Sudah terlalu lama dalam keramaian, sudah terlalu lama tidak terjebak dalam kesendirian. Akhirnya hari ini saya memilih untuk sendiri. Setelah sekian lama tidak menikmati kesunyian dalam kamar di rentang waktu yang panjang, karena dua bulan terakhir ini pulang ke rumah hanya unuk cuci baju dan mengepak baju-baju baru ke dalam ransel.

Walau sendiri, tapi saya tidak bisa menikmati waktu untuk diri saya sendiri. Tidak bisa memetik-metik gitar sambil bernyanyi-nyanyi semau saya, membaca buku-buku yang belum selesai saya baca, ataupun menggambar-gambar sesuka hati. Karena tetap saja, walau di rumah, tapi tetap berkutat dengan pekerjaan. Haha.

Jadi hari ini saya berniat menyelesaikan salah satu deadline pekerjaan saya, yaitu untuk transkrip video. Yang perlu saya lakukan sebenarnya hanyalah memutar tumpukan arsip video satu persatu, lalu merubah seua yang ada dala video itu menjadi kata-kata deskriptif. Mungkin tampak mudah, tapi kalau total semua video itu mencapai ukuran 3 TerraBytes saya bisa apa? Hanya bisa bersabar sambil terus menyelesaikannya sedikit demi sedikit. Hehe.

Lalu tibalah saya pada video-video yang menampilkan suasana pedesaan di lereng gunung, dengan rumah-rumah panggung, dan cuaca pedesaan yang berkabut. Tampak sejuk, walau hanya melihat dari video, saya merasa bisa turut merasakan dinginnya udara di pedesaan itu.

Suasana di desa tersebut tampak sedang ramai. Lalu ada segerombalan lelaki paruh baya mendekati seekor sapi yang tampak sehat berkulit cokelat, sedan memakan rumput hijau yang segar dengan lahap. Gerombolan lelaki itu mencoba menarik si sapi, tapi sapi tetap mengelak dan terus melahap rumput.

Akhirnya seseorang berhasil mengikatkan tali ke kepala sapi, da mengikatkannya ke tiang kayu. Sapi pun dipaksa jatuh, badannya dirubuhkan ke tanah. Kini sapi itu diinjak, ditahan kaki-kaki agar sapi tidak bisa kembali berdiri.

Sementara manusia-manusia yang lain menahan tubuh sapi di tanah, saya melihat keresahan yang dipancarkan mata sapi tersebut. Matanya yang besar membelalak, sapi terus memutar-mutarkan matanya. Dia seperti ingin mencerna apa yang sedang terjadi.

Lalu tiba-tiba ada tangan yang menarik kepala sapi. Kini lehernya memanjang, kini sapi tampak mendongak, sapi tidak lagi bisa melihat apa yang dilakukan orang-orang terhadap tubuhnya.

Datanglah seorang lelaki dengan cangkul di tangannya. Memacul tanah yang ada persis disamping leher sapi. Setelah menciptakan sedikit lubang, dating lagi lelaki lain dengan membawa golok. Menancapkannya di lubang yang dicangkul tadi.

Tubuh sapi tampak sedikit meronta. Tapi ia tak kuasa, terlalu banyak manusia yang ingin membuatnya tertahan di tanah. Tubuh saya mulai bergetar, mata saya mulai berkaca-kaca.

Sekarang dating lagi seseorang dengan segenggam tangkai tanaman penuh daun. Ditaruhnya daun-daun itu di leher sapi. Golok mulai dipindahkan, kini mata golok itu sudah menempel di leher sapi, walaupun tidak terlalu jelas karena golok ditaruh dibalik dedaunan. Tapi saya yakin, saya tau persis, mata golok yang tajam itu sudah menyentuh kulit dileher sapi coklat yang cantik.

Lalu perlahan lehernya digorok. Ah, saya tidak sanggup menyaksikan ini. Tanpa sadar air mata mulai menetes di pipi saya.

Sapi.. Huhu.

Saya melewatkan banyak rekaman, karena merasa tidak sanggup melihat si sapi yang sedang di sembelih. Ini bukan kali pertama saya melihat sapi di sembelih. Saya sering melihatnya saat qurban, bahkan saya pernah melihatnya langsung dengan mata kepala saya sendiri. Tapi entah kenapa, kali ini saya rasanya terlalu sentimentil.

Akhirnya masa-masa penggorokan pun selesai. Namun kepala sapi dibiarkan terpotong tidak tuntas, sebagian lehernya tampak masih menyambung ke kepala. Kamera merekamnya sangat jelas, close up. Darah yang keluar dari leher sapi dibiarkan mengalir sampai habis ke dalam lubang yang dicangkul tadi.

Kemudian terdengar suara sapi yang ternyata nyawanya masih belum lenyap sepenuhnya. Suaranya lirih, berat, serak, sapi merintih! Haaaaaaaaaa, sapiiiiiiiii!

Air mata kembali menetes di pipi saya. Entah kenapa. Mungkin kalau ditinjau secara biologis, tangisan ini mungkin untuk keseimbangan tubuh saya yang sudah sangat lama tidak menangis.

Tapi tiba-tiba saja saya terhenyak. Membayangkan apa yang dirasakan oleh sapi cokelat itu. Bagaimana ia bisa tahu, hari indah di lereng gunung yang asri itu, dengan santapan rumput lezat bertebaran dimana-mana, bisa menjadi hari terakhirnya di dunia.

Hanya untuk kepuasan manusia.

Iya, kepuasan menyantap tubuhnya yang lezat.

Saya tiba-tiba mual, mengingat daging burger yang saya santap kemarin bersama Astri sebelum saya bertolak pulang ke Bandung dari Jakarta. Ketika melihat kaki sapi dikuliti dan di potong, saya semakin mual saya pernah mencoba menyantap sop kaki.

Semakin mual lagi ketika mengingat perbincangan saya dengan Nauvael tadi siang. Kita berniat memesan Cheese Burger Pizza dari Pizza Hut nanti malam. Uh, rasanya saya tidak sanggup.

Teringat perbincangan saya tepat kemarin malam diatas hammock bersama Kim. Dia pernah menjadi vegan karena merasa mual setiap kali melihat ayam dan sapi yang akan dia santap. Mual membayangkan proses mereka bisa dihidangkan di piringnya.

Saya juga jadi teringat, perbincangan saya bulan lalu dengan Melanie Subono, ketika saya menjadi LO-nya di acara Buru Baru Fest di Jogja. Ketika saya menanyakan alasannya menjadi vegan, ia bilang karena kita tidak perlu menjadi sekejam itu terhadap binatang untuk bisa makan, untuk bisa melanjutkan hidup.

Mungkin saya rasa saya akan mencoba berhenti makan daging sapi.

Entahlah, rasanya aneh bukan. Ketika saya sangat mengasihani sapi yang disembelih untuk santapan orang lain, tapi saya tetap menyantap daging sapi di lain kesempatan. Sungguh ironi. Mungkin sama seperti ketika kita mengasihani teman kita yang diselingkuhi pacarnya, tapi juga kita tetap melakukan hal yang sama terhadap pacar kita. Ah, maafkan analogi saya yang absurd.

Mungkin memang rasa getir dan tangis saya sore ini bukan semata hanya untuk keseimbangan jiwa dan biologis saya saja. Tapi juga mungkin makna, selain untuk mulai memperbaiki konsumsi yang lebih sehat, tapi juga untuk menghindari makanan-makanan industrialisasi yang menyebabkan penderitaan pada makhluk hidup lainnya.

Lucu juga tapi jika dipikir lebih lanjut. Bagaimana bisa tragedi sapi di Desa Karangan yang terletak di Sulawesi Selatan bisa memberikanku satu pemahaman baru. Padahal itu hanya rekaman semata, tragedi yang telah lalu terjadi. Ah, semesta memang selalu bisa mengatur dengan caranya yang unik bukan?

Terima kasih, Sapi Cokelat. Semoga kamu bahagia, karena sesungguhnya kamu telah membahagiakan seluruh warga kampong dengan dagingmu. Terima kasih juga telah memberikanku pelajaran. Semoga saya lebih bisa menghargai kehidupan teman-temanmu.

Bandung, 28 Oktober 2015

Advertisements