Angin mengibaskan rambut-rambut pendekmu yang lucu. Sementara sinar jingga sesekali melenyapkan wajahmu dari pandangan mataku. Gigi putihmu berderet rapi dan tak pernah bungkam, ditemani tatapan tajammu yang selalu berapi-api dalam menceritakan segala macam hal.

Aku rasa aku mulai terjatuh. Pada keinginan. Untuk terus terjebak disin. Bersamamu. Dalam rentang waktu yang jau. Lebih lama lagi.

Harum laut bersemilir lembut, tanpa sadar menelusup masuk dari celah-celah tubuh. Merasuk, menjadi candu. Bahkan seakan mencumbu setiap lekuk tubuhmu. Hingga aku bisa selalu menatapmu, mengimajikan ragamu, walaupun mataku tertutup.

Harum laut, seakan menyentuhku seperti telapak tangan kasarmu sedang mencari jeda diantara jemariku. Merengkuh tanganku beriringan dengan langkahmu.

Terkadang kamu melompat, memekik, dengan pupil matamu yang melebar. Seringkali aku dikejutkan dengan punggungmu yang tiba-tiba berputar, menjadi rautmu yang riang. Sendiri aku tak terkendali, tapi bersamamu aku jadi lebih tenang.

Rasanya aku tidak ingin membuka mata. Biarkan aku menikmati ini semua. Berikan aku waktu lebih lama lagi, untuk merekahkan senyum di bibirku. Biarkan harum laut membawa kembali semua detil-detil rindu yang tersimpan rapi. Mengoyaknya dari kotak-kotak harapan yang terkubur dalam kenangan.

Tolonglah, sekali ini saja. Kabulkan permintaanku.

Aku tak mau terbangun.

Biar saja mataku tertutup, pandanganku gelap. Tapi ada kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu lagi, bersama harum laut.

Aku tak mau beranjak.

Biarkan aku disini, diam, tak bergerak. Aku memang tidak bisa kembali ke masa lalu, tapi juga aku tidak kuasa beranjak ke masa yang akan datang. Aku memilih tetap tinggal disini. Di masa kini. Bersama harum laut yang menyimpan banyak kata darimu.

Pasir-pasir yang menyelimuti kaki-kaki kita perlahan larut tersapu ombak. Berganti hangat air laut yang diterpa matahari yang nyaris tenggelam. Menenggelamkan jutaan kisah tentang kamu yang diselimuti harum laut.

Suhu tubuhku perlahan menurun. Angin memang selalu menerpa hidup yang tenang. Gejolaknya bahkan seringkali mengalahkan gelombng laut terganas. Angin selalu berusaha ikut campur,kini ia berusaha membuatku tidak nyaman. Kedinginan. Haus. Kesepian. Hampa.

Tapi semesta tidak penah diam. Jemariku yang perlahan membeku disadarkan hidup yang penuh ketidakpastian. Jari-jari kasar itu datang lagi. Menawarkan isi pada kosongnya sela-sela jemariku. Merekatnya dengan genggaman, menenangkannya dengan rasa aman. Erat namun tak mengikat. Longgar tapi juga tak terlepas.

Harum laut semakin tajam. Menusuk indra penciumanku. Seiring genggamanmu yang semakin kuat.

Perlahan aku memberanikan diri membuka mata. Ada lembayung senja, yang sesaat lagi ditinggalkan mentari yang berganti kelam malam. Ada degup-degup tak beraturan sayup-sayup terdengar di telinga kananku. Lalu ada deru nafasmu, menghembus di ubun-ubunku.
Ini nyata.

Khayalku ternyata mewujud realita.

Ataukah aku memang tidak pernah bermimpi? Atau mungkin memang kamu tidak pernah menghilang. Kamu hanya lenyap sesaat, lalu kembali lagi. Atau mungkin aku yang tidak pernah menyadari, kamu ternyata memang tidak pernah beranjak kemanapun.
Semua ini nyata. Harum laut, dan wajahmu.

Renyuh aku berkali-kali lagi. Walaupun hujan terpaksa menyapu gersang, biarkan aku terpejam bersama angin laut yang membawa harumnya padaku. Aku tidak akan gelisah, resah ini hanya sementara, karena kamu akan selalu ada. Selama harum laut terus menyertai langkahku. Dimanapun.

Advertisements