Aku terhenyak.

Terlambat kusadari aku telah terbius terlalu dalam.

Aku sadar, namun kemudian aku terlupa.

Mataku tertutup gulita yang menyeruak di hadapan wajahku.

Bibirku terkunci, selayaknya benang hitam telah merajut dan tidak membiarkanku menganga walaupun hanya semili.

Hening. Hanya itu yang kudengar.

Bahkan katahatiku pun tiba-tiba menjadi bisu.

Aku sama sekali tidak kuasa untuk mendengar secuilpun akan nurani.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Dalam sesal aku mereka ulang apa yang tengah berlangsung.

Menelisik sunyi, mencari celah dari sepi yang menjadikan degup kian hiruk pikuk.

Aku mencoba tenang dan mengabaikan bahwa kepercayaanku telah dikhianati.

Aku tertegun, tapi kemudian aku berusaha keras mengendalikan egoku.

Aku hanya diam.

Berpura-pura bisu dengan menghiasi wajah pucatku dengan rekahan ujung bibir yang perlahan melebar.

Jauh di dalam mataku, dapat terliat dengki.

Juga amarah yang tak tersirat pada suatu ikatan yang dunia sebut sebagai..

Persahabatan.

Advertisements