Aku berbaring di dalam tenda dengan tubuh diselimuti kantung tidur, sambil melihat punggung itu. Punggung itu terduduk di mulut tenda dengan kemeja kotak-kotak melapisi tubuhnya dan sebatang rokok tersemat diantara jemari tangan kanannya. Dia terus berceloteh tentang segala macam hal, sambil terus menghisap rokok ditangannya sedemikian cepat, sehingga memunculkan kepulan asap bagaikan cerobong kereta api yang terbang keatas langit.

Setelah dia selesai dengan rokoknya, lalu dia berbaring disampingku, mulai menutupi tubuhnya dengan kantung tidur, mulai bercengkrama bersama melewati malam dingin di Jayagiri. Celotahannya semakin melebar, semakin dalam, kami mulai bercerita mengenai hati, hati yang terusik namun tetap memiliki keyakinan akan hati lainnya juga memilih untuk setia.

Kami pun terlarut dalam sunyi, semua keluh kesah dan resah telah termuntahkan. Malam pun mulai berganti menjadi pagi, dengan hawa dingin yang semakin meraba. Bibir kami mulai menutup, kami mulai diam. Sunyi mulai menyapa dan matapun perlahan terpejam, kami pun tertidur lelap malam itu. Seakan lega telah saling berbagi luka yang tidak pernah terungkap.

Aku terbangun, saat aku mendengar teriakan akan takjub pada lembayung mentari yang menyambut kami tepat dihadapan mata saat kami membuka tenda. Walau kabut tebal menyelimuti, matahari tetap tidak menyerah untuk menyinari bumi. Tapi aku memilih berbaring lagi. Menarik nafas dalam-dalam, membiarkan dingin merasuk melalui rongga hidung lalu memasuki paru-paru. Aku meratapi langit-langit tenda sambil berusaha mengerti, mengapa kamu selalu memenuhi pandanganku dan meyesakkan dadaku setiap pagi?

Tapi ini bukan tentang aku, ini tentang dia. Sekali lagi aku mengambil nafas dalam-dalam sambil berusaha kembali terpejam.

Saat mentari telah sempurna menyinari bumi, aku benar-benar terbangun. Kunikmati pagi dengan berdiam di mulut tenda, menikmati alam yang menenangkan sambil terus mengabaikan dialog antara hati dan pikiran, mengamati tingkah konyol manusia yang berjalan denganku sedari kemarin. Senyumku merekah, indahnya pagi ini.

Hingga saat dia berteriak memanggil namaku. Aku hanya menyahut dan tetap berdiam di tenda. Aku belum melihat wujudnya, tapi suara nyaringnya mengisyaratkan dia baik-baik saja. Sampai dia muncul dihadapanku, berbicara dengan nada rendah namun cepat, meluapkan segalanya. Meluapkan apa yang menusuknya di jarak 20 meter dari tenda kami berdiri.

Aku mendengarkan dengan seksama, mencoba sedikit menenangkannya, sambil menarik dia duduk diluar tenda. Menyalakan musik dan bernyanyi keras, sambil menikmati kudapan yang ada, berusaha membuat suasana ceria dan baik-baik saja. Berusaha membuat punggungnya tetap tegap, walau jiwanya yang rapuh kini sedang terkoyak, dikhianati tepat di depan kepalanya, dihujam rasa sakit tanpa ampun.

Namun keresahannya tidak bisa disembunyikan, dan tetap tidak ada yang mengerti. Dia menghisap rokoknya cepat, hingga batang terakhir yang dia punya. Dia menggegaskan kami untuk segera merapihkan peralatan kami, dan sesegera mungkin menuruni bukit ini melewati hutan pinus dan kembali pulang.

Di perjalanan, dia berlari. Menghiraukan turunan bebatuan terjal dan licinnya tanah gembur, berlari melewati hutan pinus yang indah. Namun tidak semua orang berlari sekencang dia, tidak semuanya inginmelewati keindahan ini secara cepat. Indah bagi mereka, bukan untuk dia.

Kami berhenti, untuk beristirahat dan sekedar menikmati alam. Tidak, dia tidak ingin berhenti, setidaknya bukan disini.

Dia meminta izin, untuk menuruni bukit ini lebih dulu, sendirian. Semua bertanya-tanya, namun aku mengeraskan suara, “Ketemu di bawah ya.”

Dia mulai berbalik, bersiap menuruni Jayagiri sendirian. Sekali lagi aku bertanya padanya, “Mau sendirian atau ditemenin?”

Dia tetap teguh, dia ingin sendirian. Dia melambaikan tangan sembari berlari. Menjauhi kami yang sebagiannya memiliki pertanyaan besar untuk dia, bertanya-tanya sambil melihat punggungnya menjauh. Punggung yang berusaha tegap itu menghilang dengan cepat dibalik hutan pinus.

Berlarilah. Sekencang yang kamu bisa. Menghilanglah. Jangan pernah melihat ke belakang. Pahamilah. Semua rasa yang berkecamuk. Lepaskanlah. Semua sakit dan terus berlari.

Nikmatilah kesendirianmu. Tegapkanlah punggungmu. Sembunyikanlah rapuhmu. Karena aku tau, rasanya jadi kamu.

Advertisements