Nafasku berderu, naik turun. Kencang. Terengah-engah. Udara terasa menipis, suhu meninggi. Gerah. Air-air mulai menyelinap kelar dari kelenjar keringatku, membasahi kulit yang membuatnya menempel dengan kain bajuku. Pengap.

Aku dimana?

Ini apa?

Semua berkecamuk. Menghimpit sesak. Tapi semua tampak abu-abu, aku tidak bisa mengamati jelas, apakah ini hitam ataukah putih.

Kelopak mataku tiba-tiba terasa ringan, perlahan mengangkat. Mataku terbuka. Redup. Kulihat kamu di hadapanku, terlentang lelap disampingku. Tenang. Entah kenapa kini kamu setenang ini, tidak menggebu pada apapun itu yang selalu mebuatmu bergejolak. Tenang yang hanyut, bukan tenang yang cukup baik jika terlalu lama kamu terlarut. Karena tenangmu yang sekarang cukup mengarahkan rasamu menuju kematian, terbunuh oleh rutinitas yang normal.

Aku melihat telapak tanganmu terbuka, jemarimu lemas. Entah dimana jiwamu berada sekarang, ragamu terlelap cukup dalam. Tanpa suara. Tapi dulu sela-sela jemarimu pernah kuisi. Merekat, berkaitan namun tidak mengikat. Dulu, sebelum sekarang.

Kelopak mataku kembali berat. Aku kembali berada di tempat yang tak bisa kukenali pasti. Ada banyak orang yang kuketahui mengelilingiku, tapi tidak ada seorangpun yang kukenal. Kecuali satu, yang selalu menggangguku belakangan ini, yang cukup kamu benci. Benci? Ah tidak, kata-kata itu terlalu kasar. Kamu tidak benci, hanya sangat tidak menyukaiku jika aku sedang bersama orang ini.

Udara kembali menipis, sesak. Pengap. Keringatku kembali mengucur deras. Aku terhenyak, ketika menyadari dimana aku berada. Aku di masa lalu. Masa lalu yang tercipta mewujud nyata di masa kini. Ah, untuk apa lagi yang telah lalu kembali mengganggu? Jika memang hanya ingin bernostalgia, mari datang dengan ramah. Biar kubukakan pintu rumahku dan kusajikan cangkir berisikan teh hangat, atau kopi pahit dengan kudapan-kudapan manis. Lalu kita berbincang baik-baik, mungkin untuk mengenang. Tapi tidak untuk mengungkit dan mengusik.

Kini aku mulai tenang, seperti kau yang tadi dihadapanku. Tidak lagi bergemuruh, walaupun emosi terbasuh. Baiklah masa lalu, bisakah kita mulai berbincang dengan baik?

Lalu semua kembali berputar balik. Aku melihatmu lagi, masih terlentang lelap. Tampak dekat namun berjarak. Dulu kita tidak begini, kamu selalu menghampiriku setiap kali aku ingin terlelap. Berbincang singkat atau sekedar ingin membuatku nyaman. Di sudut manapun aku terjebak, kamu selalu memilih tetap ada disampingku.Betapa waktu sungguh cepat berlalu, betapa hatimu begitu cepat berubah. Oh aku lupa, ini kan kehidupan. Semuanya tak terduga dan selalu penuh kejutan.

Tiba-tiba semuanya berputar kembali. Ah! Aku mulai kesal!

Bagaimana bisa aku dipermainkan oleh kenangan. Kenangan itu walau abadi tapi dia mati! Sedangkan aku hidup, bergerak, berjalan, maju ke depan.

Jadi mana dari bagian kepingan yang nyata? Semua bercampur, tersaru, tanpa sekat batas yang pasti. Aku tidak bisa membedakan, juga tidak bisa memilih. Di kehidupan mana aku bisa tetap tinggal. Entah bersamamu di masa kini, atau bersama masa lalu. Andai aku bisa memilih masa depan, tapi masa yang menanti di depan hanya bisa kita terka. Tidak bisa kita paku, yang bisa kita pastikan hanyalah ketidakpastian.

Advertisements