Siang ini aku melakukan perjalanan dari rumah nenekku di selatan Kota Bandung menuju rumah orang tuaku di timur Kota Bandung. Perjalanan yang seringkali kulakukan, dengan rute perjalanan yang sama, moda transportasi yang sama. Semuanya tampak normal, tapi tidak dengan cerita perjalanan kali ini.

Memang perjalanan bukanlah mengenai tentang destinasi ataupun cara bepergian, tapi juga tentang apa yang bisa kamu ambil dari apa yang menerpamu selama perjalanan itu sendiri.

Di tengah perjalanan, aku mengendarai motorku di kecepatan 40km/jam. Melalui jalan yang sama selama berkali-kali membuatku melamun sepnjang perjalanan, karena alam bawah sadarku pun telah hafal dengan rute perjalanan ini. Tiba-tiba saja aku tertegun, disampingku persis ada seekor kucing! Ya, di tengah jalan! Jalanan padat yang dilalui banyak motor dan mobil yang melaju kencang.

Ilustrasi kucing di tengah jalan. (Source: greatbigcamvas.com)

Mata kucing itu tertutup, dia tertelungkup lemas. Masihkah ia bernyawa? Ataukah dia baru saja tertabrak kendaraan sehingga dia tersungkur lemas disitu? Sambil terus melaju banyak terkaan di dalam pikiranku tentang kondisi kucing itu. Aku hanya berdoa dalam hati, jika memang kucing itu telah tiada, aku harap ada orang baik yang menyadarinya dan menguburnya dengan baik.

Namun tubuhku kali ini tidak bekerja dengan semestinya. Tubuhku tidak selaras dengan pikiranku yang mencoba acuh terhadap kucing itu. Entah kenapa, tanganku menggiringgku untuk mengarahkan motor ke sisi kanan, untuk kembali berputar arah. Terjadi perdebatan kecil di dalam hatiku, tapi aku pun akhirnya berputar arah untuk kembali mengetahui tentang keadaan kucing itu.

Di arah yang berlawanan, pandanganku terus menyapu jalanan di seberang untuk mecari posisi kucing tadi. Ah, pandangan sudut mataku ternyta tidak cukup baik. Aku tidak menemukan kucing itu.

Aku pun kembali menukikkan motorku untuk berputar arah. Itu dia! Aku melihat kucing kecil berwarna kuning itu masih tertelungkup di tengah jalan. Sambil menepikan motorku di sisi kiri jalan, aku melihat mata kucing itu perlahan terbuka. Syukurlah dia masih hidup! :’)

Untunglah saat itu jalanan kosong, karena kendaraan lain sedang tertahan oleh lampu merah. Tetapi saat aku melihat ke arah kanan, ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya! Aku bergegas ke tengah jalan untuk menghampirinya, tapi tiba-tiba saja dia berlari. Berlari menghindari tangkapanku.

Kucing kecil itu berlari ke tepi jalan, ke arah motorku. Lalu dia meloncat ke dalam got. Malangnya, got itu penuh dengan air. Kucing kecil itu pun basah kuyup, bulunya yang berwarna kuning kecoklatan yang bersih kini berubah menjadi kehitaman. Dalam kondisi basah itu tubuhnya terlihat kurus. Kasihan. :(

Ilustrasi kucing yang kebasahan. (Source: petsadviser.com)

Dia berusaha naik keatas got, tapi cakarannya tidak cukup kuat untuk menarik tubuhnya ke atas. Aku coba membantunya naik, tapi dia menghindar dan kembali tercebur ke dalam air. Kucing kecil yang usianya sekitar 3-4 bulan itu kembali berusaha naik, aku pun kembali mencoba membantunya sambil berbicara padanya agar tetap tenang. Dia pun akhirnya mau aku bantu.

Setelah naik ke atas. Dia langsung melepaskan cubitanku di lehernya, lalu berlari melompati got dan menghilang ke dalam semak-semak. Aku hanya tersenyum dan berkata, “Hati-hati ya kucing, jangan tidur ditengah jalan lagi ya. Bahaya.”

Lalu aku kembali menunggangi motorku dan menyalakan mesinnya. Aku pun berlalu dan kembali melanjutkan perjalananku.

Well, kita memang tidak akan pernah tau. Seberapa lama pertemuan kita dengan seseorang dalam hidup ini akan berlangsung, hingga akhirnya bertemu dalam kata perpisahan. Kita juga tidak akan pernah tau, seberapa dalam rasa yang tertorah dalam singkat atau panjangnya waktu pertemuan. Jadi, nikmatilah semua pertemuan yang kamu hadapi. Nikmatilah rasa yang kamu punya, karena bisa saja rasa itu tidak lagi ada di hatimu.

Always trust your feeling. :)

Source: thealbatross.ca

 

Advertisements