“Des, sakit terparah apa yang pernah kamu alami selama perjalanan?” Tanyamu dari balik kemudi, di bawah langit penuh bintang di Pantai Pangandaran.

“Hmm, waktu di Koto Tuo, Sumatera Barat awal tahun ini sepertinya.” Jawabku sambil kembali membayangkan dan menceritakannya kembali, bagaimana aku terkapar jauh dari rumah, tapi dirawat dengan sangat baik oleh keluarga tak sedarahku disana.

Tapi hidup memang penuh kejutan, tiga hari setelahnya aku punya jawaban baru untuk pertanyaan itu.

Ya, malam ini. Malam minggu dimana muda-mudi lainnya mungkin saja sedang berkencan ditemani kerlap-kerlip lampu kota, atau yang tuna pasangan sedang ricuh saling bertukar kata. Mungkin juga ada yang asik menyendiri sambil menonton film atau mendengarkan musik favoritnya, atau mungkin ada juga yang tidak menyukai akan hadirnya malam minggu sehingga dia melewatinya dengan tertidur.

Entahlah, yang pasti diluar sana banyak situasi yang jauh lebih baik dibandingkan kondisiku saat ini. Diantara ratusan manusia yang menyenangkan, tapi aku tidak merasa senang. Berada di dasar Kawah Saat, kawah mati yang sudah tidak aktif, tempat indah yang tidak semua orang tau, tidak semua orang bisa mencapai tempat ini, tapi aku tidak bisa menikmatinya. Dikelilingi tebing curam menakjubkan yang nyaris tegak lurus, bersama pohon-pohon tangguh yang tumbuh disana dan terlihat hitam pekat di bawah jutaan bintang yang bersinar terang, tapi tak bisa kutatap dalam waktu yang lama.

Aku hanya bisa berbaring di dalam tenda. Merengek dalam hati, ingin cepat pulang. Terbenam dalam bayangan semu ada di pelukan ibu, disuapi sup hangat atau bubur merah lezat buatannya. Atau berada di kasur lebar bersama nenek, meringkuk di dalam selimut sambil memeluknya, lalu tertidur lelap. Rasanya khayalan-khayalan ini semakin menjatuhkan ragaku yang sedang terpuruk.

Saat matahari terbenam tadi, aku sudah masuk ke dalam kantung tidur, melapisi kaos dan kemeja di tubuhku dengan jaket tebal. Menjejali mulutku dengan bubur instan supaya bisa minum obat. Lalu dibuatkan teh manis dan minuman sereal hangat, supaya tubuhku menghangat dan cepat sembuh. Kemudian aku merebahkan tubuhku, mencoba tertidur, berharap ketika bangun nanti tubuhku kembali bertenaga seperti ketika awal perjalanan tadi.

08.00

Aku terbangun. Suhu tubuhku menurun, sakit di kepalaku mereda. Terdengar di depan tenda sedang ramai menyalakan api unggun. Seseorang membuka tenda dan melihatku terbangun, lalu mengajakku menghangatkan tubuh di api unggun. Yang lain pun memanggil-manggil namaku untuk bergabung berbgi kehangatan. Aku pun perlahan keluar, bergerak mendekati api unggun yang ada tepat di depan tendaku tidur. Aku langsung menjulurkan kaki dan tanganku mendekati api. Kulihat wajah-wajah disekelilingku yang tampak bahagia, tertawa bersama, berbagi canda, di empat yang dulu pernah menjadi kawah yang aktif, dan kini menjadi cerukan yang memukau dan menaungi kebersamaan kami malam ini.

Sambil menengadah ke langit, tiba-tiba saja terpikir olehku. Mungkin ini titik dimana setelah ini aku harus berhenti sejenak. Diam lebih lama di rumah, karena saat ini hanya itu yang paling kuinginkan. Berada di rumah yang hangat.

Satu jam kemudian aku mengantuk, aku pun kembali tertidur di dalam tenda. Aku kerap kali terbangun, semakin malam rasanya kepalaku ingin meledak. Sakit. Suhu tubuhku kembali meningkat. Teman yang berbaring disampingku pun tidak bisa tidur lelap, dia terus menerus menanyakan kondisiku. Setidaknya di suhu lima derajat ini aku tidak merasa kedinginan, aku merasa hangat. Sangat hangat. Aku mencoba tertidur sambil terus berdoa, esok pagi aku bisa kembali sehat, karena itu adalah satu-satunya jalan untuk pulang.

02.00

Aku menggigil hebat. Sekujur tubuhku gemetar. Aneh. Sungguh aneh. Aku merasa hangat sangat hangat. Badanku, kakiku, semuanya. Tapi kenapa aku menggigil? Aku mencoba melawan, aku memerintahkan tubuhku untuk tetap tenang dan tidak terbawa gemetaran terus menerus. Aku mengatur nafas, agar tubuhku tidak lagi menggigil. Tapi beberapa detik diam, tubuhku terus saja gemetaran.

Lalu tiba-tiba saja terlintas di benakku. Di dekat perkemahan kami ada makam yang dipenuhi dengan sesaji. Mungkinkah karena tubuhku sedang lemah arwahnya ingin merasukiku? Astagfirullahaladzim. Pikiran bodoh memang, tapi aku mulai membaca ayat kursi berulang kali. Sampai akhirnya tubuhku tenang dan kembali terlelap.

Aku terus menerus terbangun. Rasanya kepalaku semakin sakit. Aku semakin sering merintih kesakitan, sambil terus menerus mencoba tidur lelap agar bisa cepat membaik.

Nyaris jam lima. Sakit di kepalaku bertambah parah, titik sakitnya pun jadi dimana-dimana. Aku meraih pemutar laguku, memutar lagu-lagu riang agar tubuhku tidak terkonsentrasi pada rasa sakitku. Aku coba bersujud, supaya merasa lebih baik. Sembahyang, lalu mencoba tidur lagi.

06.00

Temanku terbangun. Aku bilang padanya kepalaku sangat sakit, aku ingin minum obat. Aku bukan orang yang suka minum obat, tapi pagi ini aku harus sembuh. Sadar tak sadar, aku coba memakan bubur yang disodorkan padaku. Pahit. Ah, kenapa lidahnya jadi begini? Aku coba makan dengan cepat agar tidak berasa pahit, tapi aku malah mual. Akhirnya aku tak sanggup menghabiskannya. Aku minum teh manis dan minuman sereal hangat, lalu minum obat. Diluar tampak ramai orang-orang yang terbangun dan menikmati pagi, tapi aku merentangkan kembali tubuhku dan mencoba kembali tertidur.

Ya Allah, sembuhkanlah aku pagi ini. Kuatkan aku. Setidaknya hingga sampai di rumah. Amin.

08.30

Aku terbangun. Bajuku basah penuh keringat. Suhu tubuhku menurun. Sakit di kepalaku menghilang. Alhamdulillah. Badanku masih sangat lemas, tapi setidaknya sudah cukup bertenaga untuk perjalanan pulang.

Aku keluar tenda setelah berganti pakaian kering, menghirup udara pagi Gunung Patuha dan merasakan hangat matahari pagi yang menyinari cerukan ini. Aku bergabung ke tenda sebelah, mencoba makan supaya lebih kuat lagi. Pahit. Bahkan jauh lebih pahit dari tadi pagi. Minum air putih pun rasanya pahit sekali. Tapi kupaksakan makan beberapa suap, lalu berkemas untuk segera pulang.

Perjalanan kali ini memang memberikan kesan kurang baik karena kondisiku, tapi bukan berarti aku jera. Mungkin memang ini peringatan agar aku beristirahat yang cukup dan tidak berpergian dalam waktu dekat. Juga pelajaran bahwa sesuatu bisa terjadi begitu saja, yang sehat bisa saja tiba-tiba sakit begitu pula sebaliknya. Atau bisa saja yang sedih tiba-tiba merasa senang dan sebaliknya. Kita tidak pernah tau kan kejutan apa yang menanti kita?

Β 

Β 

Advertisements