Melihat kembali putaran film Habibie dan Ainun malam ini di salah satu saluran televisi Indonesia, membawaku teringat akan kamu. Iya, kamu. Kamu dan aku, kita. Kenangan pagi hari kita di Pulau Dewata, bukan kenangan yang indah utuk dikenang, tapi sedikitnya ada kenangan manis yang membuatku tersenyum sendiri di sudut kamar. Kenangan yang rasanya seperti cokelat hitam, pahit tapi manis, kolaborasi rasa yang sangat nikmat di lidah.

Aku terhempas, mataku berkelana ke langit-langit kamar, pikiranku melayang pada kenangan kita di awal tahun 2013 ini.

Malam itu kita berdua tiba di Pelabuhan Lember, mulai kehabisan uang setelah sepekan perjalanan kita menjelajahi Lombok. Akhirnya kita menumpang sebuah truk tronton, mulai menaikinya di parkiran pelabuhan, dan memasuki kapal bersama terparkirnya truk yang kita tumpangi di dalam kapal feri yang akan membawa kita menuju Pelabuhan Padang Bai.

Setelah truk terparkir rapih, supir truk yang berbadan kekar dan berambut gondrong yang telah memutih itu mengisyaratkan kami untuk turun dan kembali ke truk saat kapal akan mulai bersandar di Pelabuhan Padang Bai nanti. Setelah mencari tempat duduk, tubuh kita terlalu lelah untuk tetap terjaga menikmati perjalanan laut tengah malam itu. Aku dan kamu pun mulai terlelap, bersama berlayarnya kapal mengarungi Selat Lombok.

Jam tiga dini hari kapal mulai bersandar di Pelabuhan Padang Bai. Kamu menggenggam tanganku, membangunkanku yang menyandarkan kepalaku di bahumu dengan lembut, menuntunku yang masih gontai menuruni tangga kapal, menuju angkutan yang akan membawa kita hingga Denpasar. Seduduknya kita kembali di dalam truk, kamu membiarkan aku melanjutkan mimpiku lagi di pundakmu.

“Ini sudah di Denpasar, kalian mau turun di sebelah mana? Kalau mau ke Pulau Jawa, ikut Saya aja sampai Banyuwangi. Dari situ banyak teman-teman Saya kok yang ke arah Jakarta.” Ucap pengemudi truk tronton yang membawa kami sedari Pulau Lombok.

Aku pun terbangun, mencoba menyadarkan diri secepat yang dibutuhkan otak untuk berfikir. “Makasih, Pak. Tapi kita udah punya tiket pesawat langsung ke Bandung.” Jawabmu pada tawarannya.

Dalam gelap, aku melihat cahaya dari restoran cepat saji di ujung jalan. “Berhenti di depan saja. Kita lewati gelap disana sambil menunggu pagi.” Bisikku padamu.

Kita pun turun di Jalan Gatot Subroto Denpasar, tepat di depan restoran cepat saji berwarna kuning, tapi aku dan kamu memilih duduk di restoran cepat saji berwarna merah seberang jalan. Menunggu pagi, melewati waktu denganberbincang banyak hal, dari barat hingga timur, bahkanperbincangan bisa dengan cepat berganti halauan ke utara.

Aku ingat, saat itu fajar telah bersinar dan mulai menghangatkan bumi. Saat dahimu mengernyit, memandang nanar pada layar laptop, mengarahkan telunjukmu pada wajahku, dan meninggikan suaramu tepat di nada menghakimi. Aku ingat, kamu naik pitam. Kamu tidak peduli pada apapun lagi kecuali amarahmu, hingga tubuhmu gemetar, urat nadimu menonjol di permukaan kulit, suaramu pun bergetar. Aku ingat, aku tidak bisa berkata apa-apa kala itu. Aku hanya bisa tertunduk mengaku salah, tidak ada pembelaan yang keluar dari bibirku. Tidak, aku tidak sanggup membela diri, bahkan menangis sebagai tanda peyesalan pun aku tak sanggup.

Aku menelan mentah-mentah semua tuduhanmu, menarik nafas panjang untuk meringankan sesak di dadaku. Kamu pun berkemas, beranjak pergi dari tempat itu. Aku bingung, hanya diam. Hingga akhirnya sentakanku menyadarkanku dan membuatku mulai melangkah mengikuti punggungmu.

Langkahmu cepat pagi itu, menyusuri jalanan Denpasar dengan tergesa-gesa. Tubuhku yang lemas tidak bisa mengikuti. Sesak sekali rasanya, aku terbiasa dengan kamu berjalan disampingku, berjalan bersama-sama dengan tujuan yang sama. Tapi kini kamu berjalan di depanku, jauh, tanpa peduli aku mampu mengikutimu atau tidak.

Semakin lama punggungmu semakin jauh. Kamu mulai menghilang dari pandanganku. Hingga akhirnya aku menemukanmu kembali di persimpangan jalan, kita berhadapan, aku menatapmu lesu, dan kamu hanya mengacuhkanku dengan tatapan ganas. Sedih. Kamu berbelok hanya untuk kembali memenuhi paru-parumu dengan asap, menyakiti kembali dadamu yang sudah keletihan menghadapi nikotin. Aku semakin menyalahkan diriku sendiri.

Kepalaku sakit. Banyak pikiran melintas di benakku. Dadaku sesak. Banyak rasa yang menghimpit hatiku kala itu. Tubuhku lemas. Nampak seluruh syarafku mengikuti hati dan pikiranku yang gontai. Kamu berjalan semakin cepat, sedangkan kakiku semakin lambat. Aku dan kamu, semakin berjarak..

Hingga akhirnya aku tak tahan lagi, aku menghentikan langkahku hanya untuk memberikan sedikit ruang untuk bernafas, untuk memerintahkan seluruh tubuhku agar tenang. Namun kamu langkahmu pun terhenti, kamu berbalik manghadapku. Aku tak kuat lagi! Sungguh aku tak kuat lagi!

Aku hanya berpura-pura tertawa, sambil menahan himpitan perih di hati dan mulai menutup mulutku dengan tangan kiriku. Sembari tanganku melambai kearahmu, mengisyaratkan agar kamu terus melangkah maju.

Kamu mulai membalikkan seluruh badanmu, membuang nafs panjang dan menarik ujung bibirmu yang tadinya mengerucut. Membuang rokok yang baru saja kau bakar di tangan kananmu, dan mulai melangkah cepat ke arahku. Memelukku erat dan membelai rambutku. Tangisanku pecah. Yang bisa kulakukan hanya menangis, bahkan untuk membalas pelukanmu pun aku tak sanggup.

Kamu mulai berbisik, menenangkanku dengan suara beratmu yang lembut. Mulai kembali tersenyum agar aku berhenti terisak, sambil terus membelai rambutku. Kamu membawaku duduk di tepi jalan, berbicara lembut dan memulai perbincangan hangat yang menjelaskan segalanya. Aku dan kamu kembali bertukar pikiran, menjernihkan pikiran dan kembali menghangatkan suasana.

Satu jam, dua jam, lebih. Kita terduduk memecahkan permasalahan, hingga kembali bersenda gurau di trotoar depan pagar rumah orang. Tak menghiraukan jalanan ramai, lalu lalang orangmelewati kami, bahkan tak sadar kalau matahari telah naik diatas kepala kami.

Ya, badai telah berlalu. Untunglah tidak berlangsung lama. Kamu mulai menggenggam tanganku kembali dan mengajakku berjalan bersamamu berdampingan. Menyusuri jalanan denpasar hingga melewati Legian, dan akhirnya terhenti di Kuta. Menghampiri Pantai Kuta dan membeli dua bungkus Nasi Campur yang dijajakan di pinggir jalan Pantai Kuta untuk makan siang. Melewati siang yang panas dan tertidur lelap di atas pasir pantai ditemani deburan ombak dan angin pantai yang menyejukkan. Hari itu, Pantai Kuta seperti selaras dengan suasana hati kami yang tenang dan damai. Pengunjung yang tak terlalu ramai, cahaya matahari dan langit biru yang indah, sehingga memantulkan warna biru laut yang memikat.

Matahari tampak mulai turun, menandakan kami harus beranjak menuju bandara. Dengan malas kita terbangun, membersihkan pasir-pasir yang menempel di pakaian kami. Melangkahkan kaki dengan enggan menjauhi Pantai Kuta, berjalan menyusuri jalanan menuju Bandara Internasional Ngurah Rai ditemani senja yang indah.

Advertisements