Sampai!

Setelah melewati perjalanan dari Tanjung Lesung, akhirnya sekitar jam 11 malam aku dan teman-teman lainnya sampai di Dermaga Sumur, dermaga yang akan mengantarkan kita dengan kapal menuju Ujung Kulon esok pagi. Dua mobil yang membawa 15 manusia yang sakau laut ini pun terparkir manis di depan warung Teh Ita di Dermaga Sumur.

Memang sudah larut malam kala itu, jadi beberapa manusia yang telah memasuki waktu tidurnya hanya turun dari mobil dengan muka bantal sambil membangun tenda dengan lunglai, lalu segera masuk tenda dan kembali bermimpi sejadinya tenda dibangun. Tanpa pikir panjang, mereka mendirikan tenda dibelakang mobil, persis di depan warung Teh Ita, yang ternyata di tengah-tengah jalan! Haha. Tapi karena sudah malam jadi tidak ada yang menghiraukannya.

Beberapa dari kami ada yang masih berbincang-bincang sambil memasak air dan saling berbagi dalam secangkir kopi dan teh. Beberapa ada yang bereksperimen dengan bahan makanan yang dibawa, beberapa yang ada yang mulai tertidur di teras bambu warung Teh Ita.

Setelah agenda arisan malam selesai, kantuk pun mulai datang, satu tenda lagi pun dibangun. Saat aku melihat ke dalam mobil, ternyata masih ada lapak kosong di kursi belakang. Aku pun memilih tidur di dalam mobil bersama Bona di kursi tengah dan Ruby di kursi depan yang entah lagi di negara bagian mana mimpinya.

Karena banyaknya nyamuk disana, aku pun kesulitan untuk tidur. Sekalinya lagi tidur nyenyak, eh handphone ribut terus. Ternyata Mahesa sudah menelfon berkali-kali tapi ngga keangkat. Mahesa dan empat teman lainnya memang menyusul kita malam itu dari Bandung dan dia udah nyampe mesjid Sumur saat itu. Dengan malas aku pun keluar mobil untuk mencari Baduy, karena dia yang tahu jalan. Baduy cuma bilang kalau Mahesa dan lainnya tidur aja dulu disitu, besok pagi dijemput. Setelah aku menyampaikan itu ke Mahesa, dia malah marah-marah karena mobil sedannya kena batu-batu jalan yang jelek terus.

Langit biru yang cerah dan hangatnya matahari menyambut pagiku, aku dan yang lain bersiap-siap untuk naik kapal. Sebelum naik kapal, kita harus naik sampan dulu sekitar 200 meter untuk menuju kapal. Setelah semua orang sudah di kapal, kapal pun melaju. Aku menikmati pagi hari sambil menyantap Nasi Uduk buatan Teh Ita diatas kapal. Ketika yang lain bernyanyi dengan riang, kantuk kembali menghampiriku. Aku pn pergi ke belakang kapal untuk tidur bersama teman-teman yang mengantuk lainnya, untuk mengisi tenaga sebelum menyelam.

Menuju kapal dengan sampan

Sarapan paling nikmat, Nasi Uduk di depan hamparan lautan dan langit biru! :D

Sampai juga akhirnya di Pulau Peucang setelah 3 jam perjalanan. Disini kita izin dulu ke kantor taman nasional, setelah itu kita menuju spot freedive yang pertama.

Memang betul, visibility disini jauh lebih baik dibanding di Tanjung Lesung. Dengan girang aku dan teman-teman yang lain mulai menikmati keindahan bawah laut disana. Setelah 5 jam freedive di spot pertama, akhirnya kami pun bergerak ke spot selanjutnya. Dan saat senja kami kembali ke Pulu Peucang untuk bersih-bersih.

Underwater Ujung Kulon

Sekitar jam 7 malam, kita menuju ke Cidaon, tempat dimana kita akan berkemah. Seru rasanya saat itu, mengarungi lautan di malam hari. Sang kapten dengan cekatan dapat menuju ke arah yang tepat dibantu oleh lampu sorot yang dipegang oleh ABK. Sesampainya di Cidaon, kita langsung ngebangun tenda dan masak-masak. Setelah kenyang, satu persatu mulai tumbang dan tertidur. Angin malam itu cukup kencang, bahkan sempat badai di tengah malam.

Paginya, sebelum kembali menyelam kita trekking dulu sedikit ke hutan di belakang tenda. Disana terdapat savana dimana banteng-banteng sering berkumpul. Tapi sayangnya tidak ada satu pun banteng yang muncul pagi itu.

Setelah puas freedive, siang hari kita kembali ke Pulau Peucang untuk bersih-bersih dan bersiap pulang. Tapi sebelum itu, kita semua ngejailin Bona yang beberapa hari lalu berulang tahun. Bona diborgol di pohon di tepi pantai, hanya menggunakan celana dalam dan bikini hijau terang yang kontras dengan kulitnya. Lalu kita taburi kacang di sekitar dia, berharap dia diserang monye-monyet yang berkeliaran bebas disana. Memang benar monyet-monyet berdatangan, tapi..

Babi hutan juga ikut-ikutan menyerbu!

Malah pake berantem babi-babi itu, bikin Bona langsung manjat keatas pohon. Hahaha! Untung aja biawak ngga ikutan rebutan kacang, bisa-bisa diserang sampai atas pohon SI Bona. :p

Setelah beberapa jam sampai Bona ngambek, akhirnya dia kita turunin juga sambil dinyanyiin happy birthday. Dia pun sampai terharu dan nangis, ngga ajdi deh ngambeknya. :p

Waktu pun semakin berlalu, jam 3 sore kita pun berangkat pulang meninggalkan Pulau Peucang. Di perjalanan, ombak sangatlah tidak bersahabat. Kapal kami benar-benar terombang-ambing ngga karuan. Sampai akhirnya baru setengah jam perjalanan, tiba-tiba badai datang! Hujan lebat disertai angin kencang menyerang kami, walaupun berlindung dibalik flysheet kami semua tetap basah kuyup.

Setelah badai berakhir, ternyata ombak masih juga tinggi, malah bertambah parah. Beberapa kali kapal seperti akan terbalik, dengan mengantuk karena lelah kami tetap siaga menghadapi cuaca itu. Malahan Baduy sudah siap-siap dengan masker dan snorkel terpakai, haha.

Sampai juga di Dermaga Sumur dengan selamat, walaupun selama perjalanan sangat tidak nyaman karena ombak tinggi. Tapi kita semua sangat puas, dan sakau laut kita pun terobati. Keuangan kita pun aman dan sejahtera, walaupun over budget sebesar Rp. 100.000,- dari rencana awal yang hanya Rp. 200.000,- tapi worth it banget kan budget segitu untuk perjalanan sakau laut selama 3 hari ke Tanjung Lesung dan Ujung Kulon? :D

Yeay, mission accomplished!

 

Advertisements