Well well, inilah kasus pertama buat detektif! Yeay! :D

Setelah briefing Detektif Bebas Sampah ID di Urban Centre YPBB Bandung pada hari Sabtu 31 Januari 2015, kami langsung mendapatkan tugas pertama kami sebagai seorang detektif. Untuk survey yang pertama ini, kami ditugaskan berpasang-pasangan dan memilih tiga titik dari banyaknya data lokasi yang disediakan.

Saya sendiri berpartner dengan Jenal. Setelah menentukan tiga titik yang akan kami survey kami pun langsung meluncur ke titik pertama. Titik pertama berlokasi tidak jauh dari Kantor YPBB, tempat daur ulang sampah yang bernama Sekolah Ibu ini berlokasi di Jalan Gagak, Gang Reuma Tengah 1 No. 20. Tidak terlalu sulit untuk menemukan tempat ini, namun sayangnya Bu Etti yang menjadi kontak tempat daur ulang samoah tersebut telah pindah ke Padasuka, sehingga kami hanya bertemu dengan penghuni baru disana yang saat ini telah mengelola tempat tersebut sebagai pusat dakwah untuk anak-anak.

Selanjutnya kami pun meluncur ke arah Kampung 200 di Jalan Sangkuriang, setelah salah jalan, berputar-putar, bertanya-tanya, dan kesana kemari, akhirnya kami tidak menemukan lokasi yang dimaksud. Namun bapak terakhir yang kami tanyai memberitahu kami bahwa ada pengumpul sampah di daerah bawah. Namun kami memutuskan untuk melanjutkan pencarian ke titik ketiga, dari Jalan Sangkuriang kami pun langsung meluncur ke Jalan Cimuncang No. 39 untuk mencari Rindu Order yang menurut informasi merupakan tempat daur ulang kertas.

Kami pun mengarungi jalan sepanjang jalan Cimuncang, namun lagi-lagi kami gagal menemukan tempatnya. Kebetulan kami berdua sama-sama sangat mengantuk karena malam sebelumnya kami kurang tidur, hari juga mulai berganti malam jadi kami putuskan untuk melanjutkan pencarian esok hari.

Keesokannya kami memulai kembali penyelidikan. Pagi hari saya dan Jenal sudah janjian untuk langsung bertemu di Kampung 200. Saya yang duluan sampai akhirnya mencoba mencari-cari lokasi bandar sampah yang dimaksud, dengan menjadikan petunjuk dari bapak yang kemarin kami temui disini sebagai acuan. Setelah bertanya-tanya di sepanjang turunan gang yang curam, kasus pun mulai menemui pencerahan. Saya pun langsung menuju rumah Pak RT yang diinformasikan sebagai pengelola tempat pemilahan sampah, namun sayangnya Pak RT saat itu sedang tidak ada di rumah karena sedang menghandiri hajatan keluarganya di lain tempat.

Nyaris kecewa, saya pun berbalik arah untuk pulang. Namun titik terang kembali muncul ketika saya berjalan menanjaki gang yang curam di Kampung 200 tersebut dan berpapasan dengan seorang ibu yang membawa dua kantong besar plastik berisi botol-botol plastik di kedua tangannya. Saya dengan spontan langsung bertanya pada ibu itu, “Bu, punten mau nanya. Ini ibu ngumpulin sampah plastik bu?”. Dengan ramah ibu itu mengiyakan, lalu mengajak saya duduk di depan warung yang beratap karena langit mulai menurunkan rintik-rintik hujan.

Saya pun berbincang dengan Ibu Tati Uting cukup lama. Ibu Tati Uting memang memiliki sampingan mengumpulkan sampah, terutama botol plastik, bersama anaknya. Mereka mengumpulkan sampah setiap hari dari kawasan asrama anak-anak ITB yang ada di dekat situ. Hasil kumpulan sampah tersebut biasa Ibu Tati jual ke A Unang. Dari penuturan Ibu Tati, A Unang merupakan seorang pengepul di RT 11 Kampung 200, Cisitu Lama ini. Namun sayang, saya tidak mendapatkan kesempatan bertemu dengan A Unang karena A Unang pun sedang tidak ada di rumah saat itu. A Unang biasa menukar sampah botol plastik dengan harga Rp. 2.000/kg, sampah kresek Rp. 300/kg, dan sampah kertas atau buku-buku bekas seharga Rp. 500/kg.

Bu Tati Uting dan sampah botol plastiknya

A Unang biasa menerima sampah di tempatnya, menurut Ibu Tati beliau menerima sampah dalam bentuk apapun, lalu kemudian dipisahkannya sendiri. Botol-botol plastik nantinya akan diremuk oleh A Unang dan tutupnya akan dibuang, karena menurut Bu Tati tutup botol tidak bisa diapa-apakan lagi. Menurut Ibu Tuti sih A Unang biasa menjual kembali sampah-sampah yang ia beli, namun karena tidak bertemulangsung dengan A Unang, saya tidak dapat menelusuri jejak selanjutnya kemana sampah-sampah itu mengalir selepas dari tangan A Unang.

Tempat pengepulan sampah milik A Unang

Setelah usai berbincang degan Bu Tati, saya pun mengucapkan terima kasih dan berpamitan. Jenal pun belum kunjung tiba, jadi saya mengisyaratkan dia untuk bertemu langsung di YPBB saja untuk mengolah data. Tapi ketika saya melajukan sepeda motor saya, saya yang pada hari yang dingin itu pun kebelet buang air kecil, tetiba terpikir untuk membelokkan kemudi saya ke restoran cepat saji terdekat. Terlintas juga kalau tempat itu sering dipakai mahasiswa untuk mengerjakan tugas, ya biar berasa mahasiswa lagi ngerjain tugas deh! :p

Pas ketika saya duduk dan membuka laptop, Jenal menelepon, ternyata dia juga sedangdi daerah Simpang Dago. Saya pun bilang padanya untuk bertemu disini saja. Sebelum menutup telepon Jenal berkata, “Masa aktivis lingkungan makan disitu.” Ng.. Saya pun diam sejenak. Menatap gelas plastik kecil yang mewadahi eskrim yang saya beli. Rrrr, ya saya baru saja membeli sampah. Dosa ekologis! Aaaaaaaaaaaah! Padahal baru kemaren pelatihan tentang Zero Waste Lifestyle, mungkin lain kali saya harus berfikir berulang kali dulu sebelum jajan.

Bijaklah sebelum membeli! #ZeroWaste

Setelah bertemu dengan Jenal, saya baru sadar kalau saya lupa mencatat koordinat lokasi tadi dengan GPS. Jadi kami balik lagi ke Kampung 200, kebetulan di bank sampah lagi ada orang kata ibu warung. Jadi saya langsung mendatangi bank sampah. Bertemulah saya deng Pak Agus, ternyata tempat pengelolaan sampah disini ada dua, satu bank sampah yang dikelola oleh Pak Agus dan Pak RT, yang kedua pengepulan sampah yang dikelola secara pribadi oleh A Unang, namun tempatnya berada di dalam satu area.

Mulut gang menuju tempat pengelolaan sampah

Bank sampah RT 11 Kampung 200

Menurut Pak Agus, bank sampah ini baru mulai dikelola secara serius semenjak November 2014, setelah mendapatkan penyuluhan dan pengarahan dari BPLH Kota Bandung. Saya lihat memang bank sampah disini sudah melakukan pemilahan dengan cukup baik, walau masih berantakan karena tempat yang terbatas. Untuk sampah organik sendiri sudah ada yang menjadi kompos, dan kedepannya akan diuji coba untuk diubah menjadi biogas yang digunakan untuk tungku pembakaran sampah. Ya, sayangnya bank sampah disini masih membakar sampah-sampah plastik yang sudah tidak dapat didaur ulang lagi, seperti bungkus-bungkus minuman sachet, mie instan, dan lainnya. Sedangkan untuk sampah botol plastik dan kertas biasa dihibahkan untuk pemulung yang tinggal di areal tempat pembuangan sampah.

Pak Agus pun bercerita sempat kebingungan menghadapi pemulung, ia merasa kasihan dengan nasib hidup pemulung setelah BPLH datang ke Kampung 200, karena tempat pengolahan sampah menjadi lebih ditata dan bisa jadi mereka terusir. Maka Pak Agus dan Pak RT mencoba memberdayakan pemulung itu untuk membantu mengelola bank sampah, namun pemulung tersebut malah meminta upah, sedangkan Pak Agus dan Pak RT saja bekerja disitu secara sukarela. Selain itu areal pembuangan sampah yang mereka gunakan merupakan tanah milik ITB, Pak Agus khawatir jika pihak ITB mencium jika tanah milik mereka digunakan tempat pembuangan sampah, sehingga Pak Agus berupaya untuk membenahinya menjadi bank sampah dan menjadi tempat pengelolaan sampah yang tertata agar pihak ITB pun melihat manfaat dari tanah milik mereka yang digunakan tersebut.

 

Tempat pembuangan sampah sebelum dipilah dan tempat tinggal pemulung

Tempat penimbunan sampah organik

Timbunan sampah kresek yang akan dibakar

Selain RT 11, BPLH juga melakukan penyuluhan di seluruh RT yang ada di Kampung 200, namun pengelolaan sampah yang berjalan hanya di RT 11, RT 4, dan RT 8. Saya melihat Pak Agus cukup visioner dalam mengelola bank sampah tersebut, beliau berharap mendapat bantuan dari pemeritah berupa mesin pencacah untuk mencacah sampah-sampah organik, karena sampah organik jumlahnya cukup banyak sehingga nantinya bisa dimanfaatkan sebagai kompos. Setelah penyuluhan dari BPLH juga terlihat perubahan prilaku warga, mereka mulai membuang sampah ke bank sampah dibanding ke bantaran kali.

Setelah selesai, kami pun berpamitan dan langsung meluncur ke Kantor YPBB untuk melaporkan hasil investigasi. Di kantor, kami saling berbagi cerita pengalaman pertama sebagai detektif, cerita yang lain pun seru-seru! Ada yang kesulitan mencar lokasi sama seperti kami, ada yang malah digenitin sama narasumber, dan cerita menarik lainnya. Mau tau kan cerita menarik kami? Ikuti terus perjalanan Detektif Bebas Sampah ID ya! :D

Advertisements