Lagi-lagi hidup memperingatkanku akan hal yang telah sering kupelajari. Bahwa satu-satunya kepastian dalam hidup ini adalah ketidakpastian. Kita tidak pernah tahu apa yang menanti kita di detik berikutnya dalam hidup ini, seperti kita tidak pernah tahu sebelumnya bahwa di detik ini kita akan baik-baik saja.

Begitu pula dengan hati, kita tidak pernah tahu apa yang akan dihadapi hati ini. Seperti kita tidak akan pernah benar-benar tau, apa yang ada di dalam hati dan pikiran orang lain. Untuk mengetahui isi hati dan kepala diri kita sendiri pun seringkali kita meleset, entah meleset ataupun kita pura-pura tidak tahu. Berbohong, pada diri sendiri.

Hati. Satu organ tak berwujud dalam diri manusia, namun memiliki fungsi dan efek yang luar biasa jauh diluar nalar. Walaupun setiap manusia memiliki hati, tapi tidak ada yang pernah berhasil mengendalikannya. Sekalipun manusia terhebat yang memiliki tingkat intelejensi tertinggi sekalipun. Kita tidak pernah bisa memerintahkan hati untuk hanya merasa yang senang-senang saja, atau mengendalikannya untuk tidak pernah merasakan sakit.

Hati. Milik siapakah hati sebenarnya?

Hati. Bisa berjungkir balik hanya dalam hitungan detik.

Mungkin aku telah merasa bahwa aku bisa mengendalikan hatiku. Menjadi angkuh dan merasa bahwa hati ini dalam kondisi yang sehat. Setidaknya itu yang kurasakan, sebelum kembali bertemu denganmu.

Aku benar-benar lega. Bahagia. Aku benar-benar baik-baik saja, hatiku merasa baik-baik saja. Aku baik-baik saja. Aku yakin aku baik-baik saja. Aku berani bertaruh, kamu sudah tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam hidupku.

Lalu perasaan baik-baik saja itu runtuh. Seketika.

Bukan, bukan saat aku menelanjangimu sedang menatapku. Bukan juga saat kamu khawatir akan keadaanku, bukan juga saat kamu tertawa kecil saat melihatku memakan makanan kesukaanku dengan lahap, juga bukan saat kamu mengingat jelas suaraku dan kata-kata yang sering kulontarkan.

Tapi perasaan itu tiba-tiba kembali, saat kita kembali bertukar rata. Menjalin rajutan kata-kata tentang masa kini dan masa lalu, menuju masa yang akan datang. Perasaan yang telah mati dan telah lama menghilang itu tiba-tiba saja melonjak kembali, seperti saat aku dan kamu masih menjadi kita. Kita yang saling mencinta dan penuh dengan sejuta asa. Terlebih ketika kita hanya diam, saling menatap, dengan jutaan rasa yang mencuat dan meledak-ledak diantara mata kita yang saling memandang.

Lalu keangkuhan itu runtuh. Kebekuan hati pun mulai luruh. Kita luluh dan terenyuh, lalu saling merangkul dan melepas kerinduan yang telah lama tertahan. Tertahan untuknya, dan menghilang untukku. Aku tidak pernah menduga kita akan menjadi segila ini. Terlebih aku yang sangat terkejut akan diriku sendiri, yang kembali menjadi gila. Karenamu.

Kita pun terhempas, bernostalgia. Menghadapi rasa yang meledak-ledak saat ini bersama, juga mulai saling melempar harap akan masa yang akan datang. Kita menggila, menembus alam liar, hanya demi rasa yang sedang merasuki kita.

Hingga akhirnya kita sadar, kini semua telah berbeda. Kini kita bukan lagi manusia bebas. Kini kita terbatas. Pada akhirya hidup kembali menyadarkan kita, akan hari-hari yang telah kita lewati tanpa kehadiran satu sama lain. Yang membentuk banyak dinding-dinding keraguan yang hadir di hari ini.

Kita pun kembali terhenyak. Terdiam. Takut. Resah. Kesal. Marah. Akan kenyataan yang terjadi, namun kita tidak bisa berbuat apapun untuk menembus dinding itu. Bisa, tapi akan banyak yang tersakiti.

Bukankah kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang saling membahagiakan? Kebahagiaan yang hadir tanpa menghadirkan kesedihan dari jiwa yang lain. Kebahagiaan yang utuh, bukan kebahagiaan yang semu dari jeratan kepedihan lain.

Kita tetap berpura-pura, bahwa semuanya masih sama. Kita tetap berpura-pura, kita masih bersama.

Lalu waktu kembali menampar kita, bahwa kita tetap harus menghadapi realita. Realita dari keputusan-keputusan yang telah kita pilih di masa lalu.

 

Advertisements