Kepulan debu yang berterbangan di tengah jalanan hutan yang diselimuti oleh gelapnya malam tanpa penerangan, menjadi pemandangan yang menemani perjalanan kami menuju Sui Utik. Kencangnya laju kendaraan yang membawa kami dari Putusibau dan jalanan yang berbelok-belok, membuat perjalanan terasa cukup menegangkan.

Sui Utik atau Dusun Sungai Utik terletak di Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Sui Utik bisa dicapai dengan menempuh perjalanan darat selama 20 jam dari Pontianak atau 2 jam perjalanan darat dari Putussibau. Ironisnya, desa yang berjarak hanya 102 kilometer dari perbatasan Indonesia-Malaysia ini lebih mudah dicapai dari Malaysia, karena kondisi jalannnya yang sudah cukup baik dibandingkan dengan kondisi jalan yang ada di Indonseia. Namun masyarakat Sui Utik masih belum meneikmati haknya yang penuh sebagai warga Negara Indonesia, karena Sui Utik masih terisolir tanpa adanya aliran listrik, telepon, dan juga sinyal selular. Masyarakat Sui Utik bertahan dengan keterbatasan yang mereka miliki di era perkembangan zaman yang sangat pesat ini.

Sesampainya kami di Sui Utik, kami langsung disambut dengan ramah oleh Suku Dayak Iban yang merupakan masyarakat adat yang menempati wilayah Sui Utik. Apay Janggut alias Bandi sebagai tuan rumah menyalami kami satu persatu, membuat kami merasa nyaman dan disambut dengan baik oleh masyarakat Sui Utik. Beruntungnya kami, saat kami tiba di Sui Utik mereka sedang bersuka cita dengan berlangsungnya Gawai, pesta adat tahunan setelah panen untuk mensyukuri hasil alam yang mereka peroleh.

Rumah Betang atau rumah panjang yang menjadi rumah adat Suku Dayak tampak terang benderang pada malam itu, seterang kegembiraan mereka dibalik keredupan yang menaungi kondisi desa mereka. Mereka menyajikan berbagai makanan olahan dari hasil ladang milik mereka, menghias rumah mereka dengan berbagai tumbuhan dari hutan, melantunkan doa dalam Bahasa Iban, dan berbagi kebahagiaan mereka pada kami. Sayangnya cahaya yang menyinari mereka pada saat Gawai malam itu adalah energi kotor yang diproduksi dari bahan bakar minyak yang membuat generator mengaliri listrik untuk desa mereka, dan juga mereka harus membayar mahal cahaya yang seharusnya bisa menjadi hak mereka hanya untuk menghidupkannya selama 6 jam setiap malamnya.

Setelah Gawai berakhir, Sui Utik mulai menunjukkan wajah aslinya. Ketika matahari terbenam seluruh desa seketika menjadi gelap, hanya ada setitik cahaya pelita di beberapa titik yang menjadi satu-satunya penerangan di Sui Utik. Pelita ini menyala di sepanjang ruai, atau ruang tamu di Rumah Betang. Redup, sunyi, hitam, begitulah suasana yang tercipta di Sui Utik ketika malam hari. Jam 8 malam seluruh warga sudah masuk ke rumahnya masing-masing, tidak terlihat lagi aktivitas warga di ruai yang gelap ataupun di ruang terbuka lainnya. Hanya ada raungan anjing yang saling bersahutan di kegelapan dan hawa malam yang sunyi, pelita pun perlahan-lahan mati satu persatu tertiup angin malam.

Jika masyarakat Sui Utik ingin menerangi desanya, mereka harus mengorbankan sedikit penghasilannya dari bercocok tanam di hutan mereka untuk membeli solar dengan harga 12.000 Rupiah untuk satu liternya. Untuk memenuhi kebutuhan listrik satu rumah, dibutuhkan 8 liter solar untuk menerangi rumahnya sepanjang malam. Dalam kondisi redup pun, mereka tetap harus membeli minyak tanah seharga 17.000 per liter untuk menyalakan setitik cahaya dari pelita.

Kondisi Dusun Sui Utik ini berbanding terbalik dengan kondisi di dusun lainnya yang juga berada di Desa Jalai Lintang, listrik sudah mengalir ke dusun lain. Salah satu dusun terdekat dari Sui Utik sudah diterangi oleh panel surya berskala besar. mereka sudah bisa bersinar sepanjang hari tanpa harus membuang biaya untuk energi kotor. Namun dibalik cahaya terang dari penggunaan energi terbarukan tersebut, mereka telah membayar mahal dengan menukar hutan mereka dengan izin pembukaan lahan kelapa sawit.

Ketika dusun lain sudah disinari energi matahari sepanjang hari, masyarakat Sui Utik hanya bisa menggigit jari. Mereka bertanya-tanya kenapa mereka harus menanggung ketidakadilan ini. Masyarakat adat Sui Utik telah berusaha beberapa kali mengajukan permintaan pengadaan listrik di daerahnya kepada pemerintah daerah, tetapi hasil dari permintaan mereka selalu nihil. Mereka pun telah berjuang keras menjaga hutannya selama ratusan tahun, membantu mengurangi emisi gas rumah kaca untuk bumi, berkontribusi untuk memberikan nafas-nafas baru untuk dunia, tapi imbalan apa yang mereka dapatkan dari jerih payah mereka? Ditinggalkan.

Mereka ditinggalkan, diabaikan oleh pemerintah yang berkewajiban untuk memelihara kesejahteraan warga negaranya. Mereka dibiarkan terjebak dalam kegelapan, terisolasi dari jangkauan dunia luar.

Namun masyarakat Sui Utik tidak gentar, mereka tetap tegar dan terus berjuang mempertahankan 9.452,5 hektar hutannya yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat Sui Utik selama ratusan tahun. Walaupun hutan adat mereka di klaim sebagai lahan tidur oleh pemerintah dan perusahaan kelapa sawit, mereka tetap mempertahankannya dan berteriak keras bahwa hutan adat mereka bukanlah milik Negara yang bisa direbut dengan semena-mena dan dijadikan HPH atau perkebunan monokultur sawit. Di tengah kegelapan dan ketidakberdayaan, mereka tetap yakin akan ada cahaya terang yang menyinari Sui Utik sepanjang waktu. Masyarakat Suku Dayak Iban di Sui Utik pun terus menghormati alamnya dengan tetap menjaga adat istiadatnya yang selalu diawasi oleh hukum adat yang diputuskan oleh kepala adat.

Kali ini kami berusaha untuk ikut mendukung perjuangan masyarakat adat Sui Utik. Kami mencoba menerangi jalan mereka menuju cahaya, memberikan mereka harapan bahwa mereka bisa tetap bertahan bersama alam yang mereka jaga selama ratusan tahun. Kami mempelajari bersama bagaimana energi matahari bisa menyinari Sui Utik sepanjang hari.

Masyarakat Sui Utik sangat antusias ketika melihat kami membawa panel-panel surya yang akan kami pasang di Rumah Betang Sui Utik. Semangat belajar mereka sangat tinggi, mereka beradaptasi dengan cepat terhadap teknologi dari energi terbarukan, didukung oleh kebutuhan mereka akan tenaga listrik untuk menopang kehidupan mereka di Sui Utik.

Energi positif dari semangat masyarakat Sui Utik yang membara seakan turut serta merasuki kami. Proses belajar dan pemasangan panel surya berlangsung lebih cepat dari yang telah diagendakan. Keinginan mereka untuk segera memberikan cahaya terang untuk Sui Utik membuat masyarakat bergerak cepat.Walaupun kami hanya mampu memberikan mereka cahaya di sepanjang ruai di Rumah Betang, tapi mereka sudah mengkalkulasikan dan berencana untuk mencari cara tercepat agar seluruh titik di Dusun Sui Utik dapat bersinar.

 

Selain mulai menerapkan energi terbarukan di Sui Utik, kami juga mempelajari pengetahuan baru tentang pengefisiensian penggunaan kompor yang hemat kayu bakar. Kami bersama masyarakat adat Sui Utik bersama-sama mencari tanah lempung di sisi-sisi Sungai Utik, membawanya ke pemukiman dan mengolahnya bersama-sama. Selain bermanfaat untuk penghematan penggunaan kayu bakar, kompor ini juga mereduksi asap yang dihasilkan dari kayu bakar, sehingga sangat ramah lingkungan dan dapat menjaga kualitas kesehatan masyarakat.

Kini Sui Utik mulai berpijar. Rumah Betang yang telah menjadi tempat mereka tinggal sedari tahun 1972 kini dapat tetap menyala di malam hari, tidak ada lagi keredupan dari setitik cahaya pelita yang terlihat. Dimulai dari sekarang, dunia akan melihat cahaya terang dari Sui Utik. Dengan semangatnya menjaga hutan, hormatnya terhadap alam, juga menghidupi dunia dengan jutaan oksigen yang terlepas dari pohon-pohon di hutan adat Sui Utik.

 

Published at http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/lentera-untuk-sui-utik/blog/49686/

Advertisements