Malam ini, hanya hembusan angin bersuhu rendah yang keluar dari mesin yang dipuja banyak manusia pembenci udara panas. Tapi dingin ini membawaku kembali pada rasa dingin malam itu, hawa yang sama tapi dengan hembusan yang berbeda. Udara malam itu tercipta oleh dinginnya hawa pegunungan.

Tanpa sadar, rasa telah membawa hatiku berkelana. Kulitku menggigil, tapi hatiku mulai terasa hangat.

Rasa tenang mulai menaungi, tidak ada lagi resah yang hinggap dan seketika mengubah rasa menjadi tak menentu. Ujung bibirku pun perlahan mulai berkembang, melengkung tipis, tapi aku yakin malam itu aku sedang tersenyum lebar.

“Ah, hatiku mulai terasa hangat.”

Tapi waktu perlahan memudarkan ya. Hangat itu mulai menguap dan kembali menjadi embun pagi. Lengkung indah di wajah itu kini perlahan mulai mendatar.

Jangan padamkan! Aku masih ingin merasa hangat, sehangat malam itu.

Aku masih ingin kamu menetap.

Bisa kita bakar lagi dengan api yang lebih membara?

Advertisements