Kala itu saya sedang melakukan perjalanan ke Daerah Istimewa Yogyakarta, namun perjalanan saya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Rencana saya semuanya berantakan dan saya benar-benar tidak punya rencana apa-apa lagi dalam menghabiskan waktu saya di Jogja. Siang itu saya hanya berkeliling Yogyakarta dengan sepeda motor teman saya tanpa memiliki tujuan yang pasti, dengan asal saya membanting stir ke kanan dan ke kiri mengitari Jogja yang terik siang itu.

Tiba-tiba telepon genggam saya bergetar, saya berhenti sejenak untuk membaca pesan singkat yang masuk. Ternyata teman saya, dia mengajak untuk mengunjungi Sendang Sono yang katanya cocok buat ‘ngadem’ apalagi saat itu saya sedang mumet. Teman saya merekomendasikan Sendang Sono juga karena direkomendasikan teman kami dari Jakarta yang sudah pernah kesana, katanya tempat itu juga cocok untuk mencari inspirasi bagi teman saya yang suka menggambar.

Meluncurlah kami siang itu ke Sendang Sono, yang menurut Mbah Google ada di wilayah Kulon Progo, ke arah barat dari Yogyakarta. Dengan hanya bermodalkan niat kami melaju ke arah Wates, yang selanjutnya kami hanya megandalkan mulut untuk bertanya kemana arah untuk mencapai Sendang Sono.

Satu jam perjalanan sudah terlalui, namun kami masih belum mencapai Sendang Sono. Ketika kami dihadapkan pada pertigaan, kami berhenti sejenak untuk bertanya arah pada warga sekitar. Ternyata.. Kami salah jalan! Jalan yang sedangkami tuju ini ternyat untuk mencapai Puncak Suroloyo, bukan Sendang Sono.

Puncak Suroloyo yang saya tau berada di Magelang, ternyata juga bisa dicapai melalui Kulon Progo. Puncak Suroloyo dikenal untuk menikmati matahari terbit dan Daerah Istimewa Yogyakarta dari ketinggian, tempat yang indah dan cocok untuk mencari udara segar. Namun karena sudah mulai sore, kami pun memutuskan kembali menuruni perbukitan untuk tetap menuju Sendang Sono.

Satu jam kemudian. Setelah melalui jalanan perbukitat yang menanjak dan menurun, juga jalan memutar karena jalan utama menuju Sendang Sono sedang di aspal, akhirnya kami pun tiba di Sendang Sono. Ternyata pengunjung Sendang Sono kala itu sedang tidak ramai, malah bisa terbilang sepi. Baguslah, karena saya tidak begitu menyukai tempat ramai.

Ternyata Sendang Sono ini merupakan komplek pemakaman umat kristiani,namun tetap dibuka untuk umumkarena memiliki arsitektur yang luar biasa cantik. Saya kurang tau berapa luas pastinya, tapi Sendang Sono ini memiliki areal yang luas dengan dikelilingi pohon-pohon besar yang meneduhkan. Ada banyak gazebo disini, juga tempat duduk-duduk untuk menikmati kesejukan Sendang Sono juga arsitekturnya yang unik. Tidak heran jika Sendang Sono ini pernah dianugerahi penghargaan arsitektur terbaik.

Selain itu, ternyata juga Sendang Sono ini pernah dipakai syuting film 3 Hari Untuk Selamanya yang diperankan oleh Nicholas Saputra. Entah di scene yang mana, tapi memang Sendang Sono ini sangat cocok untuk empat mencari inspirasi, melepas penat, pacaran, bahkan buat yang lagi galau. :p

Well, pemandangan di Sendang Sono bisa dilihat di beberapa foto berikut ini. Selamat menikmati! :)

Advertisements