Menjadi manusia yang lebih baik. Ya, seringkali kita mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Introspeksi. Baik atas kesadaran sendiri ataupun teguran Tuhan melalui tangan-tangan manusia maupun seruan alam.

Namun seringkali pula kita menjadi batu, tersungkur kaku dan membiarkan angin kembaikan pergi dan hanya berhembus dihadapan kita tanpa kita tau maknanya. Ya, seringkali kita acuh terhadap tanda-tanda. Merasa menjadi manusia yang paling benar, tanpa sedikitpun retak pada prilaku kita. Tanpa sadar, ataupun seringkali kita sadari, kita melampaui batas arogansi. Sehingga menjadikan diri kita individu yang angkuh dan merasa sanggup berdiri diatas kedua kaki kita sendiri.

Mungkin embun yang melapisi hati kita terlalu rendah suhunya, sehingga kita menjadi sangat kurang peka terhadap isyarat. Bukan hal yang mudah memang untuk merubah sifat buruk, namun menyadarkan diri akan itu juga merupakan hal yang lebih sulit lagi. Mungkin kita harus lebih berusaha kerasuntuk menjadi peka, agar kebaikan selalu berada di pihak kita. Karena keyakinan akan hal baik yang memuai dari diri kita akan melengkungkan senyum di wajah jiwa-jiwa sekitar akan kembali lagi menjadi hal yang lebih baik kepada diri kita, selalu melekat pada dasar hati kita.

Bukan untuk menggurui, bukan pula untuk menghakimi,hanya untuk mengasihi diri sendiri. Menuju pribadi yang menyenangkan berbagai pihak, karena menyenangkan diri sendiri tanpa memperhatikan luka-luka yang terurai karena diri kita adalah egoisme diambang batas. Jadi, rendahkanlah dagumu. Karena kamu tidaklah di ketinggian yang kamu bayangkan.

Teruntuk, kamu. Yang ada dihadapanku malam ini, dibalik pantulan cermin yang tidak pernah mendustai apa yang diperlihatkannya. Semoga kamu bisa selalu peka, menyadari isyarat-isyarat alam yang tipis tapi bermakna. Selalu menjadi dirimu sendiri yang terbaik, tanpa mengurangi kebaikan-kebaikan yang tertera dalam norma.

Selamat merenung, kamu. :)

Advertisements