Akhir 2014, saya tersesat dalam harmoni yang saya rasa selaras dengan jiwa saya. Saat itu, saya pikir saya sudah menemukan jalan yang selama ini (mungkin) saya cari. Saya merasa telah menempatkan diri saya pada frekuensi yang tepat, selalu berada dalam kepositifan dalam segala macam hal. Saya merasa bisa mengendalikan diri saya sendiri, bisa selalu menyikapi segala hal dengan baik, walaupun energiyang saya terima dari luar tubuh saya tidak selalu hal yang baik.

Saya pikir saya telah menemukan pribadi saya yang terbaik. Saya merasa yakin, hingga nyaris arogan, bahwa tidak ada hal yang bisa mempengaruhi saya dan merubah saya mengarah pada ketidakbaikan, apapun itu.

Saya salah. Ya, saya terlalu arogan.

Awal 2015, saya sangat menysukuri segala sesuatu pada hidup saya, menghargai seluruh aspek yang membentuk saya hari ini. Baik atau buruk, saya selalu dapat menyikapinya dengan tenang dan dapat berterima kasih pada hal-hal negatif yang pernah saya lalui. Semuanya berjalan baik, saya mengetahui pasti sumber-sumber energi saya, dan saya dapat dengan tegas memilih kebahagiaan-kebahagiaan saya sendiri. Walaupun tidak setiap hal yang terjadi adalah sesuatu yang menyenangkan, tapi saya selalu bisa menyeimbangkan hal-hal yang kurang menyenangkan dengan menanggapinya secara tenang dan dalam pikiran yang positif. Tiap detik saya lalui dengan rasa syukur, setiap langkah saya alun dengan senyum merekah.

Saya pikir saya sudah menang. Sekali lagi, saya memang terlalu arogan.

Tidak beberapa lama setelah selebrasi pergantian tahun berlangsung, semuanya berubah. Hanya karena sebuah kenyataan yang baru saja terungkap, hanya karena sebongkah kisah kelam di hari yang lalu yang awalnya tidak pernah saya sesali. Saya cukup terkejut. Tidak, tidak, saya tidk cukup terkejut, saya sangat terkejut. Tapi saya sama sekali tidak pernah mendapatkan perasaan buruk, tidak pernah sedikit pun terlintas di benak saya bahwa kondisi ini bisa saya alami. Walaupun setelah saya ulur balik waktu, secara rasional dengan merunut beberapa tragedi dan karakter yang tertanam, hal ini memang mungkin terjadi. Sangat mungkin terjadi.

Tapi bagaimana mungkin saya bisa tidak sewaspada ini? Apa karena saya terlalu berpikir positif? Terlalu percaya dengan topeng kebaikan yang selalu dihadapkan di depan muka saya? Apa saya salah jika saya selalu meyakini segala hal yang akan terjadi pada saya adalah sebuah kebaikan?

Tapi malam itu, walau seringkali saya meninggikan suara saya yang menunjukkan amarah, saya tetap bisa tenang. Walau sikap saya penuh kekecewaan, tapi dalam hati saya sesungguhnya tidak merasakan apapun. Saya tidak merasakan gejolak emosi yang negatif. Saya merasa tenang, saya merasa baik-baik saja. Bahkan saya bisa tidur nyenyak tanpa harus menatap nanar langit-langit kamar yang gelap sebelum memejamkan mata ke alam mimpi. Hati saya merasa tidak terganggu, walau pikiran saya tetap menganggap bahwa itu adalah sebuah masalah.

Hari berlanjut terus seperti itu. Saya tetap tenang, merasa tidak ada yang hilang, walau sebenarnya saya telah kehilangan hal yang cukup besar. Sampai akhirnya ada sesuatu yang memberontak. Menyadarkan saya dari kepura-puraan kalau semuanya baik-baik saja. Tiba-tiba semakin banyak tanya yang menyeruak. Padahal pertanyaan yang menumpuk tadi pun masih belum saya dapatkan jawabnya.

Photo: Telaga Warna, Dataran Tinggi Dieng – Taken by: Zamrud Agassi

Bagaimana bisa ini terjadi pada saya? Jika memangini harus terjadi, kenapa harus kembali pada saya? Kenapa tidak berjalan terus saja di jalannya masing-masing? Kenapa saya yang dipilih? Kenapa bisa kebodohan ini harus mempengaruhi saya? Padahal bukan saya pelakunya. Bagaimana mungkin kepercayaan yang direnggut bisa semudah itu saya berikan lagi? Bagaimana bisa mimpi-mimpi yang saya gantungkan di seberang sana tetap bisa saya pupuk tanpa saya turunkan dan memindahkannya ke sisi lain? Kenapa saya tetap diam dan melangkah? Kenapa saya bertahan? Apa memang tidak ada pilihan lain? Kenapa saya menjadi begitu takut? Apa yang saya cemaskan? Toh selama ini apapun yang terjadi yang saya dapatkan selalu yang terbaik. Kenapa saya merasa sangat terancam? Kenapa kerap kali saya curiga? Kenapa jalan pikiran saya berubah? Kenapa saya jadi sering berpikiran negatif? Kenapa sikap saya pun terbawa negatif? Kenapa saya selalu menyalahkan? Tapi memang ini bukan salah saya kan? Lalu kenapa saya harus menerima kondisi ini jika saya tidak salah? Kenapa saya harus merasa berjuang? Untuk apa? Kenapa saya harus memilih ini? Saya bisa memilih yang lain, kan? Kenapa saya harus mempertimbangkan? Kenapa keputusan harus ada di tangan saya? Kenapa semesta tidak mengaturnya lagi? Sehingga saya hanya harus menghadapi, menerima, dan menjalani. Kenapa ? Kenapa? Kenapa?

Ribuan tanya. Tanpa arah. Tanpa jawab. Kalaupun jawabannya harus dicari, saya harus mencari kemana? Pada siapa? Bagaimana?

Lalu saya tetap berjalan, dan berpura-pura semua baik-baik saja. Tapi angin pun tidak bisa berpura-pura hangat di hari hujan. Saya terus bertanya dalam hati, tidak ada yang saya pikir bisa mendengar cerita yang ingin saya bagikan. Mungkin ini yang membuat jiwa saya sakit. Saya tidak lagi setenang dan sebaik sebelumnya,

Saya terus bertanya, pikiran saya tetap tidak mendapatkan jawaban. Saya mulai lelah, hingga ingin menyerah. Tapi bahkan jika saya menyerah pun tidak merubah keadaan, kondisinya tetap begini. Satu-satunyapilihan yang saya punya hanyalah menerimanya.

Lalu saya mulai bicara pada diri saya sendiri. Saya mulai memerintahkan tubuh saya untuk berhenti memproduksi rasa gelisah dan cemas akan hari esok. Saya mengatur hati dan pikiran saya untuk kembali yakin, bahwa semua yang terjadi dan yang saya dapatkan adalah yang terbaik. Walaupun bukan hal yang baik, tapi saya tidak perlu lagi meragukan keburukan akan datang lagi esok. Saya berusaha keras mendatangkan kembali energi baik untuk meyakinkan diriku bahwa esok pagi menawarkan hari yang indah dan penuh hal-hal baik.

Hati saya tetap bergejolak. Ingin berontak. Saya terus melawan. Saya tidak boleh membiarkan keburukan mempengaruhi diri saya. Biar saja orang berlaku buruk pada saya, tapi hal buruk itu tidak boleh mengubah saya ikut-ikutan buruk. Saya harus tetap merefleksikan kebaikan, walaupun mungkin belum sekarang saatnya saya mendapatkan kembali kebaikan yang saya uapkan. Setidaknya saya terus mengakarkan kebaikan, dan tidak menanamkan keburukan.

Lagipula apa pun yang kita berikan akan kembali pada kita kan?

Advertisements