Apa memang sendiri lebih baik?

Lepas dari segala keterikatan. Lalu menata segalanya sendiri.

Pergi sendiri. Lalu kembali sendiri.

Memang tidak pernah ada tensi yang tinggi, atau keterikatan yang terlalu mengatur hinga sesak.

Tapi rasanya semua ini tetap saja membelenggu.

Selepas apapun pada tanggung jawab dan sebebas apapun pada pilihan, tetap saja segala keterikatan yang kasat mata itu terus mengungkung.

Paham tidak selalu menjadi jawaban.

Karena paham semakin menimbulkan pertanyaan dan acuhan pada pengelakkan perdebatan.

Larangan dan batasan pun nyaris tidak ada.

Mungkin bukan tidak ada, tapi memang ditiadakan.

Kenapa harus tercipta kebebasan kalau tetap saja diliput batasan?

Lalu kenapa pengertian selalu dipahami dengan keras kepala.

Dengan ego yang membati.

Dan hati yang kian menjauhi kelunakkan.

Kemudian ketika lebih memilih diam, tetap saja banyak muntahan emosi yang bergelut dalam jiwa.

Bertanya-tanya dan berteriak meminta jawaban.

Kenapa harus ada pilihan di kehidupan ini?

Kalau memang segala pandangan telah diatur dan semuanya hanya bermuara pada suara-suara yang mayor.

Β 

Lalu pada perbincangan diantara jiwa-jiwa yang hampa di tengah keramaian dini hari tadi, lahirlah buah-buah kata yang mungkin hanya kita yang tengah meresapi.

“pada suatu ketika, kesendirian adalah pilihan untuk menjadi tempat berlari dan merebahkan diri. Sebagaimana gunung dan karang melakukannya. Dialog akan terjadi, namun tanpa lawan atau bunyi kata. Dan… bila semua telah menuju penemuan dan pencerahan, keramaian lah tempat kita harus kembali. Semoga dengan itu kita bisa lebih berguna secara sadar, seperti rindangnya pohon yang meneduhi.”

“kalau memang semua pandangan telah diatur dan semuanya hanya bermuara pada suara-suara yang mayor, kenapa harus ada pilihan di kehidupan ini? Apa memang berjalan sendiri lebih baik? Terlepas dari segala keterikatan dan terbebas dari aturan semu. Tapi selepas dan sebebas apapun pada pilihan, tetap saja akan ada keterikatan kasat mata yang mengungkung.”

Mungkin kita sama-sama sedang berada di saluran yang sama. Dimana pencarian dengan tanya jauh lebih baik dibandingkan menemukan dengan jawaban.

Β 

Bandung, 3 Juni 2015

Advertisements