Derap langkah manusia-manusia terdengar bagai dentuman snare drum tanpa irama. Sementara dua pasang langkah ini berjalan tenang, tapi dengan langkah yang besar-besar.

Eskrim yang sedang dinikmati Tira meleleh dan terjatuh mengotori tote bag yang ia kepit di depan badannya, tanpa ia sadari. Banu hanya menggeleng, sambil membersihkan noda eskrim itu dengan tisu yang sedaritadi ia pegang. Tira hanya melirik tangan Banu yang melintas di tote bag-nya, sambil terus menikmati eskrim the hijau favoritnya.

Tiba-tiba Banu menggeser tubuhnya ke arah Tira, membuat Tira yang tselalu berjalan tidak beraturan semakin tidak beraturan lagi. Tira sempoyongan, nyaris jatuh, dengan spontan dia berteriak, “Ihh!”

Dengan muka datar, Banu hanya menunjuk trotoar yang rusak dan berlubang. Yang jika Banu tidak menggeser tubuh Tira, ia pasti tersandung disitu. Bibir Tira sedikit mengerucut, walaupun dia kembali asik menikmati eskrim-nya.

Tira lagi-lagi ceroboh, rambutnya tersangkut ranting pohon. Ia berteriak, “Haaaaaa!”

Lagi-lagi juga Banu bersikap tenang, membantu mengambil ranting yang menyangkut di rambutnya dan merapikan rambut Tira yang berantakan. Sambil sedikit mengusapnya.

“Hari ini kamu aneh.” Tukas Tira dengan ketus, sambil melirik Banu dengan tatapan penuh curiga.

“Apa yang aneh?” Jawab Banu santai, sambil membuang tisu yang ia pegang tadi ke tempat sampah yang mereka lewati.

“Ya, aneh! Masa kamu tiba-tiba baik. Biasanya juga ribet, aku ngeyel kamu lebih ngeyel lagi. Aku nyeletuk kamu jauh lebih banyak berceloteh lagi.” Jawab Tira cepat.

“Hari ini aku memilih mengalah.” Jawab Banu tetap tenang, sambil melihat kiri dan kanan. Walaupun perempatan itu sudah sepi karena malam hari, tapi Banu tetap memilih berhati-hati.

“Kenapa? Kenapa kamu harus milih ngalah? Kita kan ngga lagi main-main soal menang kalah.” Tukas Tira lagi cepat, dengan nada penuh pertanyaan.

Banu hanya menunjuk ke langit dengan telunjuknya. Belum sempat Tira berpikir makna dari telunjuk Banu, Banu sudah menarik Tira terlebih dahulu untuk duduk di bangku taman kota yang mereka lintasi.

Setelah duduk, Tira menengok ke arah Banu. “Kenapa sih?” tanyanya yang masih kebingungan.

“Hari ini purnama.” Jawab Banu sambil menengadahkan kepalanya ke langit. Menatap bulan purnama yang bulat dan tampak jelas di langit malam yang cerah.

Tira pun mengikuti arah tatapan Banu, “Memang ada apa dengan purnama?”

“Kamu kan selalu aneh ketika purnama tiba di bumi. Rupa-rupa. Bisa jadi kamu perwujudan serigala.” Jawab Banu sambil sedikit tersenyum, sambil terus menatap bulan.

Tira mengernyitkan dahi, “Apaan sih?”

“Iya. Kamu serupa kelabang yang terkena butir-butir garam di bawah terik matahari di kala purnama. Menggeliat hebat tanpa kamu pahami kenapa. Ya, kan? Kamu serupa Sakura di musim semi saat purnama. Bermekaran, indah. Tapi seketika berguguran. Kadang persemianmu itu tenang, tapi seringkali kelopak bungamu langsung mongering. Ada juga yang terus berwarna merah muda cerah, bersemayam di rumput-rumput yang hijau.” Kini senyum Banu merekah.

Banu menoleh ke arah Tira, “Kamu ingat, ketika kita tiga hari tidak tertidur karena pekerjaan yang menumpuk? Harusnya kamu malam itu kelelahan, memilih tidur nyenyak di bawah selimut hangat. Tapi kamu tiba-tiba memaksa ingin kemping di bukit belakang rumah, sambil membakar kentang dan menyeduh coklat panas. Energimu tidak pernah terbendung setiap kali purnama, selalu meledak-ledak.”

Tira mulai paham apa yang di utarakan Banu.

“Pernah juga seorang Tira yang tak pernah mengeluhkan apa yang ia rasakan, tiba-tiba menangis sesenggukan. Ketika aku membatalkan janji makan malam kita karena aku tiba-tiba ada urusan. Padahal itu hal biasa kan? Kita sering menunda janji-janji kita jika terdesak. Tapi saat itu purnama, aku tidak bisa apa-apa. Di kala purnama, kamu tidak terkendali. Maka dari itu..” Banu memotong kalimatnya sambil menghela nafas.

“Aku memutuskan untuk mengalah malam ini. Bukan perihal menang dan kalah, Tira. Tapi energimu jauh lebih besar di malam purnama. Aku merasa terintimidasi. Kalaupun aku melawan, aku hanya membuang sia-sia tenagaku. Percuma, kamu akan selalu berkuasa. Semesta akan selalu memenuhi segala keinginan impulsifmu di setiap purnama.” Kini Banu menunduk, menatap kakinya yang ia tabrak-tabrakkan ke kaki Tira.

“Haha. Begitu ya. Iya ya, kenapa setiap kali purnama aku merasa ada energi besar yang ingin meledak dari dalam diriku. Tapi entah apa, dan enah bagaimana. Jadilah aku yang selalu merupa apapun yang kamu analogikan.” Ucap Tira sambil kembali menatap bulan.

“Entahlah. Mungkin karena gaya gravitasi bulan terhadap bumi? Atau mungkin memang kamu jelmaan serigala, Tir.” Jawab Banu sambil kembali menengadahkan kepalanya ke arah bulan.

“Hmm, entahlah. Tapi terima kasih ya.” Tira menatap Banu sambil tersenyum.

“Sudah malam. Banyak nyamuk. Ayo jalan lagi.” Ajak Banu sambil berdiri.

Tira pun ikut berdiri, mereka kembali melangkah ke utara. Ke tempat yang selalu mereka anggap rumah, di bawah langit utara.

“Selamat menikmati purnama di Kota Kembang, manis.” Bisik Banu perlahan sambil merangkul pundak Tira dan terus berjalan.

Bandung, 27 Oktober 2015

Advertisements