Saya senang menikmati keindahan alam semesta. Tidak hanya laut, saya sangat menyukai hutan. Terlebih jika saya tengah berada diantara pohon-pohon pinus, menikmati hawanya yang sejuk, diiringi aromanya yang menenangkan. Saya senang berkemah, melarikan diri dari hiruk pikuk perkotaan, dan ilusi gemerlap kehidupan. Saya senang menghilang dibalik hutan. Tanpa listrik, tanpa sinyal, penerangan seadanya. Keberuntungan hanya ada ketika purnama, dimana saya tidak perlu menyalakan penerangan apapun, cahaya purnama cukup memberi cahaya kala sedang bercengkrama dengan alam di malam hari. Saya rasa kalian juga pasti sangat menyukai hal ini bukan?

Menghilang di tengah keindahan alam dengan senda gurau bersama teman memang selalu menyenangkan bukan?

Tapi bukankah saya, kalian, kita ini hanya penikmat sementara. Setelah puas melepas penat di hutan, kita akan kembali ke realitas. Dimana kita menjadi manusia yang picik, mengahambur-hamburkan air dan listrik sembarangan, memproduksi asap-asap penghasil gas rumah kaca tanpa henti, tidak menjaga kelestarian alam padahal kita selalu ingin bisa menikmatinya. Bagaimana jika kita terjebak pada kondisi yang kita sukai itu selamanya? Tinggal di tengah hutan setiap hari, tidak ada listrik, tidak ada sinyal, tidak bisa mengunggah foto liburan untuk pamer, tidak bisa membaca di malam hari, atau tidak bisa mendengar alunan musik sebelum tertidur. Apa pernah kalian membayangkan kehidupan yang seperti itu?

Saya sendiri pun tidak pernah terbayang, apa jadinya jika saya harus menjalani kehidupan seperti itu selamanya. Tapi nyatanya di sekitar kita masih banyak yang harus pasrah menerima nasibnya di tengah kondisi seperti itu. Kesulitan akses terhadap teknologi dan informasi yang berkembang di dunia saat ini. Terisolasi. Semua serba terbatas, masih banyak warga negara Indonesia yang sebenarnya masih belum benar-benar merdeka. Mereka tidak bisa memilih jalan hidup yang mereka inginkan, mereka terjajah oleh ketidaksadaran pemerintah akan nasib mereka, terjajah oleh pembangunan infrastruktur yang tidak merata.

Salah satunya adalah masyarakat adat Suku Dayak Iban di Sui Utik, Kalimantan Barat. Saya mungkin beruntung, malam pertama saya tiba disana semua orang tengah bergembira. Mereka bersorak sorai dan berpesta, dalam Gawai yang merupakan wujud rasa syukur mereka terhadap hasil panen yang melimpah. Seluruh desa terang benderang malam itu. Rasanya tidak berbeda dengan di rumah, jika ingin ke toilet tinggal menyalakan lampu, atau langsung mematikan lampu setelah meninggalkan dapur. Perbedaannya mungkin disana saya tinggal di rumah panjang suku dayak yang terbuat dari kayu.


Gawai di Sui Utik

Tapi itu hanya malam pertama. Di malam kedua saya terhenyak. Selepas matahari terbenam tidak ada lagi yang beraktivitas. Anak-anak kecil yang senang bermain di ruai rumah panjang telah masuk ke biliknya masing-masing. Seluruh desa yang dikelilingi hutan itu gelap gulita, hanya terbantu sedikit cahaya dari bulan. Hening, seperti tidak ada tanda kehidupan. Awalnya di ruai rumah panjang berjajar lampu badai yang menyala kecil. Namun jam 8 setitik cahaya itu telah sirna berganti kelam. Gelap, hening, hitam, tidak ada pergerakan, ingin bergerak pun tidak terlihat apapun, entah harus berbuat apa untuk melewati malam yang masih panjang ini untuk menunggu pagi. Apa kalian masih suka dengan kondisi seperti ini? Tidak ada bedanya kan dengan kegiatan berkemah?

Saya terdiam. Termenung. Saya tidak suka situasi ini. Pastinya pun warga disini. Di rumah, jika saya ingin mendapatkan aliran listrik, saya hanya perlu membayar iuran setiap bulannya. Jika pemakaiannya tidak berlebihan, dalam sebulan paling hanya menghabiskan uang sekitar Rp. 100.000,- – Rp. 200.000,-. Sedangkan disini, jika ingin menyalakan listrik warga harus memiliki generator. Jika ingin generator tersebut berfungsi pun warga harus membeli solar seharga Rp. 12.000,- – Rp. 15.000,- per liternya. Untuk menyalakan listrik sepanjang malam dibutuhkan solar sekitar 5-10 liter tergantung pemakaian. Coba bayangkan dengan harga dan pemakaian solar terendah pun, uang sebesar 200.000 rupiah pun hanya cukup untuk menyalakan listrik selama tiga malam! Iya, tiga malam, hanya di malam hari saja!

Anak-anak Sui Utik harus belajar dengan cahaya yang redup di malam hari

Mirisnya kondisi mereka ini membuat lembaga swadaya masyarakat tergerak. Kunjungan saya ke Sui Utik saat itu merupakan keberuntungan bagi saya. Saya berangkat kesana sebagai volunteer, untuk ikut membantu menawarkan solusi bagi masyarakat adat disana. Saya merasa beruntung, dengan melihat langsung kondisi di Sui Utik saya lebih bisa bersyukur dan menghargai apa yang saya miliki. Saya merasa beruntung, bisa mendapat kesempatan untuk bergerak agar kehidupan mereka sedikit lebih baik.

Pada kesempatan kali itu, kami membawa beberapa solar panel untuk diinstalasi di rumah betang Sui Utik. Tapi sebelumnya, agar masyarakat paham apa itu panel surya dan bagaimana cara kerjanya, kami mengadakan pelatihan terlebih dahulu, agar bisa belajar bersama dan nantinya masyarakat bisa mandiri memelihara keberlangsungan penggunaan energi surya melalui panel surya tersebut. Semangat saya terbakar, ketika melihat warga sangat antusias ketika kami memperkenalkan solar panel ini. Mereka perlahan belajar dan mencoba mengerti, dan akhirnya mereka pun bisa memasang solar panel tersebut sendiri.

Kami dan warga Sui Utik memasang panel surya bersama-sama di Rumah Betang

Sayangnya, solar panel yang diinstalasikan hanya cukup untuk menerangi ruai atau teras rumah panjang di Sui Utik. Saat ini kami pun sedang berusaha untuk mengumpulkan dana dari masyarakat luas, agar nantinya kami bisa memberikan solar oanel yang dapat menerangi Sui Utik secara penuh. Setidaknya saat ini mereka telah memiliki sumber energi yang diberikan Tuhan secara cuma-Cuma, sumber energi yang ramah lingkungan, sumber energi yang membantu aktivitas mereka, terlebih untuk para penerus bangsa. Kini anak-anak di Sui Utik memiliki penerangan yang cukup baik untuk belajar di malam hari. Tidak lagi menggunakan pelita yang redup.

Memang menjadi relawan rasanya candu bagi saya. Candu ketika melihat banyak orang yang tersenyum, melihat bagaimana bahagianya mereka atas apa yang kami lakukan. Walaupun saya merasa hanya bisa sedikit membantu, belum bisa membantu secara maksimal. Tapi candu itu pula yang terus menggerakan saya, agar terus berusaha untuk bisa melakukan hal yang lebih baik lagi, untuk bisa bermanfaat bagi sesama. Saya yakin setiap manusia memiliki perannya masing-masing di dunia ini, dan saya ingin peran saya di dunia ini dapat membantu dan bermanfaat bagi seluruh alam semesta beserta isinya.

Sebelum berpisah dengan masyarakat Sui Utik, kami berpelukan erat. Pelukan hangat yang terasa seperti keluarga yang telah lama kita kenal. Anak-anak disana pun lucu-lucu, mereka memberikan gelang untuk kami. Gelang dari serat kayu itu mereka ikatkan satu persatu untuk kami. “Supaya kakak ingat terus sama kita, dan kakak bisa kembali lagi kesini.” kata mereka dengan ceria. Tawa dan tangis dari anak-anak di Sui Utik pun mengantarkan kepergian kami setelah dua minggu berada di Sui Utik. Derai air mata tak tertahankan lagi untuk mengalir. Tangis itu bukanlah kesedihan, tapi tangis keharuan akan rasa bahagia yang akan terus terkenang. Bersama rasa yang mengalir ke seluruh urat nadi dan meninggikan detak jantung itu, saya dan teman-teman yang lain berjanji untuk bisa mewujudkan mimpi Sui Utik. Mimpi untuk menerangi seluruh penjuru Sui Utik dengan energi terbarukan. Kini mimpi itu bukan hanya milik Sui Utik, tapi juga milik kami bersama.

Bersama anak-aak Sui Utik sebelum berpamitan pulang

Advertisements