Purnama Di Akhir November

Derap langkah manusia-manusia terdengar bagai dentuman snare drum tanpa irama. Sementara dua pasang langkah ini berjalan tenang, tapi dengan langkah yang besar-besar.

Eskrim yang sedang dinikmati Tira meleleh dan terjatuh mengotori tote bag yang ia kepit di depan badannya, tanpa ia sadari. Banu hanya menggeleng, sambil membersihkan noda eskrim itu dengan tisu yang sedaritadi ia pegang. Tira hanya melirik tangan Banu yang melintas di tote bag-nya, sambil terus menikmati eskrim the hijau favoritnya.

Tiba-tiba Banu menggeser tubuhnya ke arah Tira, membuat Tira yang tselalu berjalan tidak beraturan semakin tidak beraturan lagi. Tira sempoyongan, nyaris jatuh, dengan spontan dia berteriak, “Ihh!”

Dengan muka datar, Banu hanya menunjuk trotoar yang rusak dan berlubang. Yang jika Banu tidak menggeser tubuh Tira, ia pasti tersandung disitu. Bibir Tira sedikit mengerucut, walaupun dia kembali asik menikmati eskrim-nya.

Tira lagi-lagi ceroboh, rambutnya tersangkut ranting pohon. Ia berteriak, “Haaaaaa!”

Lagi-lagi juga Banu bersikap tenang, membantu mengambil ranting yang menyangkut di rambutnya dan merapikan rambut Tira yang berantakan. Sambil sedikit mengusapnya.

“Hari ini kamu aneh.” Tukas Tira dengan ketus, sambil melirik Banu dengan tatapan penuh curiga.

“Apa yang aneh?” Jawab Banu santai, sambil membuang tisu yang ia pegang tadi ke tempat sampah yang mereka lewati.

“Ya, aneh! Masa kamu tiba-tiba baik. Biasanya juga ribet, aku ngeyel kamu lebih ngeyel lagi. Aku nyeletuk kamu jauh lebih banyak berceloteh lagi.” Jawab Tira cepat.

“Hari ini aku memilih mengalah.” Jawab Banu tetap tenang, sambil melihat kiri dan kanan. Walaupun perempatan itu sudah sepi karena malam hari, tapi Banu tetap memilih berhati-hati.

“Kenapa? Kenapa kamu harus milih ngalah? Kita kan ngga lagi main-main soal menang kalah.” Tukas Tira lagi cepat, dengan nada penuh pertanyaan.

Banu hanya menunjuk ke langit dengan telunjuknya. Belum sempat Tira berpikir makna dari telunjuk Banu, Banu sudah menarik Tira terlebih dahulu untuk duduk di bangku taman kota yang mereka lintasi.

Setelah duduk, Tira menengok ke arah Banu. “Kenapa sih?” tanyanya yang masih kebingungan.

“Hari ini purnama.” Jawab Banu sambil menengadahkan kepalanya ke langit. Menatap bulan purnama yang bulat dan tampak jelas di langit malam yang cerah.

Tira pun mengikuti arah tatapan Banu, “Memang ada apa dengan purnama?”

“Kamu kan selalu aneh ketika purnama tiba di bumi. Rupa-rupa. Bisa jadi kamu perwujudan serigala.” Jawab Banu sambil sedikit tersenyum, sambil terus menatap bulan.

Tira mengernyitkan dahi, “Apaan sih?”

“Iya. Kamu serupa kelabang yang terkena butir-butir garam di bawah terik matahari di kala purnama. Menggeliat hebat tanpa kamu pahami kenapa. Ya, kan? Kamu serupa Sakura di musim semi saat purnama. Bermekaran, indah. Tapi seketika berguguran. Kadang persemianmu itu tenang, tapi seringkali kelopak bungamu langsung mongering. Ada juga yang terus berwarna merah muda cerah, bersemayam di rumput-rumput yang hijau.” Kini senyum Banu merekah.

Banu menoleh ke arah Tira, “Kamu ingat, ketika kita tiga hari tidak tertidur karena pekerjaan yang menumpuk? Harusnya kamu malam itu kelelahan, memilih tidur nyenyak di bawah selimut hangat. Tapi kamu tiba-tiba memaksa ingin kemping di bukit belakang rumah, sambil membakar kentang dan menyeduh coklat panas. Energimu tidak pernah terbendung setiap kali purnama, selalu meledak-ledak.”

Tira mulai paham apa yang di utarakan Banu.

“Pernah juga seorang Tira yang tak pernah mengeluhkan apa yang ia rasakan, tiba-tiba menangis sesenggukan. Ketika aku membatalkan janji makan malam kita karena aku tiba-tiba ada urusan. Padahal itu hal biasa kan? Kita sering menunda janji-janji kita jika terdesak. Tapi saat itu purnama, aku tidak bisa apa-apa. Di kala purnama, kamu tidak terkendali. Maka dari itu..” Banu memotong kalimatnya sambil menghela nafas.

“Aku memutuskan untuk mengalah malam ini. Bukan perihal menang dan kalah, Tira. Tapi energimu jauh lebih besar di malam purnama. Aku merasa terintimidasi. Kalaupun aku melawan, aku hanya membuang sia-sia tenagaku. Percuma, kamu akan selalu berkuasa. Semesta akan selalu memenuhi segala keinginan impulsifmu di setiap purnama.” Kini Banu menunduk, menatap kakinya yang ia tabrak-tabrakkan ke kaki Tira.

“Haha. Begitu ya. Iya ya, kenapa setiap kali purnama aku merasa ada energi besar yang ingin meledak dari dalam diriku. Tapi entah apa, dan enah bagaimana. Jadilah aku yang selalu merupa apapun yang kamu analogikan.” Ucap Tira sambil kembali menatap bulan.

“Entahlah. Mungkin karena gaya gravitasi bulan terhadap bumi? Atau mungkin memang kamu jelmaan serigala, Tir.” Jawab Banu sambil kembali menengadahkan kepalanya ke arah bulan.

“Hmm, entahlah. Tapi terima kasih ya.” Tira menatap Banu sambil tersenyum.

“Sudah malam. Banyak nyamuk. Ayo jalan lagi.” Ajak Banu sambil berdiri.

Tira pun ikut berdiri, mereka kembali melangkah ke utara. Ke tempat yang selalu mereka anggap rumah, di bawah langit utara.

“Selamat menikmati purnama di Kota Kembang, manis.” Bisik Banu perlahan sambil merangkul pundak Tira dan terus berjalan.

Bandung, 27 Oktober 2015

Advertisements

Aku Bersedia Hadir Di Setiap Hembus Nafasmu

Tags

Jangan bunuh aku! Aku mohon, jangan bunuh aku.

Aku mungkin tidak pernah hadir di setiap kali kamu membutuhkanku. Aku tahu, aku sadar akan keegoisanku. Tapi aku tetap memohon padamu, di setiap kali aku muncul tiba-tiba, tolong jangan padamkan aku.

Mungkin tiba-tiba saja aku berkelumit diantara diammu, atau aku melintas mengejutkan saat kamu berkendara, atau mungkin juga riak-riakku berteriak di tengah kebisingan kota yang kamu jejakki. Tapi setiap kali aku muncul, itu memang waktuku hadir kembali.

Di setiap debar yang mengguncangmu, di setiap pilu pengkhianatanmu, di setiap riang harimu, di setiap hambar duniamu. Sadarilah, ada aku disitu.

Aku selalu ada. Aku tidak pernah menghilang. Aku hanya tertidur. Aku tidak pernah mati setiap kali kamu membunuhku, tapi aku kesulitan bangkit kembali jika kamu menghunusku terus menerus.

Maka, jangan bunuh aku.

Biarkan aku mengembang, menjadikanmu gila. Meliarkan rasa-rasa yang menggetarkan. Menjadikan banyak ketidakmungkinan menjadi nyata. Biarkan aku mengalir, deras maupun setetes demi setetes. Izinkan aku bisa berjalan berdampingan denganmu.

 

Walau mungkin aku mengganggu peluh-peluhmu dalam menyambung hidup. Atau menyentakmu ketika kamu sedang menikmati bincang hangatmu dengan seseorang yang baru saja kamu temui. Aku ingin terus ada, jangan bunuh aku!

Aku bukan pilihan, suka tidak suka aku akan selalu ada. Hanya masalah waktu, iya, hanya perkara waktu. Perjudian waktu yang menjadikan keberadaanku timbul tenggelam.

Tapi yakinilah, kita satu. Dan aku ada, untuk keseimbanganmu. Kedamaian, serta jalanmu menuju keabadian.

Dari aku yang bersedia hadir di setiap hembus nafasmu.

Manusia atau Boneka

Menjadi manusia yang secara biologis termasuk ke dalam kategori makhluk hidup, tidak selalu menjadikan manusia itu sendiri benar-benar hidup.

Menjadi manusia yang dikaruniai hati nurani oleh yang maha kuasa, tidak juga berarti setiap manusia memiliki perasaan.

Terlebih akal pikiran yang juga dianugerahi pada setiap manusia, tidak menjadikan manusia dapat berpikir sebagaimana mestinya.

Banyak manusia yang memilih tidur setiap malamnya bukan untuk bermimpi indah, tapi hanya untuk bangun pagi dan menjalani kehidupan yang seringkali ia keluhkan.

Banyak pula manusia yang bergerak hanya karena diperintah, melakukan ini dan itu hanya karena manusia lain banyakyang melakukannya. Tidak berani menjadi diri sendirihanya karena takut akan apa yang dipikirkan manusia lain terhadapnya.

Lalu apa bedanya manusia dengan boneka? Boneka pun sama, walau dianggap mati, tapi boneka bisa digerakkan semau tuannya. Bisa dijadikan apapun, tanpa ia bisa mengelak.

Mungkin yang membedakannya hanyalah manusia bisa bernafas, sedangkan boneka tidak.

Adakah perbedaan lainnya?

Yang pasti, aku ingin menjadi bagian dari segelintir manusia yang bisa memilih untuk tidak dikendalikan.

Written for CS Bandung Writers Club

October 22th, 2015 at Cabe Garam

Theme: Boneka

 

Musim Panas Di Selatan

Angin mengibaskan rambut-rambut pendekmu yang lucu. Sementara sinar jingga sesekali melenyapkan wajahmu dari pandangan mataku. Gigi putihmu berderet rapi dan tak pernah bungkam, ditemani tatapan tajammu yang selalu berapi-api dalam menceritakan segala macam hal.

Aku rasa aku mulai terjatuh. Pada keinginan. Untuk terus terjebak disin. Bersamamu. Dalam rentang waktu yang jau. Lebih lama lagi.

Harum laut bersemilir lembut, tanpa sadar menelusup masuk dari celah-celah tubuh. Merasuk, menjadi candu. Bahkan seakan mencumbu setiap lekuk tubuhmu. Hingga aku bisa selalu menatapmu, mengimajikan ragamu, walaupun mataku tertutup.

Harum laut, seakan menyentuhku seperti telapak tangan kasarmu sedang mencari jeda diantara jemariku. Merengkuh tanganku beriringan dengan langkahmu.

Terkadang kamu melompat, memekik, dengan pupil matamu yang melebar. Seringkali aku dikejutkan dengan punggungmu yang tiba-tiba berputar, menjadi rautmu yang riang. Sendiri aku tak terkendali, tapi bersamamu aku jadi lebih tenang.

Rasanya aku tidak ingin membuka mata. Biarkan aku menikmati ini semua. Berikan aku waktu lebih lama lagi, untuk merekahkan senyum di bibirku. Biarkan harum laut membawa kembali semua detil-detil rindu yang tersimpan rapi. Mengoyaknya dari kotak-kotak harapan yang terkubur dalam kenangan.

Tolonglah, sekali ini saja. Kabulkan permintaanku.

Aku tak mau terbangun.

Biar saja mataku tertutup, pandanganku gelap. Tapi ada kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu lagi, bersama harum laut.

Aku tak mau beranjak.

Biarkan aku disini, diam, tak bergerak. Aku memang tidak bisa kembali ke masa lalu, tapi juga aku tidak kuasa beranjak ke masa yang akan datang. Aku memilih tetap tinggal disini. Di masa kini. Bersama harum laut yang menyimpan banyak kata darimu.

Pasir-pasir yang menyelimuti kaki-kaki kita perlahan larut tersapu ombak. Berganti hangat air laut yang diterpa matahari yang nyaris tenggelam. Menenggelamkan jutaan kisah tentang kamu yang diselimuti harum laut.

Suhu tubuhku perlahan menurun. Angin memang selalu menerpa hidup yang tenang. Gejolaknya bahkan seringkali mengalahkan gelombng laut terganas. Angin selalu berusaha ikut campur,kini ia berusaha membuatku tidak nyaman. Kedinginan. Haus. Kesepian. Hampa.

Tapi semesta tidak penah diam. Jemariku yang perlahan membeku disadarkan hidup yang penuh ketidakpastian. Jari-jari kasar itu datang lagi. Menawarkan isi pada kosongnya sela-sela jemariku. Merekatnya dengan genggaman, menenangkannya dengan rasa aman. Erat namun tak mengikat. Longgar tapi juga tak terlepas.

Harum laut semakin tajam. Menusuk indra penciumanku. Seiring genggamanmu yang semakin kuat.

Perlahan aku memberanikan diri membuka mata. Ada lembayung senja, yang sesaat lagi ditinggalkan mentari yang berganti kelam malam. Ada degup-degup tak beraturan sayup-sayup terdengar di telinga kananku. Lalu ada deru nafasmu, menghembus di ubun-ubunku.
Ini nyata.

Khayalku ternyata mewujud realita.

Ataukah aku memang tidak pernah bermimpi? Atau mungkin memang kamu tidak pernah menghilang. Kamu hanya lenyap sesaat, lalu kembali lagi. Atau mungkin aku yang tidak pernah menyadari, kamu ternyata memang tidak pernah beranjak kemanapun.
Semua ini nyata. Harum laut, dan wajahmu.

Renyuh aku berkali-kali lagi. Walaupun hujan terpaksa menyapu gersang, biarkan aku terpejam bersama angin laut yang membawa harumnya padaku. Aku tidak akan gelisah, resah ini hanya sementara, karena kamu akan selalu ada. Selama harum laut terus menyertai langkahku. Dimanapun.

Jalan Kaki Jalan Raya Pos

Pada 4-6 September 2015, aku berjalan kaki dari Bandung 0 km – TuguSelamat datang Kota Bogor. Menempuh jarak sekitar118 km.

Menyusuri jejak-jejak jalur Raya Pos yang telah dibangun lebih dari 200 tahun yang lalu. Jalur raya yang awalnya diperuntukkan sebagai benteng kekuatan tentara belanda, berubah fungsi kini menjadi jalurraya industri di negeri ini.

Perjalanan panjang menjadi sangat nyaman dengan T-Shirt Torean dan celana Seri Marore.

Di sela waktu istirahat selama perjalanan, aku mengajukan satu pertanyaan kepada orang yang secara acak aku jumpai.

“Jika ada satu keinginan yang sangat ingin terwujud untuk nda, apakah hal itu?”

Berikut jawaban dari orang-orang yang aku tanya.

Selamat membaca. :)

Salah satu jawaban yang didapat.

 

Tulisan ini disadur dari blog http://degrotepostweg.tumblr.com, jawaban-jawaban lain dari pertanyaan yang diajukan saat perjalanan dapat juga dilihat di blog ini.