Setelah selesai mewawancarai bandar sampah plastik di lapak Pak Dadang, saya pun melanjutkan penyelidikan mengenai titik persampahan di Gedebage Selatan. Saya beranjak ke seberang jalan ke tempat reparasi, namun ibu pemilik toko menolak untuk diwawancarai. Saya pun melaju, masih di jalan yang sama saya melihat satu tempat yang tertulis bahwa mereka menerima kantung bekas semen. Saya pun berhenti dan mulai memasuki lapak tersebut.

Tampak tidak ada orang, saya pun bertanya ke ibu-ibu yang sedang berkumpul di warung nasi sebelah lapak tersebut, mereka pu menyarankan saya langsung masuk saja ke lapak tersebut. Setelah melirik-lirik akan adanya tanda-tanda kehidupan akhirnya saya bertemu dengan Pak Wawan. Awalnya Pak Wawan menolak untuk diwawancarai, karena Pak Maskin pemilik asli bandar ini sedang pergi ke Jawa Tengah. Namun perlahan-lahan saya mengajukan pertanyaan sedikit demi sedikit, akhirnya Pak Wawan berkenan juga menjawab pertanyaan saya.

Lapak Pak Maskin yang tidak memiliki nama resmi ini berfokus dalam mengumpulkan sampah bekas kantung semen. Selain itu juga lapak Pak Maskin ini menerima sampah duplek dan arsip yang berupa kertas-kertas HVS, namun kebanyakan yang dikelola disini tetaplah sampah bekas kantung semen. Kantung semen bekas ini biasa Pak Maskin kumpulkan dari pengepul-pengepul kecil ataupun kontraktor bangunan. Pak Maskin menerima kantung semen bekas tersebut dalam berbagai kondisi, lalu setelahnya Pak Maskin pilah dulu mana yang masih baik. Kantung semen bekas yang masih dalam kondisi baik Pak Maskin bawa ke Kudus lalu selanjutnya didaur ulang kembali menjadi kertas. Untuk kantung semen bekas yang kondisinya sudah tidak baik, biasanya dikumpulkan lalu dibakar.

Karena Pak Wawan bukanlah pegawai di tempat Pak Maskin ini, Pak Wawan kurang bisa menyampaikan informasi yang cukup. Pak Wawan hanya sering main ke tempat Pak Maskin ini, dan kebetulan pada saat saya datang kesana pegawai Pak Maskin sedang tidak ada di tempat. Namun setidaknya ini tempat pertama yang memiliki nomor, setelah sepanjang lapak yang saya selidiki di Jalan Gedebage Selatan ini kebanyakan tidak memiliki alamat dengan nomor pasti sehingga membingungkan untuk ditelusuri.

 

 

Advertisements