Aku gentar. Ketika rintangan mulai melintang mngancam pertahananku akan kebaikan.

Aku goyah, kembali aku berfikir, kebebasan tanpa batas adalah cara terbaik untuk melaju.

 

Tapi tidak, aku punya aturan! Itu yang membuatku tetap damai.

 

Tapi bagaimana lagi?

Resah ini kian membelenggu.

Memuncak ketika semua hening dan menyusup di ruang hampa.

Mataku hanya bisa menatap jam dinding yang kian berputar tanpa ada arti yang mengalun.

 

Aku..

Bukanlah aku.

Tidak!

Ini aku..

Ya, inilah aku.

 

Seonggo daging yang bernyawa dan sedang berusaha keras untuk tidak menjadi hanya seperti itu.

Advertisements