Hari-hari ini menjelajah menjadi salah satu element identitas yang digemari. Entah karena trend media sosial atau memang bentang alam kita yang mendorong kita untuk berbuat seperti itu. Indonesia yang memiliki luas daerah 5 juta km peregi, memiliki jumlah pulau sekitar 17.000 dan aneka rupa bentukan medan. Keadaan tersebut menjadikan Indonesia membutuhkan orang-orang yang menjadikan penjelajahan sebagai kegiatan yang biasa dalam rutinitasnya, agar setiap potensi bisa d gali dan kesadaran untuk memiliki serta mencintai bisa tumbuh secara sehat. Dengan demikian kegiatan menjelajah kita yakini merupakan salah satu kegiatan yang akan menemukan Identitas Ke-Indonesia-an sekaligus membentuk pribadi yang berani dan berkarakter.

 

Alam selain memiliki keindahan yang khas namun juga memiliki bahaya yang berdimensi ketidakpastian. Disamping itu kapasitas dari penjelajah sangat beragam. Disini timbul hubungan menarik dari alam penjelajahan dan sipenjelajahnya. Perpaduan bahaya subjektif dan objektif ini mungkin bisa menjadi dasar dalam klasifikasi penjelajahan dan kita bisa memilih akan bermain ditingkatan mana dalam klasifikasi tersebut.

 

Bila kita ingin merekayasa penjelajahan yang alami kita tidak bisa merubah keadaan alamnya, yang bisa kita lakukan adalah merekayasa bahaya subjektifnya. Maka persiapan, barang yang dibawa, pakaian yang dipakai, keamanan dalam bertindak, keilmuan, kesadaran dan lainnya mutlak harus Kita persiapkan. Karena dalam menjelajah kita bukan hanya membawa nama pribadi namun jauh dari itu kita semua adalah subjek-subjek yang menjadi wakil dari budaya menjelajah. Baik dan buruknya kita menjelajah akan berdampak pada budaya menjelajah dan bisa berdampak pada pendewasaan Indonesia yang lebih umum. Maka mungkin selain kita harus sadar akan tujuan dan eksistensi sebaiknya kita pun sadar akan diri dan lingkungan.

Maka DISCOVER WILDERNESS adalah sebuah gerakan untuk menemukan Identitas Ke-Indonesia-an sekaligus membentuk pribadi yang berani dan berkarakter dengan media penjelajahan yang memiliki bahaya yang berdimensi ketidakpastian dan dengan kesadaran akan diri, lingkungan dan tujuan. Dengan gerakan ini pendewasaan budaya menjelajah mungkin tidak akan cepat dan mudah namun seperti perkataan GM :

 

Menjadi Indonesia adalah menjadi manusia yang bersiap memperbaiki keadaan. Tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan itu tidak pernah sempurna dan ikhtiar itu tidak akan pernah selesai.


Referensi :

  • Kerja Budaya, Aat Suratin
  • Bahaya Subjektif vs objekti, Pindi stiawan


 

Advertisements