Separuh Menuju Penuh

Tags

Aku berjalan menuju tempat tidur, bersiap didekap selimut tebal yang akan menghantarkanku ke mimpi-mimpi indah. Namun kain-kain yang menggantung di depan jendela seakan melambai dan merengek untuk disibak.

Perlahan kubuka. Lalu kuputar kunci dua kali ke arah kiri, menggesernya dan memperhatikan pucuk-pucuk pohon yang menghalangi pemandangan jalanan Kota Bandung di malam hari.

Aku menengadah ke langit. Bulan sabit.

Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja hatiku berbisik, “Semoga kamu menatap bulan separuh yang sama.”

Separuh mungkin tidak sebenderang penuh. Namun separuh bukan berarti padam. Bukan berarti hampa, bukan selalu berarti pincang.

Separuh justru sempurna. Menyeimbangkan separuh lainnya, kemudian bermetamorfose menjadi penuh. Lengkap. Tak tertandingi.

Bahkan bulan pun sama, ia berproses. Tidak serta merta muncul secara penuh.

Perlahan sangat pelan, hingga terang kan menjelang. Dari mati menjadi hidup, dari redup hingga bercahaya.

Terisi sedikit demi sedikit, melewati waktu penuh makna. Ragam kata penuh rasa. Menjiwa satu fase yang membentuknya menjadi kenang yang nyata.

Separuh yang mengawang di angkasa ini menjadi simbol pergerakkan, perubahan. Untuk kembali kosong, kemudian kembali terisi menjadi penuh.

Siklus yang memicu sinisme jika kita tidak bisa mentransformasikannya dalam wujud pensyukuran nikmat.

Sabar. Nikmatilah. Setiap waktu adalah struktur yang tertata. Kini aku separuh, namun aku mulai berjalan pada kamu di arahku untuk menjadi penuh.
The House, 3 November 2015


  

Ronta Kata Di Deru Hidup

Tags

Ada hal-hal, banyak hal-hal, dalam hidup yang memang tidak bisa dipertanyakan. Walaupun hidup sendiri memang berisi dan dipenuhi oleh tanda tanya. Jawabannya bisa saja kita temukan dengan mencari tanpa jemu, atau bahkan jawab-jawab dari jutaan tanya-tanya itu bisa saja tiba-tiba muncul tanpa diminta. Tapi seringkali kita baru akan menemui pemahaman, ketika kita menghempaskan tanya-tanya itu ke udara, mencairkannya dan larut di samudera, lalu kemudian mengikhlaskan diri bahwa kita tidak akan pernah bertemu dengan jawaban yang susah payah kita cari.

Hidup itu berupa suratan, yang telah tertulis jauh sebelum kita memilih. Kadang yang kita rasa baik, yang kita perjuangkan, bisa saja sirna seketika. Jika takdir mulai mengambil perannya. Ketika itu, hidup bukan lagi menjadi pilihan.

Sesaat sempat sepakat, hidup ini serupa jalan cerita di buku Goosebumps. Banyak pilihan yang tertera, akhir dari ceritanya pun berbeda-beda, tergantung jalan yang kita pilih. Kalau kita salah memilih jalan yang berakibat buruk, kita cukup mebalik halaman sebelumnya, lalu beranjak ke pilihan dengan akhir yang baik.

Namun hidup tidak sesederhana itu. Merubah keadaan menjadi lebih baik pun tidak sesingkat membalikan lembar-lembar buku yang kusam akibat sering dibolak-balikkan karena berulang kali salah memilih. Juga, apapun yang kita lakukan. Apapun yang kita perbaiki. Sekali lagi, ketika takdir telah mengambil peran dan mencela pilihan, tidak ada lagi yang bisa kita perbuat.

Seperti ingin menuju ke puncak gunung, beribu kali pun kita berusaha mencari jalan kesana. Mengorbankan segala macam hal hingga mungkin sampai di selangkah sebelum menggapai puncak yang kita perjuangkan, jika takdir berkata tidak. Maka tidak akan pernah kita menjejak disana.

Mungkin terasa menyebalkan. Terlebih ketika kita sibuk menerka-nerka akhir dibalik semua awal yang telah kita mulai, semua terasa menggemaskan. Rasa-rasanya ingin sekali membeli mesin waktu milik Doraemon, hanya untuk meyakinkan diri kita di masa kini untuk tetap tenang, karena kita telah mengetahui bahwa diri kita di masa depan akan baik-baik saja.

Tapi bukankah hidup ini sebuah petualangan? Perjalanan tentang perjuangan, pengorbanan, kegagalan, keberhasilan, bahagia, derita, kenikmatan, kesengsaraan, kebanggaan, penindasan, keberterimaan, penolakan, dan jutaan rasa-rasa lainnya yang menjadi tujuan dianugerahkannya hati dan perasaan pada manusia oleh Sang Pencipta.

Biar saja diri ini merasa kuasa dapat menuliskan kisah hidup seperti apa yang diinginkan, walaupun pada hakikatnya semua telat digariskan. Biar saja diri ini mensyukuri segala bahagia dan derita, pada nyatanya semua yang menerpa kita adalah yang terbaik untuk diri kita.

Kadang kita meronta, berteriak, menghakimi ketidakadilan kehidupan di dunia. Seringkali setetes keluh menghancurkan sebelangga nikmat yang selalu lupa kita syukuri. Padahal hidup menghadiahi kita dengan rasa untuk syukur, agar kita bisa menikmati apapun yang terjadi, tetap bisa tersenyum menjalani bagaimanapun yang disuguhi hari-hari.

Jadi, nikmati saja. Karena semua ini menyenangkan, apapun pilihanmu.

Nikmati saja?

Ya, nikmatilah.

Tulamben, 14 Oktober 2015

Pengakuan Di Sudut Kota

Tags

 

“Di kotaku perempuan sebaiknya tidak berjalan sendirian di malam hari. Berbahaya.”

“Di Krakow?”

“Ya, di Krakow. Berjanjilah padaku untuk mengunjungi rumah mungilku disana. Aku tinggal bersama keluargaku, ada nenekku yang setiap hari merawat bunga mawarnya yang menjalar di pintu rumah. Kamu pasti suka. Akan kubuatkan panekuk hangat setiap pagi bersama secangkir teh.”

“Kedengarannya menyenangkan.”

“Tentu saja! Kamu harus datang ke Krakow. Aku tidak akan pernah kembali ke Bandung, sebelum kamu menemuiku di Krakow.”

Hampir dua tahun berlalu. Nyatanya aku sama sekali belum mendapatkan kesempatan untuk menginjakkan kakiku di Polandia, atau bahkan di secuil pun tanah Eropa.

Hari ini aku duduk di tepi Jalan Braga, tepat dipersimpangan jalan dimana aku pernah berjalan bersama Marek. Malam itu aku kelaparan, di tengah gelak tawa penuh canda di dalam ruang karaoke. Marek yang sudah makan sebelumnya memutuskan untuk menemaniku mencari makan malam, sambil mencari udara segar.

Memoar itu kembali menyeruak. Sekelebat. Hanya kepingan itu saja yang tiba-tiba melintas.

Lalu tanpa sadar aku melontarkan kata-kata, “Mungkin aku bukannya belum mau melanjutkan studiku di Eropa. Tapi aku hanya belum siap.”

Belum siap melepaskan kehidupanku yang menyenangkan disini. Belum siap menahan laju impianku untuk bisa menjejaki setiap inci sudut Indonesia. Belum siap memulai segala sesuatunya di dunia yang baru. Belum siap berjarak dengan segala macam hal yang ada disini. Terlebih lagi, belum siap pergi jauh dalam rentang waktu yang sangat lama dari Bandung.

Selama ini setiap ratusan lidah menanyakanku ‘kenapa?’ selalu kujawab dengan, “Aku belum yakin akan memilih studi yang mana.” Atau, “Aku masih malas untuk belajar lagi.”

Padahal aku tahu persis, bidang keilmuan apa yang akan aku tekuni selanjutnya. Bahkan awal tahun ini aku telah meriset beberapa kampus di Eropa yang bisa memfasilitasi keinginanku, hingga spesifik menjatuhkan pilihan di universitas mana.

Aku pun baru saja tersadar, ternyata selama ini aku mengelak.

Mungkin bukan suatu kebetulan tiba-tiba aku duduk di bangku ini. Melihat sudut kota yang sama seperti waktu itu. Mungkin semesta memang sedang ingin memberitahuku, untuk berani mengakui keresahanku sendiri.

Iya, aku resah. Jika harus memulai segalanya lagi nanti. Sendirian. Dari awal.

Banyak orang bilang memang paling sulit meninggalkan zona nyaman kita. Kini aku sedang berada di zona ternyamanku. Walaupun mungkin teman-temanku yang memiliki kehidupan normal selalu mengernyitkan dahi ketika mendengar caraku menjalani hidup. Mereka menganggap justru kehidupanku ini penuh ancaman, jauh dari rasa aman, jauh dari kenyamanan. Ya, perspektif manusia memang berbeda-beda bukan?

Tapi justru aku sangat merasa aman saat ini. Dan ketika kamu memilih untuk merasa aman, terus menerus berada di zona nyaman, kamu akan banyak kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Kini aku mulai mereka-reka kembali, rencanaku untuk kembali ke bangku kuliah. Ditemani suara kucingku yang meronta-ronta ingin keluar rumah di tengah malam. Mungkin saja aku akan kembali meniti jalan menuju sana di Januari 2016.

Bisa jadi begitu. Atau mungkin saja aku tetap disini, dengan tingkatan tantangan yang baru. Entahlah. Apapun itu, aku selalu yakin apapun yang menantiku akan selalu menyenangkan. Terlebih selama dua-puluh-empat tahun ini semesta selalu berhasil membuktikan, bahwa kehidupan ini luar biasa penuh kejutan yang membahagiakan.

Bandung, 29 Oktober 2015

Sapi Di Karangan

Sudah terlalu lama dalam keramaian, sudah terlalu lama tidak terjebak dalam kesendirian. Akhirnya hari ini saya memilih untuk sendiri. Setelah sekian lama tidak menikmati kesunyian dalam kamar di rentang waktu yang panjang, karena dua bulan terakhir ini pulang ke rumah hanya unuk cuci baju dan mengepak baju-baju baru ke dalam ransel.

Walau sendiri, tapi saya tidak bisa menikmati waktu untuk diri saya sendiri. Tidak bisa memetik-metik gitar sambil bernyanyi-nyanyi semau saya, membaca buku-buku yang belum selesai saya baca, ataupun menggambar-gambar sesuka hati. Karena tetap saja, walau di rumah, tapi tetap berkutat dengan pekerjaan. Haha.

Jadi hari ini saya berniat menyelesaikan salah satu deadline pekerjaan saya, yaitu untuk transkrip video. Yang perlu saya lakukan sebenarnya hanyalah memutar tumpukan arsip video satu persatu, lalu merubah seua yang ada dala video itu menjadi kata-kata deskriptif. Mungkin tampak mudah, tapi kalau total semua video itu mencapai ukuran 3 TerraBytes saya bisa apa? Hanya bisa bersabar sambil terus menyelesaikannya sedikit demi sedikit. Hehe.

Lalu tibalah saya pada video-video yang menampilkan suasana pedesaan di lereng gunung, dengan rumah-rumah panggung, dan cuaca pedesaan yang berkabut. Tampak sejuk, walau hanya melihat dari video, saya merasa bisa turut merasakan dinginnya udara di pedesaan itu.

Suasana di desa tersebut tampak sedang ramai. Lalu ada segerombalan lelaki paruh baya mendekati seekor sapi yang tampak sehat berkulit cokelat, sedan memakan rumput hijau yang segar dengan lahap. Gerombolan lelaki itu mencoba menarik si sapi, tapi sapi tetap mengelak dan terus melahap rumput.

Akhirnya seseorang berhasil mengikatkan tali ke kepala sapi, da mengikatkannya ke tiang kayu. Sapi pun dipaksa jatuh, badannya dirubuhkan ke tanah. Kini sapi itu diinjak, ditahan kaki-kaki agar sapi tidak bisa kembali berdiri.

Sementara manusia-manusia yang lain menahan tubuh sapi di tanah, saya melihat keresahan yang dipancarkan mata sapi tersebut. Matanya yang besar membelalak, sapi terus memutar-mutarkan matanya. Dia seperti ingin mencerna apa yang sedang terjadi.

Lalu tiba-tiba ada tangan yang menarik kepala sapi. Kini lehernya memanjang, kini sapi tampak mendongak, sapi tidak lagi bisa melihat apa yang dilakukan orang-orang terhadap tubuhnya.

Datanglah seorang lelaki dengan cangkul di tangannya. Memacul tanah yang ada persis disamping leher sapi. Setelah menciptakan sedikit lubang, dating lagi lelaki lain dengan membawa golok. Menancapkannya di lubang yang dicangkul tadi.

Tubuh sapi tampak sedikit meronta. Tapi ia tak kuasa, terlalu banyak manusia yang ingin membuatnya tertahan di tanah. Tubuh saya mulai bergetar, mata saya mulai berkaca-kaca.

Sekarang dating lagi seseorang dengan segenggam tangkai tanaman penuh daun. Ditaruhnya daun-daun itu di leher sapi. Golok mulai dipindahkan, kini mata golok itu sudah menempel di leher sapi, walaupun tidak terlalu jelas karena golok ditaruh dibalik dedaunan. Tapi saya yakin, saya tau persis, mata golok yang tajam itu sudah menyentuh kulit dileher sapi coklat yang cantik.

Lalu perlahan lehernya digorok. Ah, saya tidak sanggup menyaksikan ini. Tanpa sadar air mata mulai menetes di pipi saya.

Sapi.. Huhu.

Saya melewatkan banyak rekaman, karena merasa tidak sanggup melihat si sapi yang sedang di sembelih. Ini bukan kali pertama saya melihat sapi di sembelih. Saya sering melihatnya saat qurban, bahkan saya pernah melihatnya langsung dengan mata kepala saya sendiri. Tapi entah kenapa, kali ini saya rasanya terlalu sentimentil.

Akhirnya masa-masa penggorokan pun selesai. Namun kepala sapi dibiarkan terpotong tidak tuntas, sebagian lehernya tampak masih menyambung ke kepala. Kamera merekamnya sangat jelas, close up. Darah yang keluar dari leher sapi dibiarkan mengalir sampai habis ke dalam lubang yang dicangkul tadi.

Kemudian terdengar suara sapi yang ternyata nyawanya masih belum lenyap sepenuhnya. Suaranya lirih, berat, serak, sapi merintih! Haaaaaaaaaa, sapiiiiiiiii!

Air mata kembali menetes di pipi saya. Entah kenapa. Mungkin kalau ditinjau secara biologis, tangisan ini mungkin untuk keseimbangan tubuh saya yang sudah sangat lama tidak menangis.

Tapi tiba-tiba saja saya terhenyak. Membayangkan apa yang dirasakan oleh sapi cokelat itu. Bagaimana ia bisa tahu, hari indah di lereng gunung yang asri itu, dengan santapan rumput lezat bertebaran dimana-mana, bisa menjadi hari terakhirnya di dunia.

Hanya untuk kepuasan manusia.

Iya, kepuasan menyantap tubuhnya yang lezat.

Saya tiba-tiba mual, mengingat daging burger yang saya santap kemarin bersama Astri sebelum saya bertolak pulang ke Bandung dari Jakarta. Ketika melihat kaki sapi dikuliti dan di potong, saya semakin mual saya pernah mencoba menyantap sop kaki.

Semakin mual lagi ketika mengingat perbincangan saya dengan Nauvael tadi siang. Kita berniat memesan Cheese Burger Pizza dari Pizza Hut nanti malam. Uh, rasanya saya tidak sanggup.

Teringat perbincangan saya tepat kemarin malam diatas hammock bersama Kim. Dia pernah menjadi vegan karena merasa mual setiap kali melihat ayam dan sapi yang akan dia santap. Mual membayangkan proses mereka bisa dihidangkan di piringnya.

Saya juga jadi teringat, perbincangan saya bulan lalu dengan Melanie Subono, ketika saya menjadi LO-nya di acara Buru Baru Fest di Jogja. Ketika saya menanyakan alasannya menjadi vegan, ia bilang karena kita tidak perlu menjadi sekejam itu terhadap binatang untuk bisa makan, untuk bisa melanjutkan hidup.

Mungkin saya rasa saya akan mencoba berhenti makan daging sapi.

Entahlah, rasanya aneh bukan. Ketika saya sangat mengasihani sapi yang disembelih untuk santapan orang lain, tapi saya tetap menyantap daging sapi di lain kesempatan. Sungguh ironi. Mungkin sama seperti ketika kita mengasihani teman kita yang diselingkuhi pacarnya, tapi juga kita tetap melakukan hal yang sama terhadap pacar kita. Ah, maafkan analogi saya yang absurd.

Mungkin memang rasa getir dan tangis saya sore ini bukan semata hanya untuk keseimbangan jiwa dan biologis saya saja. Tapi juga mungkin makna, selain untuk mulai memperbaiki konsumsi yang lebih sehat, tapi juga untuk menghindari makanan-makanan industrialisasi yang menyebabkan penderitaan pada makhluk hidup lainnya.

Lucu juga tapi jika dipikir lebih lanjut. Bagaimana bisa tragedi sapi di Desa Karangan yang terletak di Sulawesi Selatan bisa memberikanku satu pemahaman baru. Padahal itu hanya rekaman semata, tragedi yang telah lalu terjadi. Ah, semesta memang selalu bisa mengatur dengan caranya yang unik bukan?

Terima kasih, Sapi Cokelat. Semoga kamu bahagia, karena sesungguhnya kamu telah membahagiakan seluruh warga kampong dengan dagingmu. Terima kasih juga telah memberikanku pelajaran. Semoga saya lebih bisa menghargai kehidupan teman-temanmu.

Bandung, 28 Oktober 2015

28 Oktober 2015

Tags

Pemuda di masa lampau telah mengikrarkan satu janji, untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Indonesia.

Semangat perjuangan pemuda kala itu telah membuahkan kemerdekaan bangsa yang dapat kita nikmati hingga detik ini. Walaupun kita memang belum sepenuhnya merdeka.

Kita seringkali terbelenggu rezim yang mengikis rasa nasionalisme, rasa yang semestinya hadir di setiap nurani bangsa. Tertindas kapitalisme, terpecah individualisme, terbakar oleh dogma-dogma yang ditanamkan untuk mematikan idealisme.

Soekarno benar, kita sedang terjebak pada perlawanan terberat. Yaitu melawan bangsa kita sendiri.

Dalam perlawanan semu ini yang bisa kita lakukan adalah bersatu, menyatukan segala asa untuk mewujud cita yang nyata. Berkarya untuk kebaikan dan kebermanfaatan bersama.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. 

Semoga semua sumpah kita untuk Merah Putih tidak hanya berakhir di lidah, tapi juga berakar dari hati, dan bermuara nyata pada aksi.