Sleeping bag? Apa yang akan aku ceritakan tentang seonggok kantung tidur itu?

Kusibak kotak kelambu usang dipikiranku, lalu menelusuri labirin kenangan untuk menemukan apa yang ingin kucari. Dan kuterhenyak ketika menemukan kisah perjalananku yang terdahulu.

Saat itu aku masih sering berjalan bersama mereka, dua teman sinting yang selalu melangkah bersama dalam pencarian jati diri kami. Suatu ketika kami memutuskan untuk melakukan perjalanan kecil ke utara kota, ke satu gunung yang memiliki ketinggian sekitar dua ribu meter diatas permukaan laut. Gunung Burangrang.

Untuk mencapai titik awal pendaikan, kami harus berjalan sekitar satu jam melewati desa di Sukawarna, Lembang. Namun saat perjalanan itu aku tiba-tiba saja berubah pikiran, aku tidak mau mendaki Gunung Burangrang. Aku ingin ke Situ Lembang.

Situ Lembang memang memiliki jalur yang sama dengan Gunung Burangrang. Namun kedua temanku yang sudah haus akan pendakian dan obsesi untuk mencapai puncak, tidak setuju dengan perubahan rencana kami. Mereka pikir tidak ada tantangan untuk mencapai Situ Lembang. Namun kala itu aku masih kekanakkan dalam menyikapi penolakkan. Aku tertunduk, bibirku melengkung kebawah, dahiku mengkerut, dan aku diam seribu bahasa selama perjalanan. Kalaumengingat sikapku 7 tahun yang lalu itu rasanya aku ingin menertawai diriku sendiri. Hihi! :)

Akhirnya kedua temanku luluh. Ketika kami tiba di Lawang Angin, kami mengambil jalan ke kanan menuju Situ Lembang, bukan jalan ke kiri ke arah hutan pinus lalu menaiki Gunung Burangrang. Raut wajah dan suasana hatiku pun langsung berubah girang.

Situ Lembang (Source: infobdg.com)

Kami berjalan melewati jalanan bebatuan menuju Situ Lembang selama kurang lebih 3 jam. Ketika telah sampai di gerbang Situ Lembang, kami disambut dengan hujan lebat disertai angin kencang. Seketika langit menjadi gelap gulita dan kami pun segera berlari mencari lahan kosong di tepi danau. Kami segera membuka fly sheet, setidaknya agar kami bisa belindung dari derasnya hujan. Sambil berteduh, salah satu temanku membuka carriernya untuk mengeluarkan tenda dan merangkainya secepat kilat. Bungkusan tenda pun dibuka, tapi ternyata temaku lupa membawa frame tendanya! HAH!

Kami pun terjongkok dan termenung dengan pakaian yang setengah basah dibawah fly sheet. Kebingungan dengan apa kami bernaung melewati malam yang sangat dingin disini. Akhirnya kami memutuskan untuk membangun bivoak saja dengan menggunakan fly sheet.

Sekitar satu jam kemudian hujan berhenti. Kami mulai mengeluarkan diri dari lindungan fly sheet dan mulai mencari kayu untuk menopang bivoack kami. Untung saja fly sheet yang kami bawa cukup besar, cukup untuk melindungi kami tidur bertiga. Agar tidak sia-sia, tenda yang tanpa frame-nya itu pun kami jadikan alas tidur.

Perut kami mulai lapar, kami pun mulai mulai membuka trangia dan nesting untuk memasak makan malam. Setelah selesai, tubuh kami mulai kedinginan selepas diguyur hujan dan diselimuti hawa dingin disertai kabut tebal di Situ Lembang. Kami pun memutuskan untuk mulai mengistirahatkan badan.

Ketika aku mengeluarkan sleeping bag danmulai ingin memasukkan tubuhku kedalamnya, kedua temanku termangu menatapku dengan wajah memelas. Aku pun bertanya kepada mereka, “Kenapa kalian? Ngga mau tidur?”

Dengan malu-malu dan muka memelas, mereka pun menjawab. “Barengan lah, Des. Saya ngga bawa sleeping bag, dia juga. Kan niatnya mau tidur di tenda, anget.”

Aku terdiam sesaat dan sedetik kemudian mengeluarkan setengah tubuhku dari dalam sleeping bag dan membukanya sehingga menjadi selimut yang besar dan cukup menghangatkan kami bertiga, sambil berkata “Nih! Tapi aku tidur di tengah yah. Dingin.”

Malam itu pun terasa panjang, karena walaupun kami diselimuti sleeping bag, tubuh kami tetap merasa sangat kedinginan. Karena angin yang masuk secara leluasa dari sisi kiri dan kanan bivoack setinggi 1,5 meter ini. Pada akhirnya, kami pun tetap menghadapi tantangan walaupun menempuh perjalanan yang datar, melawan tusukan dingin semalaman.

Written for CS Bandung Writers Club #2

Theme: Sleeping Bag

Advertisements