Tags

Aku berjalan menuju tempat tidur, bersiap didekap selimut tebal yang akan menghantarkanku ke mimpi-mimpi indah. Namun kain-kain yang menggantung di depan jendela seakan melambai dan merengek untuk disibak.

Perlahan kubuka. Lalu kuputar kunci dua kali ke arah kiri, menggesernya dan memperhatikan pucuk-pucuk pohon yang menghalangi pemandangan jalanan Kota Bandung di malam hari.

Aku menengadah ke langit. Bulan sabit.

Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja hatiku berbisik, “Semoga kamu menatap bulan separuh yang sama.”

Separuh mungkin tidak sebenderang penuh. Namun separuh bukan berarti padam. Bukan berarti hampa, bukan selalu berarti pincang.

Separuh justru sempurna. Menyeimbangkan separuh lainnya, kemudian bermetamorfose menjadi penuh. Lengkap. Tak tertandingi.

Bahkan bulan pun sama, ia berproses. Tidak serta merta muncul secara penuh.

Perlahan sangat pelan, hingga terang kan menjelang. Dari mati menjadi hidup, dari redup hingga bercahaya.

Terisi sedikit demi sedikit, melewati waktu penuh makna. Ragam kata penuh rasa. Menjiwa satu fase yang membentuknya menjadi kenang yang nyata.

Separuh yang mengawang di angkasa ini menjadi simbol pergerakkan, perubahan. Untuk kembali kosong, kemudian kembali terisi menjadi penuh.

Siklus yang memicu sinisme jika kita tidak bisa mentransformasikannya dalam wujud pensyukuran nikmat.

Sabar. Nikmatilah. Setiap waktu adalah struktur yang tertata. Kini aku separuh, namun aku mulai berjalan pada kamu di arahku untuk menjadi penuh.
The House, 3 November 2015


  

Advertisements