Jam digital menunjukkan waktu pukul 01.32 dini hari.

Lambungku baik-baik saja, dia tidak mengisyaratkan adanya tanda-tanda kekurangan asupan makanan. Aku tidak lapar, sungguh. Tapi rasanya lidah ini meronta ingin ditaburi rasa asin yang gurih. Aku meraba beberapa toples yang ada di meja makan. Nihil. Semuanya beraroma manis, Tanpa diperintah tanganku langsung menutup kaleng-kaleng yang telah kubuka satu persatu tersebut.

Aku membuka pintu dapur, menengadahkan kepalaku ke arah lemari kaca yang menggantung tepat diatas kompor gas. Mataku berusaha mencari sesuatu yang bisa diolah menjadi makanan berperisa asin. Lagi-lagi nihil. Tidak senihil pencarianku tadi di meja makan sebenarnya, ada beberapa bungkus mi instan yang menggoda di pojok lemari. Tapi aku mengabaikannya.

2015. Awal tahun kemarin aku berjanji pada diriku sendiri, untuk memberikan yang terbaik bagi seluruh aspek kehidupanku. Salah satunya yang terpenting, makanan. Makanan kan yang membuat kita bisa bertahan hidup? Aku mulai mendisiplinkan diriku untuk makan lebih banyak buah, sayur, dan protein nabati ketimbang karbohidrat sederhana dan protein hewani. Terlebih aku mulai belajar menghindari makanan berpengawet dan tentunya zat adiktif yang lebih candu dibandingkan psikotropika, MSG.

Aku pun mulai belajar lebih bijak dalam memilih dan mengkonsumsi produk-produk plastik yang hanya akan berujung menjadi sampah tak berguna. Mengonggok menyusahkan bumi, namun terus diproduksi manusia demi kemakmuran tanpa memikirkan betapa sabarnya bumi menahan sakit akibat ketamakan manusia. Tahun ini sedikit demi sedikit aku mulai mereduksi sampah yang aku hasilkan, juga emisi gas. Aku berusaha membuat jejak karbonku seminim mungkin.

Tapi malam ini, tubuhku rasanya tak tahan lagi. Bagai pecandu yang sedang sakau, aku menggeliat tak bisa diam. Kakiku terus bergerak tak tentu arah, mataku semakin liar mencari celah, pikiranku berusaha mengalihkan tapi lidahku terus meronta. Aku kuat. Tapi aku menyerah. Kenapa? Aku pun tak tahu. Mungkinkah pengaruh magis? Ya, mungkin saja sang produsen mi instan mengguna-guna para konsumennya untuk terus mengkonsumsi makanan tak bergizi ini!

Dengan cekatan aku meraih panci yang mengantung, mengisinya dengan air, lalu menaruhnya diatas api biru. Aku memotong cabe rawit untuk menambah rasa menggigit. Terlintas untuk menambahkan telur setengah matang yang lumer di lidah, tapi untung saja pengaruh magis tidak berlaku bagi telur. Aku lebih memilih sayuran hijau di bagian bawah kulkas dan mengambil empat ikat kecil pakcoy. Tidak sampai lima menit, voila!

Selamat bersantap (tengah) malam!

Bagai kerasukan, aku menikmati suap demi suap dengan penuh kenikmatan. Terlebih lidahku yang sedari tadi meronta akan loncatan kegurihan di atas indera perasanya. Aku mencoba berbaik hati, membagi bahagia yang tengah kurasakan. Aku menyapa dengan foto menggoda dan ajakan menggoyang lidah di tengah malam ke tanah seberang. Cemooh yang pertama kudapat, tapi selanjutnya yang terhampar adalah momen serupa! Objek yang sama namun dengan hiasan yang berbeda. Aku memilih sayur untuk menyeimbangkan zat-zat kimia yang terkandung dalam dosa penuh magis ini, sedangkan tuan di tanah seberang sana lebih memilih surga dunia dengan menambahkan isi cangkang ayam yang belum jadi itu sebanyak dua butir.

“Tambun! Tapi kita sehati!”

Aku tau aku telah berdosa. Imanku lemah, aku tergoda, aku tertunduk pada magisnya dosa biologis yang tercampur dengan dosa ekologis tersebut. Iya, aku berdosa. Aku memberikan gizi terburuk untuk dikirimkan pada mitokondriaku, aku tidak memberikannya kesempatan untuk mendapatkan makanan yang lebih baik. Aku juga memberikan masalah baru untuk bumi yang sedang tertatih, sampah plastik yang mengonggok dan tidak bisa didaur ulang. Dikubur salah, dibakar salah, dipergunakan kembali pun dia tidak bermanfaat. Oh semesta, maafkan aku!

Tapi dibalik terperdayanya aku oleh magisnya dosa yang menjerumuskanku, aku tersipu. Bagaimana bisa kita berada dalam satu frekuensi yang sama, memakan mie instan secara bersamaan diantara jarak yang terpisah jauh. Tanpa komunikasi, kita melakukan hal yang sama. Dia bilang ini namanya sehati, bagaimana mungkin kita sehati, sedangkan hati kita pun terpisah dalam dua raga yang berbeda. Tapi aku tidak percaya dengan kebetulan, kebetulan itu selalu terencana tanpa kita sadari. Siapa dan untuk apa direncanakan? Entahlah. Mungkin untuk menyadarkan kita akan sesuatu? Atau mungkin memang takdir telah menggariskan kami untuk sama-sama menikmati surga dunia di waktu yang bersamaan secara kebetulan.

Hey! Jangan terlalu serius! Manusia yang tergoda makan mi rebus instan tengah malam begini kan bukan hanya aku dan kamu saja! HAHAHA!

Advertisements