhril memberikan kabar baik kalau Wira, salah satu manusia air lainnya, menawarkan untuk ikut trip dia ke Pulau Sangiang di Banten dengan harga setengahnya saja. Yes, setengah harga aja bok! Siapa yang ngga langsung tergiur ke Sangiang cuma setengah harga aja. Tanpa bertele-tele dan tanpa mikir kepanjangan, kami langsung mengiyakan. Namun, mungkin Sang Hyang belumlah berjodoh dengan kami. Karena sejam kemudian Wira memberi kabar, kalau ternyata trip-nya udah penuh. Untuk yang kesekian kalinyakami hanya menghela nafas, pft~ Akhirnya kami pun kembali ke rencana awal, ke Pulau Pari.

H-1 trip ke Kepulauan Seribu saya masih belum packing. Jangankan packing, tiket kereta untuk keberangkatan nanti malam pun belum saya beli. Pagi itu saya membuka laptop, dan menemukan secercah harapan untuk spot open water kita besok. Pulau Perak!

Febrita Sidabalok. Artis papan atas ibukota Jakarta ini saya temukan ketika saya jadi Lara Croft di Goa Buniayu, Sukabumi. Saya pun langsungmengontak Balok dan keempat teman saya. Manusia-manusia air pun setuju untuk mengganti destinasi ke Pulau Perak dan bergabung dengan kesebelasannya Febrita Sidabalok.

Sore hari saya langsung membeli tiket kereta api di minimarket. Pulang ke rumah nenek untuk packing, lalu pergi ke rumah orang tua untuk pamit dan minta anter ke stasiun. Mhehehehe~

Sesampainya di Stasiun Kereta Api Kiaracondong jam 11 malam, saya langsung bertemu ketiga teman saya yang sudah berkumpul sedari jam 9. Jam setengah 12 loket penukaran karcis kereta pun dibuka, ternyata tempat duduk kita di kereta berbeda-beda gerbong. Setelah Kereta Api Serayu Malam tiba di sasiun, kami pun memasuki peron dan berpisah menuju gerbong masing-masing.

29 Juni 2013 – 02.00 AM

Sudah 2 jam setelah Kereta Serayu Malam ini melaju, saya tertidur cukup nyenyak dengan wajah ditutupi scarf. Handphone saya tiba-tiba bergetar, saya perlahan membuka mata dan membuka scarf dan mata saya langsung disambut dengan asap tebal dan bau terbakar yang cukup menyesakkan. Ternyata Hasby yang menelepon, sambil kebingungan saya pun mengangkat telepon dari Hasby.

“Des, gerbong kamu kenapa?” Tanyanya. Sambil memperhatikan sekitar, saya mengambil kesimpulan sambil menjawab, “Katanya sih ada masalah di AC-nya.”

“Ohh, tapi kamu ngga kenapa-kenapa kan? Yaudah atuh.” Lalu telepon pun terputus.

Saya melihat sekeliling, banyak anak kecil yang terbatuk-batuk karena asap yang memenuhi gerbong kami dengan bau yang cukup menyesakkan. Petugas pun datang untuk memeriksa gerbong kami, tapi dia menyatakan mesin baik-baik saja dan kereta mulai berjalan kembali. Perlahan asap pun mulai menghilang dan penumpang kembali tenang.

Jam 4 kurang kami tiba di Stasiun Jakarta Kota. Awalnya kami berjalan kaki keluar stasiun untuk mencari angkot ke Muara Angke, tapi angkot subuh itu enggan mengangkut kami jika tidak diborong. Akhirnya kami memutuskan untuk naik taxi saja. Setengah jam kemudian kami tiba di Muara Angke.

Muara Angke pagi itu ramai sekali. Tidak hanya ramai oleh masyarakat yang beraktivitas jual-beli di pelelangan ikan, tapi juga banyak orang sudah menumpuk di Muara Angke untuk berwisata ke Kepulauan Seribu. Kami pun mencari area kosong untuk kami bersantai di sekitar po bensi, lalu kami pun tertidur kembali sambil menunggu kedatangan Balok dan teman-temannya.

Jam 7 kurang Balok dan teman-temannya baru muncul di Muara Angke, kami pun langsung bergegas menuju KM Dolphin yang mulai terisi penuh oleh penumpang dan akan segera berlayar. KM Dolphin merupakan kapal angkutan umum yang menuju ke Pulau Harapan, KM Dolphin ini memiliki kapasitas 300 orang dan beroperasi pagi hari menuju Pulau Harapan lalu sore hari untuk kembali ke Muara Angke. Perjalanan dari Muara Angke menuju Pulau Harapan memakan waktu 3 jam menggunakan KM Dolphin.

Sesampainya di Pulau Harapan, kami langsung menaiki kapal kecil berkapasitas 15-20 orang yang sudah dicarter untuk mengantarkan kami ke Pulau Perak. Pulau Perak ini merupakan pulau tak berpenghuni yang terletak di Kepulauan Seribu bagian utara. Untuk mencapai Pulau Perak, kami menempuh waktu setengah jam dari Pulau Harapan.

Perjalanan menuju Pulau Perak dari Pulau Harapan sambil menikmati makan siang diatas kapal

Sesampainya di Pulau Perak saya agak heran karena berbeda dengan bayangan saya, bayangan saya pulau tak berpenghuni itu yaa pulau kosong aja kaya Pulau Melinjo. (belum sempet nulis tentang Melinjo. :S) Tapi setibanya di Pulau Perak ruameeeeee.. Tenda dibangun dimana-mana, ada fastboat pribadi juga yang lagi bersandar, dan yang paling mencengangkan.. ada warung! Duh, berasa di rumah ini sih kalau bete bisa ke warung bentar jajan ciki. :p

Berfoto bersama di dermaga setibanya di Pulau Perak

Kami pun mulai berjalan memasuki pulau sambil mencari spot yang kosong, tapi bagian depan pulau itu sudah penuh. Kami pun diarahkan oleh guide kapal kami ke belakang pulau dengan memasuki hutan terlebih dahulu. Sesampainya di belakang pulau kami ingin menempati tempat kosong dibawah pohon rindang, tapi ternyata spot itu pun telah ada yang menempati. Kami pun pasrah membangun tenda di tepi pantai di belakang pulau. Asik sih nenda di pinggir pantai, tapi kalau angin lagi besar repot juga, tapi overall asik banget keluar tenda bisa langsung ngeliat laut. :D

Kami pun mulai membangun tenda. Setelah tenda jadi, keempat manusia air ini mulai mempersiapkan alat perang mereka dan mengganti pakaian tempur mereka, sementara kesebelas teman kami yang lain masih asik foto-foto. Well, tujuan kita kan emang openwater freedive. Mari nyemplung!

Kami berempat izin ke laut duluan dengan teman-teman yang lain. Kami pun mulai berenang dari tepi pantai, ternyata karangnya dangkal-dangkal banget, hanya berjarak sekitar satu meter kurang, bahkan ada yang hanya berjarak 20cm dan banyak Bulu Babi! Bulu Babi di Pulau Perak ini agaknya cukup menyeramkan, warnanya hitam pekat, duri-durinya terlihat lebih tebal dan berwarna hitap pekat, serta ada titik-titik merah di badannya, bikin merinding pokonya kalau deket-deket!

Bulu Babi (Sea Urchin)

Setelah cukup lama explore underwater Pulau Perak, kami berniat untuk kembali menepi ke pantai. Baru mulai mengayuh fin menuju tepi pantai, ada kapal yang mendekati kami. Ternyata itu kesebelas teman kami yang akan berangkat hopping island untuk snorkeling. Mereka punberteriak, “Ayo sini naik!” Kami pun mengayuh kaki katak kami kearah kapal dan mulai berlayar bersama.

Menelusuri keindahan bawah laut Pulau Perak

Gusung

Gusung merupakan spot pertama yang kami kunjungi, spot ini berada tidak jauh dari Pulau Perak. Spot ini merupakan hamparan pasir tanpa terumbu karang dengan ketinggian air hanya sekitar satu meter lebih. Well, kami berempat sih berusaha mengexplore saja, dan benar tidak jauh dari situ ada sebuah palung yang terdapat beberapa terumbu karang dengan banyak ikan! Yeay! Kami berempat sibuk keluar masuk kedalam air dengan satu nafas, sementara teman-teman kami yang bersebelas heboh protes ke guide kapal kami karena spot itu tidak ada terumbu karangnya. :p

Ceria bersama di Gusung Perak

Walau tidak ada terumbu karang sama sekali, spot ini cukup bagus untuk yang baru pertama snorkeling. Merekabisa belajar berenang dan belajar menggunakan alat snorkeling disini, sehingga bisa lebih tenang dan beradaptasi dengan lautan.

Pulau Bintang

Pulau yang biasa disebut dengan Pulau Melintang oleh warga pulau ini disebut Pulau Bintang karena terumu karangnya yang cantik dan banyak Bintang Lautnya! Lucu banget pokonya bisa, bikin makin betah tahan nafas dalem air! :D

Menyelam bebas di Pulau Bintang

Eits, tapi jangan coba-coba pegang Bintang Laut ini ya! Meskipun lucu, tapi Bintang Laut ini menderita loh kalau kamu pegang dan kamu keluarkan dari dalam air. Ditambah lagi di Pulau Bintang ini banyak banget Karang Api. Karang Api ini kalau tersentuh akan memberikan sensai terbakar pada kulit dan bisa bikin kulit melepuh, jadi kalian harus berhati-hati. Karang Api ini memiliki berbagai macam bentuk, tapi yang paling sering dijumpai dia berbentuk kubah yang terbentuk dari karang-karang ramping yang rapat.

Ngga mau kan lagi seru-serunya snorkeling terus kulit melepuh gara-gara kena Karang Api? Jadi jangan coba-coba pegang yaa, biasanya guide akan mengingatkan kita kok. Bukan Cuma Karang Api yang jangan coba-coba dipegang, tapi semua karang! Terumbu Karang itu hewan yang rapuh, kepegang sedikit aja bisa-bisa patah, dan buat tumbuh kembali dia butuh waktu bertahun-tahun bahkan kalau Terumbu Karang tidak kuta, dia bisa mati. :(

Pulau Kayu Angin

Matahari mulai turun perlahan, kami pun kemudian bersandar di Pulau Kayu Angin. Pulau tak berpenghuni dengan pasir putih dan warna laut yang biru kehijauan menjadi tempat yang tepat untk menikmati momen senja disini. Kami pun bersantai di pantai sambil menikmati pemandangan.

Sayangnya, pengunjung yang juga ingin menikmati sunset sore itu sangatlah banyak. Sehingga kami berempat agak kurang menikmati, sedangkan teman-teman kami yang bersebelas tetep asik foto-foto aja. Ketauan banget yak kita doyannya yang sepi-sepi bukan tempat wisata mainstream. :p

Senja di Pulau Kayu Angin

Kembali Ke Pulau Perak

Matahari pun telah terbenam, kami pun kembali ke Pulau Perak. Ssampainya di Pulau Perak kami semua bernita untuk mandi, namun pengunjung Pulau Perak yang hari itu cukup banyak dengan kondisi kamar mandi yang cuma ada satu dan harus nimba pula, bikin kamar mandi jadi super ngantri! Akhirnya kebanyakan dari kami menyerah dan memilih buat ngga mandi. Tapi masih ada aja yang berjuang demi raga yang bersih. :D

Seharian main di laut, perut pun lapar. Waktunya makan malam! Guide kami sudah menyiapkan nasi dan ikan sebagai lauknya. Ikannya ngga nanggung-nanggung, Kakap Merah 2,5 kg yang super besar banget, Tenggiri, Baronang, dan Ikan Bawal. Sambil membakar ikan, kami pun sudah menyiapkan baso dan sosis buat dibakar juga, sementara yang lain menyiapkan sambel kecap sebagai penambah selera.

Sajian pun siap! Ikan bakar yang banyak banget punludes seketika disergap oleh kami semua yang kelaparan. Rasanya nikmat sekali makan malam dengan ikan laut bakar di tepi pantai sambil ditemani deburan ombak dan langit malam yang cerah dan indah, bareng temen-temen yang juga menyenangkan. :’)

Selesai makan, kami pun berkumpul dan berbincangbincang bersama sambil saling berkenala lebih jauh lagi satu sama lain. Tak terasa waktu pun menunjukkan pukul 11 malam, dan akhirnya kami pun mulai tertidur.

Selamat pagi! Buka mata langsung disambut sunrise di depan mata yang luar biasa indah! Matahari tampak perlahan naik di depan mata saya, memantulkan sinarnya yang masih malu ke laut dan menciptakan gradasi yang indah, disertai awan yang cerah. Ahh.. Walaupun dapet spot di belakang pulau, but this is the best spot ever!

Menikmati pagi di pantai depan tenda di Pulau Perak

Sekitar pukul 8 kami mulai berkemas untuk kembali pulang ke realita kehidupan. *hiks!*

Sebelum kembali ke Pulau Harapan, kami mampir dulu ke Pulau Panjang untuk sekedar berfoto-foto. Pulau Panjang merupakan pulau pribadi yang berdiri satu resort diatasnya. Pulau ini sedang kosong saat kami kunjungi, dan saya memilih diam di dermaga saja dantidak mengelilingi pulau. Selain karena saya sudah pernah mengunjungi pulau ini, saya juga sempat memiliki pengalaman yang kurang enak disini.

Di dermaga Pulau Panjang

Setelah itu kai juga mengunjungi Pulau Kelapa 2 untuk melihat penangkaran penyu. Penangkaran penyu ini biasanya diisidengan tukik-tukik (anak penyu) yang masih unyu-unyu. Tapi saat itu ada seekor penyu yang cukup besar tapi ditaruh di kolam yang sempit banget! Selain itu banyak yang mengangkat-ngangkat si penyu hanya untuk foto bareng. Padahal si penyu dari awal dipegang aja udah keliatan ketakutan. :(

Saya coba mengingatkan teman saya dengan mengatakan, “Gausah diangkat-angkat gitu, kasian Penyu-nya.” Tapi mereka malah berdalih, “Kapan lagi foto bareng Penyu!” Errrr.. Bahkan penjaga penangkaran pun mengiyakan dengan mengatakan, “Gapapa kok asal jangan lebih dari 2 menit.” Tidak hanya teman-teman saya, tapi juga rombongan lain tidak berprikemakhlukhidupan, ahkan pada tukik yang masih bayi dan kerapasnya masih rapuh itu. :'(

Ini jangan ditiru yaa, kasian penyunya :(

Sebelum meninggalkan Pulau Kelapa 2, saya kebelet uang air kecil! Akhirnya saya melihat mesjid di dermaga pulau dan bertanya terlebih dahulu kepada warga, katanya sih boleh dicoba aja. Pas saya ke toiletnya memang sempit dan gelap sih, mungkin ini yang katanya boleh dicoba aja. Saya baru sadar ketika sedang di dalam toiletya, ternyata ada kulit Sting Ray yang sedang diawetkan! Aaaaa.. Saya buang air kecil sambil diliatin sama Sting Ray yang tersungkur dipojokan toilet, lumayan banget deh sensasinya. :’|

Sampai di Pulau Harapan KM Dolphin sudah menanti, saatnya pulang! Dadah pulau, dadah laut, dadah alam, kita pasti bakal ketemu lagi secepatnya!

3 jam kemudian KM Dolphin bersandar di Pelabuhan Muara Angke, kami semua bersama-sama ke Kota Tua dan akhirnya berpisah dengan kesebelas teman kami yang dari Jakarta. Perjalanan kami berempat belum berakhir, tapi kami sudah memutuskan akan pulang ke Bandung menggunakan travel dari Sarinah. Tapi sayangnyaTrans Jakarta ke arah Blok M ngga jalan karena lagi ada festival di Monas. Tapi kami memutuskan untu naik taxi ke Sarinah. Setelah susah payah dapet taxi, kami masih harus bersabar karena jalanan Jakarta yang super macet!

Sejam lebih kemudian kami baru tiba di Sarinah dan Baraya pun waiting list. Kami pun mencari travel lain, ternyata Star Shuttle yang tak jauh dari situ masih kosong dan armadanya belum datang karena macet. Yeayy! Bisa makan dulu. :D

Entah kenapa Sarinah malam itu super ramai. Pertama kami mendatani KFC, ngantrinya super. Lalu McDonald, super ngantri juga. Kami pun ke seberang dan memasuki Burger King, sama-sama ngantri! Hampir nyerah, kami pun berniatmencari warteg yang sepi. Tapi ketika melewati KFC kembali ternyata KFC antriannya ngga seramai yang lain. Jadilah kami makan KFC sebagai makan malam.

Yah begitulah perjalanan Tim Mentel yang cukup berliku. Tapi lebih seru daripada perjalanan yang terrencana dengan rapih kan? See you next trip! :D

Mau liat video perjalanan kami selama di Pulau Perak? Klik link dibawah ini ya! :D

https://vimeo.com/70098024

Advertisements