Tags

 

“Di kotaku perempuan sebaiknya tidak berjalan sendirian di malam hari. Berbahaya.”

“Di Krakow?”

“Ya, di Krakow. Berjanjilah padaku untuk mengunjungi rumah mungilku disana. Aku tinggal bersama keluargaku, ada nenekku yang setiap hari merawat bunga mawarnya yang menjalar di pintu rumah. Kamu pasti suka. Akan kubuatkan panekuk hangat setiap pagi bersama secangkir teh.”

“Kedengarannya menyenangkan.”

“Tentu saja! Kamu harus datang ke Krakow. Aku tidak akan pernah kembali ke Bandung, sebelum kamu menemuiku di Krakow.”

Hampir dua tahun berlalu. Nyatanya aku sama sekali belum mendapatkan kesempatan untuk menginjakkan kakiku di Polandia, atau bahkan di secuil pun tanah Eropa.

Hari ini aku duduk di tepi Jalan Braga, tepat dipersimpangan jalan dimana aku pernah berjalan bersama Marek. Malam itu aku kelaparan, di tengah gelak tawa penuh canda di dalam ruang karaoke. Marek yang sudah makan sebelumnya memutuskan untuk menemaniku mencari makan malam, sambil mencari udara segar.

Memoar itu kembali menyeruak. Sekelebat. Hanya kepingan itu saja yang tiba-tiba melintas.

Lalu tanpa sadar aku melontarkan kata-kata, “Mungkin aku bukannya belum mau melanjutkan studiku di Eropa. Tapi aku hanya belum siap.”

Belum siap melepaskan kehidupanku yang menyenangkan disini. Belum siap menahan laju impianku untuk bisa menjejaki setiap inci sudut Indonesia. Belum siap memulai segala sesuatunya di dunia yang baru. Belum siap berjarak dengan segala macam hal yang ada disini. Terlebih lagi, belum siap pergi jauh dalam rentang waktu yang sangat lama dari Bandung.

Selama ini setiap ratusan lidah menanyakanku ‘kenapa?’ selalu kujawab dengan, “Aku belum yakin akan memilih studi yang mana.” Atau, “Aku masih malas untuk belajar lagi.”

Padahal aku tahu persis, bidang keilmuan apa yang akan aku tekuni selanjutnya. Bahkan awal tahun ini aku telah meriset beberapa kampus di Eropa yang bisa memfasilitasi keinginanku, hingga spesifik menjatuhkan pilihan di universitas mana.

Aku pun baru saja tersadar, ternyata selama ini aku mengelak.

Mungkin bukan suatu kebetulan tiba-tiba aku duduk di bangku ini. Melihat sudut kota yang sama seperti waktu itu. Mungkin semesta memang sedang ingin memberitahuku, untuk berani mengakui keresahanku sendiri.

Iya, aku resah. Jika harus memulai segalanya lagi nanti. Sendirian. Dari awal.

Banyak orang bilang memang paling sulit meninggalkan zona nyaman kita. Kini aku sedang berada di zona ternyamanku. Walaupun mungkin teman-temanku yang memiliki kehidupan normal selalu mengernyitkan dahi ketika mendengar caraku menjalani hidup. Mereka menganggap justru kehidupanku ini penuh ancaman, jauh dari rasa aman, jauh dari kenyamanan. Ya, perspektif manusia memang berbeda-beda bukan?

Tapi justru aku sangat merasa aman saat ini. Dan ketika kamu memilih untuk merasa aman, terus menerus berada di zona nyaman, kamu akan banyak kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Kini aku mulai mereka-reka kembali, rencanaku untuk kembali ke bangku kuliah. Ditemani suara kucingku yang meronta-ronta ingin keluar rumah di tengah malam. Mungkin saja aku akan kembali meniti jalan menuju sana di Januari 2016.

Bisa jadi begitu. Atau mungkin saja aku tetap disini, dengan tingkatan tantangan yang baru. Entahlah. Apapun itu, aku selalu yakin apapun yang menantiku akan selalu menyenangkan. Terlebih selama dua-puluh-empat tahun ini semesta selalu berhasil membuktikan, bahwa kehidupan ini luar biasa penuh kejutan yang membahagiakan.

Bandung, 29 Oktober 2015

Advertisements