Aku termenung. Bagaimana bisa ini terjadi pada kita? Adakah ini merupakan peringatan menuju akhir? Tidak. Bukan ini akhir yang kuinginkan, dan bukan juga akhir yang kita dambakan. Aku tidak tau apa yang mengubahnya, mengubah kita, mengubah semua kebiasaan menjadi sebuah tuntutan untuk beradaptasi terhadap hal baru yang menghilangkan rasa nyaman dan aman. Kamu berubah.

Kita memang terpaut jarak. Beruntung jarak diantara kita hanyalah terpisah daratan yang membentuk lembahan dan pegunungan, bukan terhalangi oleh lautan dan bahkan zona waktu. Namun jarak pun runtuh saat kita memadu menjadi padu, kita tetap dekat, raga kita memang jauh namun jiwa kita terikat. Walaupun aku menjalani hari-hariku sendirian, tapi aku tidak pernah merasakan kesepian. Dulu. Ya, itu dulu.

Kini aku merasa hampa, ruang yang terisi penuh olehmu kini mendadak menjadi kosong. Kosong tanpa asa yang menyongsong. Kini aku tau rasanya sendirian. Kamu ada, ya kamu tetap ada, tapi tidak lagi selalu ada untukku. Bahkan pada saat yang kubutuhkan pun kamu tidak lagi pernah ada.

Apa gunanya aku memilikimu? Jika aku telah kehilangan kasihmu. Untuk apa lagi aku bertahan? Jika kita kini telah kembali menjadi aku dan kamu. Apa artinya memperjuangkan? Jika kamu enggan bertekad dan kembali menggenggam tanganku untuk melangkah bersama.

Entahlah. Aku pun tidak tau kenapa aku tetap diam, tidak melaju satu langkah pun walaupun memungkinkan adanya harapan baru untuk dituju.

Hatiku bergemuruh, tapi aku enggan menjauh dari kamu.

Advertisements