Dulu tubuhnya berwarna biru, secerah langit pagi di musim panas. Kalaupun dia meredup, dia hanya menjadi teduh untuk sesaat.

Gadis itu seperti bintang pagi, dia bersinar. Sayangnya tidak ada yang pernah melihatnya, karena silaunya matahari pagi selalu mengalahkan sinarnya.

Termasuk sang bintang utara, yang selalu dia jadikan petunjuk. Selama ada bintang utara, dia selalu tahu kemana harus menuju. Walaupun arah angin tersapu hujan badai, ataupun terkaan awan hitam yang menghantui, mereka selalu teguh berjalan beriringan.

Tapi kini mereka tidak lagi dalam satu rangkaian bimasakti. Sang petunjuk perlahan telah memiliki lintasan bintangnya sendiri, tanpa memberi sinyal pada si gadis biru. Entah apa yang ada di lintasan lain, sehingga membuatnya sanggup membuat jeda diantara mereka.

Gadis biru tetaplah biru. Walaupun langkahnya lebih buram, tapi bintang-bintang lain tetap beriringan di lintasan yang sama. Tanpa mereka tahu, perlahan dari dasar wujudnya kebiruannya perlahan mengabu.

Bahkan arah angin mulai meninggalkannya, kini gadis itu telah sepenuhnya abu. Tidak ada jejak kebiruannya yang tersisa.

Putus asa seringkali menghampirinya. Tapi dia tetaplah gadis biru yang teguh, walaupun kini dia telah menjadi abu. Bukan tidak ingin mengambil langkah pasti, tapi masih ada asa tersisa yang bergantung.

Walau raganya diam, jiwanya berkelana liar.

Bersabarlah hey bintang pagi! Musim gugur yang kamu nantikan hanya berjarak sedikit lagi.

Pada saatnya nanti, mungkin kamu bisa kembali menjadi biru. Mungkin juga akan menetap pada keabuanmu.

Tidak ada yang tahu.

Advertisements