Mimpi berakhir saat mata teruka di pagi hari. Bersiap menjalani hari, menghadapi jalanan Bandung di pagi hari yang semerawut, hanya untuk terduduk di depan layar monitor sepanjang hari. Tubuh baru bisa menikmati waktu istirahatnya saat malam telah larut, kemudian mata terpejam dan mimpi kembali berlangsung. Ketika mata terbuka dan mimpi berakhir, semua adegan itu pun menjadi rutinitas. Kembli berulang dan menjadikan hidup serasa monoton. Jenuh? Sangat.

Akhirnya aku memutuskan untuk menghilang sejenak, untuk sekedar mewarnai hidupdan melihat apa yang belum pernah kulihat. Tidak laa, hanya sepekan saja ke pulau seberang.

Singkat cerita, penjelajahanku di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan harus berakhir di Pulau Cangke. Tanpa sadar, sudah 3 hari aku jauh dari yang namanyal sinyal. Aku benar-benar menghilang secara sempurna dari realita, dan malam terakhir di Pulau Cangke sangat menyempurnakan pelarianku.

Setelah kapal kami berhasil bersandar di Pulau Cangke setelah ersusah payah karena kapal kandas terkena karang, kami mendapati penghuni pulau yang menyambut kami dengan hangat. Sepasang suami istri yang sudah tua renta yang sudah sedari tahun 1960 berdiam di pulau ini.

Sang kakek tidak bisa melihat, matanya buta sedari kecil. Namun beliau memiliki tawa yang menggelegar, tawa lepas tanpa beban yang belum tentu kami punya meskipun kami masih memiliki panca indra secara sempurna. Sang nenek yang setia menemani kakek, selalu sabar menuntun dan menyuapi sesuap demi sesuap makanan untuk suaminya, tanpa lelah dan keluh, terlihat tulus mendampingi satu sama lain. Aku dan teman-temanku sangat terharu melihat mereka, mungkin inilah yang sering dongeng katakan sebagai cinta sejati.

Kehangatan Pulau Cangke tidak berhenti sampai disitu. Kami berjalan ke belakang pulau untuk menikmati senja, kami harusmelewati pepohonan dengan daun-daun kering yang berguguran, disertai sorotan cahaya senja yang menerobos masuk melalui celah-celah dedaunan.Sangat indah, bahkan tangkapan kamera pun tidak dapat menggambarkan secara sempurna keindahan yang kami nikmati dengan pandangan mata kami.

Setelah puas menikmati senja, seakan pulau ini masih belum selesai memberikan kejutannya kepada kami. Kami menikmati malam dengan berbaring di dermaga. Hingga akhirnya bulan perlahan muncul, dengan malu-malu perlahan naik ari balik samudera. Laut pun merefleksikan pancaran cahaya bulan yang indah hingga bulan dengan sempurna menyinari Pulau Cangke. Ditemani ribuan bintang yang indah dan lintasan bimasakti yang secara jelas menunjukkan jalurnya.

Ah, pelarianku kali ini sungguh sempurna. Aku semakin mensyukuri anugerah Tuhan dan semakin kecanduan untuk menjejaki sudut lain Indonesia. Kejenuhanku akan rutinitas dengan sempurna menghilang, semangatku untuk menjalani hari telah kembali, aku seakan terlahir kembali. Terima kasih semesta atas seua kejutan indah dalam pelarianku kali ini.

 

Written for CS Bandung Writers Club #1

Theme: Eureka Moment

Advertisements