Pekan lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Desa Roban di Batang. Salah satu desa yang melakukan perlawanan penuh dalam menolak berdirinya PLTU yang direncanakan pemerintah di wilayah Batang. Mungkin wilayah Roban bukanlah menjadi areal dimana akan berdirinya PLTU tersebut, namun perairan Roban yang nantinya akan sangat terkena dampak dari limbah yang dihasilkan PLTU itu.

Roban merupakan wilayah pesisir yang langsung berbatasan dengan laut di utara Pulau Jawa. Sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya adalah nelayan, karena perairan Roban sangatlah kaya akan biota lautnya. Makhluk-makhluk hidup yang beranekaragam di perairan Roban menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat disana, bahan sebagai pasokan bahan makanan laut untuk wilayah lainnya di Pulau Jawa.

Sore itu saya mengunjungi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Roban Barat, awalnya hanya ingin menemani seorang teman yang ingin melihat-lihat TPI. TPI sore itu sudah mulai sepi, hanya terlihat beberapa warga yang sedang memilah ikan dan kerang di berbagai sudut TPI. Mata saya tertujupada seorang gadis yang sedang asyik memisahkan setumpukan kerang dari kulitnya.\

 

Suasana di TPI Roban Barat sore itu

Nurmanisa, gadis kelas 5 SD yang biasa dipanggil Nisa ini bertubuh mungil ini telah lama bekerja di TPI untuk memilah Kerang Srimping. Seusai bersekolah, Nisa bermain bersama teman-temannya lalu bekerja di Tempat Pelelangan Ikan. Dalam sehari, Nisa diberi upah lima ribu rupiah untuk memisahkan setumpuk isi Kerang Srimping dari cangkangnya. Di TPI itu juga tampak beberapa gadis yang sebaya dengan Nisa.

Nisa bekerja bukan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya, karena Ayah Nisa yang seorang nelayan sudah sangat mencukupi kebutuhan hidup Nisa dan 2 adiknya yang masih kecil. Nisa bekerja untuk mendapatkan uang tambahan, agar dia bisa menabung dan membeli barang-barang kesukaannya.

Nisa dan Kerang Srimpingnya

Ayah dan Kakak Nisa bermata pencaharian nelayan, setiap hari hasil tangkapan mereka sangatlah banyak. Dari cumi segar, ikan-ikan laut yang menyehatkan, gurita, kerang, dan makanan laut lainnya. Hasil tangkapan mereka sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Nelayan-nelayan di Roban merupakan potret masyarakat pesisir yang cukup makmur, dapat terbilang mereka jauh dari kondisi ketidakmampuan.

Hal tersebut dikarenakan hasil laut di perairan Roban yang melimpah. Bagaimana jika perairan Roban tercemar oleh limbah batu bara yang dihasilkan dari PLTU nantinya? Tentunya zat-zat kimia yang terkandung dalam limbah tersebut akan mencemari dan menganggu ekosistem laut di Roban. Tentunya akan mempengaruhi pula terhadap penghasilan dan kehidupan masyarakat Roban yang menggantungkan hidupnya pada makhluk laut yang hidup di perairan Roban.

Nisa bercita-cita menjadi seorang suster, dia bermimpi untuk bisa merawat anak-anak kecil dengan penuh kasih sayang. Hal tersebut dapat terwujud dengan pendidikan tinggi yang harus dilaluinya. Tentunya dengan membayar sistem pendidikan yang diciptakan mahal oleh pemerintah kita. Masa depan Nisa bergantung pada makhluk hidup yang ada di perairan Roban.

Dengan bergantungnya pendapatan keluarga Nisa terhadap perairan Roban, jelas sudah alasan kenapa masyarakat Roban menolak keras adanya pembangunan PLTU di Batang yang akan mencemari dan bahkan dapat mematikan makhluk-makhluk laut yang menjadi tumpuan hidup mereka. Bahkan nelayan-nelayan dari wilayah Jepara, Pekalongan, bahkan Cirebon berlarian merantau di Roban. Karena ekosistem perairan Roban yang masih sangat terjaga, tidak seperti di wilayah mereka yang telah rusak karena pencemaran limbah-limbah PLTU yang ada di wilayah mereka.

Berdirinya PLTU di Batang tidak hanya menghancurkan mimpi-mimpi para petani dan nelayan untuk tetap hidup sejahtera, tapi sekaligus juga menghancurkan impian calon-calon pemimpin Bangsa Indonesia di masa depan. Dengan cara inikah pemerintah memelihara warga negaranya untuk tetap hidup sejahtera?

 

Advertisements