Setelah menyelesaikan penyelidikan mengenai pengepul besi tua di Gedebage Selatan, sesuai arahan saya beranjak sedikit ke lapak disamping CV Firdan. Tampak sebuah lapak yang cukup besar dan setengah terbuka dengan ditutupu seng setinggi dua meter di sekelilingnya. Pintu lapak tersebut terbuka lebar, namun terhalangi oleh sebuah mobil pick up yang di bak nya terdapat tumpukan karung-karung yang penuh dan tinggi. Saya memasuki lapak itu perlahan, lalu melihat ada yang sedang memilah-milah sampah plastik dibalik tumpukan sampah yang masih belum dipilah.

Saya menyapa mereka, lalu Pak Dadang menyambut saya ramah. Setelah dipersilakan duduk saya memperkenalkan diri sambil meminta izin untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau. Beliau nampak sangat senang, kami pun berbincang santai sembari Pak Dadang melanjutkan pekerjaannya.

Pak Dadang telah lama menjadi bandar sampah, namun beliau menduduki lapak di Jalan Gedebage Selatan Rancabolang RT 01 RW 02 ini baru sekitar 4 tahun. Lapak disini disewanya dengan harga Rp. 12.000.000,- per tahun, modal yang cukup tinggi dikeluarkan oleh Pak Dadang untuk mengelola sampah plastik disini. Lapak yang nantinya ingin diberi nama oleh Pak Dadang ini saat ini masih memiliki nama yang anonim, lapak ini buka setiap hari dari jam 08.00-18.00. pak Dadang dan istrinya yang biasa memilah-milah sampah, biasanya juga Pak Dadang mengupah orang lain untuk memilah sampah dengan upah Rp. 1.500,- – Rp. 2.000,- per kilogram sampah yang dipilah per orangnya, namun seringkali orang upahan tidak betah karena merasa pekerjaan memilah sampah plastik bukanlah pekerjaan yang layak. Padahal menurut Pak Dadang hasilnya sangat lumayan, Pak Dadang sja bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp. 4.000.000,- – Rp. 5.000.000,- per bulannya dari sampah plastik.

Sampah-sampah plastik yang bertumpuk disini biasanya Pak Dadang dapatkan dengan mengumpulkan dan mengambilnyasendiri dari pengepul-pengepul kecil langganannya, selain itu juga ada yang langsung datang ke tempat Pak Dadang untuk menjual sampah plastik kepadanya. Namun sedihnya, seringkali banyak yang menyangka bahwa lapak Pak Dadang adalah tempat pembuangan sampah bukan tempat pengelolaan sampah plastik, sehingga seringkali Pak Dadang menemukan banyak orang yang menaruh kantung sampah yang bercampur tanpa dipilah di depan lapaknya.

Pak Dadang memilah berbagai macam sampah plastik, jika ada bagian plastik yang tidak laku terjual Pak Dadang akan membakarnya. Jika dibakar, Pak Dadang akan memastikan bahwa plastik tersebut terbakar sampai habis. Terkadang juga Pak Dadang membakarnya di tempat pembakaran dengan mengupah seharga Rp. 20.000,-, namun Pak Dadang akan memastikan plastiknya terbakar sampai habis dan tak bersisa. Pak Dadang memstikan plastik tidak terpakainya terbakar habis karena menurutnya sampah plastik adalah ‘setan’, jika tidak terjual walaupun sudah beliau buang sejauh mungkin pasti plastik tersebut akan kembali lagi ke tangan beliau. Jadi daripada menjadi ‘setan’, lebih baik beliau hilangkan dengan membakarnya.

Dulu Pak Dadang juga pernah menyerah dan berhenti dari dunia persampahan, namun beliau berkata, “Namanya tukang rongsok, Neng. Sudah berhenti juga masih banyak aja orang yang nyari buat ngasih rongsok. Akhirnya bapak mulai lagi.” Pak Dadang menerima sampah plastik dalam kondisi apapun, baik atau kurang baik, dan dipilah ataupun belum. Selain ditukar dengan uang, sampah-sampah plastik tersebut juga bisa ditukarkan dengan sembako. Jika Pak Dadang mendapati kresek, biasanya ia kumpulkan lalu ia berikan saja ke pengepul kresek.

Pak Dadang sangat terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan saya. Beliau justru senang karena jarang bahkan hampir tidak ada pendataan mengenaik persampahan. Beliau berharap agar pemerintah kota memfasilitasi para penggiat sampah di Kota Bandung, beliau berharap adanya komunitas atau forum sebagai wadah diskusi untuk berkumpul demi kemajuan bersama dan dapat secara berkelanjutan dan terarah dalam pengelolaan sampah. Beliau juga berharap akan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah dan peminimalisirannya, serta mayarakat bisa paham untuk dapat membuang sampah pada tempatnya. Karena masih banyak beliau menemui masyarakat yang seenaknya membuang sampah ke sungai, dan ketika banjir menyerang mereka mengeluh habis-habisan tanpa bebenah diri sendiri.

 

Advertisements